Monday, 11 June 2012

Mahluk Sosial Bukan Berarti Bersosial di Manapun

Julian Cholse


Ilustrasi Ketagihan Berjejaring Sosial



Manusia tak akan dapat hidup sendirian secara layak, layak yang dimaksudkan adalah mempunyai kebahagaiaan, kecukupan dan merasa lengakap dalam dirinya. Oleh karena itu, manusia membutuhkan orang lain untuk mampu hidup dengan layak agar mampu mengatasi permasalahan dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dewasa ini, perkembangan zaman semakin terasa dalam kehidupan bermasyarakat, salah satudampak perkembangan zaman adalah penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Peranan teknologi begitu banyak terasa dalam kehidupan manusia dewasa ini, hampir semua kegiatan manusia disokong dan dibantu oleh teknologi. Salah satu pengaruh teknologi adalah dalam kaitannya dengan aktivitas sosial masyarakat. Kegiatan bersosial dengan teknologi sekarang ini membuat dunia menjadi tanpa batas, seorang yang berada dibelahan bumi lain menjadi hanya sejarak mata saja ke layar monitor atau ponsel.

Kegiatan sosial dengan teknologi didukung oleh beragam macam alat, sebut saja Facebook, Twitter, Blackberry Messager (BBM), Short Message Service (SMS), Telepon, atau hal lainnya. Akibat teknologi tersebut dampaknya terhadap kegiatan sosial tentunya berdampak banyak, beberapa mengarah kepada keefektifan dan efisiensi dan beberapa lagi mengarah kepada mengarah kepada penggunaan yang salah menjadikannya sebagai alat yang merusak dirinya. Bagimana maksudnya? Bisa anda bayangkan berapa banyak kegunaan Skype atau aplikasi Call Conference lainnya bagi suatu perusahaan? Mereka yang ingin menghadiri rapat kebelahan bumi lain tidak perlu melakukan penerbangan berjam-jam bukankah itu menghemat biaya dan waktu?

Indonesia menjadi salah satu jawara dalam berjejaring sosial, ini dibuktikan dengan posisi Indonesia yang tak pernah lepas dari 3 besar pengguna jejaringan sosia besar dunia sebut saja Facebok, Twitter dan BBM bahkan dalam penggunaan BBM Indonesia menjadi Raja dunia. Sadar atau tidak banyak orang-orang yang telah terperdaya olehnya, anak Sekolah Dasar sekalipun banyak mempunyai akun-akun jajring sosial baik hanya sekedar update status “Lebai, cinta, sharing, pamer” atau mencari teman atau bahkan bermain games yang di tawarkan jejaring sosial tersebut. Lambat laun kebiasaan demikaian akan membuat seorang menjadi kecanduan untuk melakukanya lagi dan lagi hingga melupakan apa yang menjadi focus utamanya. Kecanduan akan hal demikan pasti akan membuat kehidupan sosial anak terganggu, bukan hanya itu perkembangan otak akan terhambat dan akan mempunyai kecendrungan lack dalam berbicara secara langsung kepada orang lain, namun dalam kehidupan maya dialah rajanya.

Dampak jejaring sosial bukan hanya dialami oleh anak-anak dibawah umur saja, bahkan remaja dan dewasa sekalipun banyak yang kecanduan akan hal ini padahal seharusnya mereka sudah tau memilah-milah waktu yang tepat untuk melakukan kegiatan tersebut. Satu buah cerita dari teman saya yang baru saja pulang dari negeri seberang. Dia mengamati pola hidup sosial masyarakat disana, apa yang dia dapatkan adalah kehidupan sosial disana masih terjalin dengan sangat baik. Ketika satu keluarga berkumpul bersama keluarga mereka atau teman mereka maka tak akan ada dering Ponsel, BBM atau sejenisnya tak aka nada browsing, facebookan saat berkumpul bersama. Bandingkan dengan orang-orang disekitar anda, banyak siswa dan mahasiswa menggunakan ponsel, BBM an, Facebookan, Twitteran di kelas , akibatnya ilmu dari kelas Matematika adalah “Duh Ngebete in belajar nya Dosen/Gurunya gajebo, malah kumisnya aneh lg, hikzzz.. :p “ bebar tidak ??

Pegalaman saya pernah sekali bermain bersama teman ke sebuah kafe bersama beberapa teman lainnya, tapi apa yang tgerjadi? Bukannya menikmati  kafe dan suasana kebersamaan bersama teman malah asik dengan dunianya sendiri-sendiri, menciptakan sebuah dunia sosial yang hanya dia dan orang-orang yang berada didalamnya yang tahu. Jujur aku yang berada ditengah mereka merasa risih dan ingin berteriak “untuk apa kalian ke kafe kalau hanya memegang hp?, toh kalian bisa melakukan hal yang sama di tempat lain yang terasa tepat kiranya”. Benar tidak ?

Ada satu pengalaman orang lain yang dia ceritakan kepada saya, begini kiranya gambaranya, istrinya merupakan seorang Ibu Rumah Tangga tulen artinya hanya mengurusi kegiatan rumah tangga saja. Suatu kali dia melihat istrinya sedang menemani anaknya untuk belajar. Kemudian si anak bertanya kepada ibunya “ma, planet apa yang berearna seperti emas?” si ibu hany tertawa dan tersenyum memandangi ponsel ditangannya tanpa mengiraukan pertanyaan anaknya hingga ketiga kalinya si anak mengulang baru si ibu menjawab “kenapa nak? Maaf tadi ibu bales BBM temen mama”. Jika sudah demikian siapa yang dapat disalahkan jika perkembangan anak terhambat? Anda atau posel anda?

Pesan dari saya, memnfaatkan teknologi yang ada untuk menjalin hubungan baik dengan orang lain adalah suatu langkah yang baik tapi anda harus melihat konteks dan situasi untuk melakukan hal tersebut. Pada dasarnya teknologi manapun jika digunakan secara bijak dan tepat guna akan mengarah kepada hal yang positif dan memajukan kehidupan anda. Tetapi ketika anda mulai salah dalam menggunakanya teknologi bisa menjadi malapetaka untuk anda.

“Gunakan jejaringan sosial sesuai konteks, dan tepat guna dan menggunakannya sesuai dengan tatanan etika dalam masyarakat”


Syalom

_-Julian-_

0 comments:

Post a comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Julian Cholse