Showing posts with label Akmen. Show all posts
Showing posts with label Akmen. Show all posts

Tuesday, 13 September 2011

Penerapan Just In Time Pada Toyota

Julian Cholse



BAB  I  PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah

Sistem pemanufakturan tradisional mengatur skedul produksinya berdasarkan pada peramalan kebutuhan di masa yang akan datang. Padahal tidak seorangpun dapat memprediksi masa yang akan datang dengan pasti walaupun dia memiliki pemahaman yang sempurna tentang masa lalu dan memiliki insting yang tajam terhadap kecenderungan yang terjadi di pasar. Produksi berdasarkan prediksi terhadap masa yang akan datang dalam sistem tradisonal memiliki resiko kerugian yang lebih besar karena over produksi daripada produksi berdasarkan permintaan yang sesungguhnya.
Kemajuan teknologi yang sangat pesat, pada perusahaan mengakibatkan berkurangnya pemakaian tenaga kerja langsung disatu sisi, namun disisi lain memerlukan pengeluaran investasi yang relative besar untuk menggunakan peralatan modern. Karena keterbatasan dana masih banyak perusahaan yang menggunakan prosedur yang tradisional untuk menghadapi kemajuan teknologi itu sendiri. Namun masyarakat di Negara maju seperti Jepang mulai mengembangkan suatu system yang disebut Just In Time, dimana sistem ini dilatar belakangi oleh pemborosan- pemborosan tenaga kerja, ruangan dan waktu industri, yang terjadi dikarenakan adanya persediaan (inventory) sehingga biaya produksi menjadi lebih tinggi.
Keunggulan suatu perusahaan terhadap para pesaingnya ditentukan oleh faktor  waktu, mutu, biaya dan sumber daya manusia. Waktu merupakan salah satu faktor penentu unggulan daya saing. Jika suatu perusahaan ingin unggul dari faktor waktu maka perusahaan harus dapat melayani permintaan konsumen tepat waktu, mengeliminasi atau mengurangi waktu untuk aktivitas yang tidak bernilai tambah, dan mengefisiensikan waktu untuk aktivitas bernilai tambah. Salah satu alat agar perusahaan mempunyai keunggulan dari segi faktor waktu adalah dengan mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep JIT.
Operasi JIT merupakan suatu pendekatan untuk mengidentifikasi dan mengeliminasi segala macam sumber pemborosan dalam aktivitas produksi, dengan memberikan komponen produksi yang tepat serta pada waktu dan tempat yang tepat, sedangkan Operasi Tradisional memproduksi komponen produksi dalam jumlah besar dengan maksud untuk mengantisipasi kalau- kalau terjadi sesuatu.
2. Rumusan masalah
·         Mengapa perusahaan Toyota menggunakan Just In Time?
·         Apakah keuntungan yang diperoleh Toyota dengan menggunakan Just In Time?
·         Apakah dampak implementasi Just In Time terhadap Akuntansi Manajemen?

3. Tujuan
·         Penulis ingin mengetahui alasan-alasan mengapa perusahaan Toyota menggunakan Just In Time.
·         Ingin mengetahui apa saja keuntungan yang diperoleh Toyota dengan menggunakan Just In Time.
·         Mengetahui dampak implementasi Just In Time terhadap Akuntansi Manajemen itu sendiri.

4. Manfaat
Diharapkan karya tulis ini dapat memberi pemahaman tentang alasan-alasan perusahaan menggunakan Just In Time, memberi informasi tentang keuntungan yang diperoleh perusahaan jika menggunakan Just In Time, dan memberi informasi tentang dampak implementasi Just In Time terhadap Akuntansi Manajemen.

5. Metode Penelitian
                        Dalam kesempatan kali ini, kami menggunakan study pustaka untuk menunjang penyelesaian makalah ini.


BAB II PEMBAHASAN

·                     Mengapa perusahaan Toyota menggunakan Just In Time?

Prinsip dasar Just In Time adalah peningkatan kemampuan perusahaan secara terus menerus untuk merespon perubahan dengan minimisasi pemborosan. Terdapat empat aspek pokok dalam konsep Just In Time Toyota, yaitu:
1.      Menghilangkan semua aktifitas atau sumber-sumber yang tidak memberikan nilai tambah terhadap produk atau jasa.
2.      Komitmen terhadap kualitas prima.
3.      Mendorong perbaikan berkesinambungan untuk meningkatkan efisiensi.
4.      Memberikan tekanan pada penyederhanaan aktivitas dan peningkatan visibilitas aktivitas yang memberikan nilai tambah.

JIT memiliki dua tujuan strategis, yang pertama untuk meningkatkan laba dan yang kedua untuk memperbaiki posisi bersaing perusahaan. Kedua tujuan tersebut dapat dicapai dengan mengendalikan biaya, memperbaiki kinerja pengiriman dan dengan peningkatan kualitas. Produksi dan pembelian dengan sistem JIT mewakili usaha terus-menerus dalam mengejar produktivitas melalui penghapusan pemborosan.
Meski JIT berfokus lebih dari sekedar manajemen persediaan, pengendalian persediaan merupakan keuntungan tambahan yang penting. Jenis dan efisiensi tata letak pabrik dikelola secara berbeda dalam proses manufaktur JIT. JIT mengganti tata letak pabrik tradisional dengan suatu pola.
PT. Tri Dharma Wisesa merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang memasok brake system untuk pelanggan-pelanggan seperti Yamaha, Toyota, Daihatsu, baik di dalam maupun luar negeri. Salah satu lini produksi yang ada adalah lini produksi disc brake untuk konsumen tunggal yaitu Yamaha. Pada sistem sekarang, lini ini masih menggunakan push system dan menghadapi masalah-masalah seperti volume kegiatan Departemen Production Planning & Control yang besar, ketidakcocokan rencana dan produksi aktual, kurang adaptif terhadap perubahan permintaan, mekanisme informasi yang kurang baik, dan inventori yang menumpuk. Tindakan yang diusulkan untuk menjawab permasalahan tersebut adalah merancang sistem produksi JIT (Just In Time) untuk menggantikan sistem produksi sekarang.
·         Apakah keuntungan yang diperoleh Toyota dengan menggunakan Just In Time?
Toyota memperoleh berbagai macam manfaat dengan menerapkan JIT, beberapa diantaranya yaitu :
Ø   Seluruh system yang ada dalam perusahaan dapat berjalan lebih efisien
Ø   Pabrik mengeluarkan biaya yang lebih sedikit untuk memperkerjakan para staffnya.
Ø   Persediaan tidak perlu dicek, disimpan atau diretur kembali.
Ø   Kertas kerja dapat lebih simple
Ø   Penghematan yang telah di lakukan dapat digunakan untuk mendapat profit yang lebih tinggi misalnya, dengan mengadakan promosi tambahan.
Ø   Keterlacakan biaya
Ø   Keakuratan penentuan biaya produk
Ø   Mengeliminasi aktivitas tidak bernilai tambah
Ø   Meminimumkan persediaan
Ø   Zero Defect
Ø   Mengurangi harga pokok produksi
Ø   Menghemat biaya penyimpanan dan gudang
Ø   Lead time (waktu tunggu) pemanufakturan
Ø   Menghemat waktu perpindahan
Ø   Biaya mutu


·    Apakah dampak implementasi Just In Time terhadap Akuntansi Manajemen?
Penulis menyadari penerapan JIT dalam Toyota akan memberi dampak atau memiliki hubungan dengan konsep Akuntansi Manajemen, berikut ini penulis akan menjabarkan beberapa hubungan dan dampak implementasi JIT Toyota terhadap Akuntansi Manajemen :


Pemanufakturan JIT dan Penentuan Biaya Produk
Pemanufakturan JIT menggunakan pendekatan yang lebih memusat daripada yang ditemui dalam pemanufakturan tradisional. Penggunaan sistem pemanufakturan JIT mempunyai dampak pada:
1.      Meningkatkan Keterlacakan (Ketertelusuran) biaya.
2.      Meningkatkan akurasi penghitungan biaya produk.
3.      Mengurangi perlunya alokasi pusat biaya jasa (departemen jasa)
4.      Mengubah perilaku dan relatif pentingnya biaya tenaga kerja langsung.
5.      Mempengaruhi sistem penentuan harga pokok pesanan dan proses.

            Dasar-dasar pemanufakturan JIT dan perbedaannya dengan pemanufakturan tradisional:
·         JIT Dibandingkan dengan Pemanufakturan Tradisional.
            Pemanufakturan JIT adalah sistem tarikan permintaan (Demand-Pull). Tujuan pemanufakturan JIT adalah memproduksi produk hanya jika produk tersebut dibutuhkan dan hanya sebesar jumlah permintaan pembeli (pelanggan). Beberapa perbedaan pemanufakturan JIT dengan Tradisional meliputi:
a.  Persediaan Rendah
b.  Sel-sel Pemanufakturan dan Tenaga Kerja Interdisipliner
c.       Filosofi TQC (Total Quality Control)

·         JIT dan Ketertelusuran Biaya Overhead
            Dalam lingkungan JIT, beberapa aktivitas overhead yang tadinya digunakan bersama untuk lebih dari satu lini produk sekarang dapat ditelusuri secara langsung ke satu produk tunggal. Manufaktur yang berbentuk sel-sel, tenaga kerja yang terinterdisipliner, dan aktivitas jasa yang terdesentralisasi adalah karakteristik utama JIT.
JIT
TRADISIONAL
Sistem Pull-through
Persediaan tidak signifikan
Sel-sel pemanufakturan 
Tenaga kerja terinterdisipliner
Pengendalian mutu (TQC)
Desentralisasi  jasa
Sistem Push-through
Persediaan signifikan
Berstruktur departemen
Tenaga kerja terspesialisasi
Level mutu akseptabel (AQL)
Sentralisasi jasa

·         Keakuratan Penentuan Biaya Produk dan JIT
            Salah satu konsekuensi dari penurunan biaya tidak langsung dan kenaikan biaya langsung adalah meningkatkan keakuratan penentuan biaya (Harga Pokok Produk). Pemanufakturan JIT, dengan mengurangi kelompok biaya tidak langsung dan mengubah sebagian besar dari biaya tersebut menjadi biaya langsung maupun sebaliknya, dapat menurunkan kebutuhan penaksiran yang sulit.
·         JIT dan Alokasi Biaya Pusat Jasa
            Dalam manufaktur tradisional, sentralisasi pusat-pusat jasa memberikan dukungan pada berbagai departemen produksi. Dalam lingkungan JIT, banyak jasa didesentralisasikan. Hal ini dicapai dengan membebankan pekerja dengan keahlian khusus secara langsung ke lini produk dan melatih tenaga kerja langsung yang ada dalam sel-sel untuk melaksanakan aktivitas jasa yang semula dilakukan oleh tenaga kerja tidak langsung.

·         Pengaruh JIT pada Biaya Tenaga Kerja Langsung
            Sebagai perusahaan yang menerapkan JIT dan otomatisasi, biaya tenaga kerja langsung tradisional dikurangi secara signifikan.Oleh sebab itu ada dua akibat:
1.  Persentasi biaya tenaga kerja langsung dibandingkan total biaya produksi menjadi berkurang
2.  Biaya tenaga kerja langsung berubah dari biaya variabel menjadi biaya tetap.
·         Pengaruh JIT pada Penilaian  Persediaan
            Salah satu masalah pertama akuntansi yang dapat dihilangkan dengan penggunaan pemanufakturan JIT adalah kebutuhan untuk menentukan biaya produk dalam rangka penilaian persediaan. Jika terdapat persediaan, maka persediaan tersebut harus dinilai, dan penilaiannya mengikuti aturan-aturan tertentu untuk tujuan pelaporan keuangan. Dalam JIT diusahakan  persediaan nol (atau paling tidak pada tingkat yang tidak signifikan), sehingga penilaian persediaan menjadi tidak relevan untuk tujuan pelaporan keuangan.
Dalam JIT, keberadaan penentuan harga pokok produk hanya untuk memuaskan tujuan manajerial. Manajer memerlukan informasi biaya produk yang akurat untuk membuat berbagai keputusan misalnya:
Ø  Penetapan harga jual berdasar cost-plus,
Ø  Analisis trend biaya,
Ø  Analisis profitabilitas lini produk,
Ø  Perbandingan dengan biaya para pesaing,
Ø  Keputusan membeli atau membuat sendiri, dsb.

·         Pengaruh JIT pada Harga Pokok Pesanan
            Dalam penerapan JIT untuk penentuan order pesanan, pertama, perusahaan harus memisahkan bisnis yang sifatnya berulang-ulang dari pesanan khusus.Selanjutnya, sel-sel pemanufakturan dapat dibentuk untuk bisnis berulang-ulang.
            Dengan mereorganisasi tata letak pemanufakturan, pesanan tidak membutuhkan perhatian yang besar dalam mengelompokkan harga pokok produksi. Hal ini karena biaya dapat dikelompokkan pada level selular. lagi pula, karena  ukuran lot sekarang lebih sangat kecil, maka tidak praktis untuk menyusun kartu harga pokok pesanan untuk setiap pesanan. Maka lingkungan pesanan akan menggunakan sifat sistem harga pokok proses.

·         Penentuan Harga Pokok Proses dan JIT
            Dalam metode  proses, perhitungan biaya per unit akan menjadi lebih rumit karena adanya persediaan barang dalam proses. Dengan menggunakan JIT, diusahakan persediaan nol, sehingga penghitungan unit ekuivalen tidak terlalu dibutuhkan, dan tidak perlu menghitung biaya dari periode sebelumnya. JIT secara signifikan mengarah pada penyederhanaan.


Untuk kelengkapan isi makalah dapat di download di sini

Teknolologi Informasi dan Pengaruhnya Terhadap Akuntansi Manajemen

Julian Cholse

ABSTRAK

Perkembangan teknologi informasi membawa perubahan yang signifikan dalam dunia bisnis. Perkembangan akuntansi berdasar kemajuan teknologi terjadi dalam tiga babak, yaitu era bercocok tanam, era industri, dan era informasi. Ada berbagai macam sistem informasi dengan menggunakan teknologi informasi yang muncul, antara lain Electronic Data Processing Systems, Data Processing Systems (DPS), Decision Support System (DSS), Management Information System (MIS), Executive Information Systems (EIS), Expert System (ES) dan Accounting Information System (AIS). Peranan teknologi informasi terhadap perkembangan akuntansi pada setiap babak berbeda-beda. Semakin maju teknologi informasi, semakin banyak pengaruhnya pada bidang akuntansi. Salah satu bidang akuntansi yang terpengaruh oleh teknologi informasi adalah akuntansi manajemen selaku bidang penghasil informasi dalam perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan manajerialbaik pengaruh yang menguntungkan ataupun yang merugikan.

Keywords:: teknologi    informasi,    akuntansi    manajemen,    informasi, pengambilan keputusan.



Pendahuluan
T
eknologi informasi (TI) turut berkembang sejalan dengan perkembangan peradaban manusia. Perkembangan teknologi informasi meliputi perkembangan infrastruktur TI, seperti hardware, software, teknologi penyimpanan data (storage), dan teknologi komunikasi (Laudon, 2006: 174). Perkembangan TI tidak hanya mempengaruhi dunia bisnis, tetapi juga bidang-bidang lain, seperti kesehatan, pendidikan, pemerintahan, dan lain-lain.

Pada masa kini sebagian besar masyarakat semakin merasakan informasi sebagai salah satu kebutuhan pokok di samping kebutuhan sandang, pangan dan papan. Seiring dengan hal itu, informasi telah berubah bentuk menjadi suatu komoditi yang dapat diperdagangkan. Keadaan ini terbukti dengan semakin berkembangnya bisnis pelayanan informasi seperti stasiun televisi, surat kabar, radio dan internet dimana perkembangan teknologi informasi telah membawa dampak dalam kehidupan masyarakat.

Sejak ditemukannya komputer pada tahun 1955, peradaban dunia telah memasuki era informasi. Teknologi informasi dengan komputer sebagai motor penggeraknya telah mengubah segalanya. Dalam era bisnis global, pengaruh kemajuan teknologi informasi tidak dapat dihindarkan lagi seperti penggunaan telepon, faksimili, komputer, dan satelit dalam berbagai aktivitas sarana berkomunikasi perusahaan. Teknologi informasi memungkinkan manusia untuk memperoleh informasi dari tempat yang berjauhan dalam waktu yang singkat dan dengan biaya yang murah.

Manajemen organisasi harus tanggap pada perubahan lingkungan ini jika ingin organisasinya tetap dapat bertahan dan meningkat kinerjanya. Manajemen organisasi juga harus sensitif terhadap pengaruh perkembangan teknologi yang mencakup informasi, peralatan teknik dan proses dalam mengubah input menjadi output. Selain itu, manajemen harus dapat memahami dengan baik peran sistem informasi dalam organisasi (Eliot, 1992).

Perubahan lingkungan ini juga menuntut akuntansi manajemen sebagai suatu sistem informasi untuk menyediakan informasi yang dapat dipercaya, relevan, tepat waktu, lengkap, dapat dipahami, dan teruji dalam rangka pengambilan keputusan manajemen.

Teknologi Informasi
TI merupakan salah satu alat manajer untuk mengatasi perubahan (Laudon dan Laudon, 2006: 14). Definisi TI secara lengkap dinyatakan oleh Martin et al. (2002: 1), yaitu teknologi komputer yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi serta teknologi komunikasi yang digunakan untuk mengirimkan informasi. Definisi TI sangatlah luas dan mencakup semua bentuk teknologi yang digunakan dalam menangkap, manipulasi, mengkomunikasikan, menyajikan, dan menggunakan data yang akan diubah menjadi informasi (Martin et al., 2002: 125).
Lingkungan teknologi memungkinkan perusahaan untuk memajukan kinerjanya. TI dan kinerja memiliki hubungan simbiosis. Perkembangan TI yang terjadi selama ini mencakup perkembangan infrastruktur TI, yakni hardware, software, data, dan komunikasi (McNurlin dan Sprague, 2002: 11). Menurut Laudon dan Laudon (2006: 14—15), infrastruktur TI terdiri atas komponen hardware, software, teknologi penyimpanan data (storage), serta teknologi komunikasi. Beberapa penulis mengklasifikasikan teknologi storage ke dalam komponen hardware sehingga komponen TI terdiri atas hardware, software, dan komunikasi (McLeod dan Schell, 2004: 101—123; Mescon et al., 2002: 213— 219).



Perkembangannya Teknologi Informasi
Teknologi Informasi (TI) meliputi segala alat maupun metode yang terintegrasi untuk digunakan dalam menjaring atau menangkap data (capture), menyimpan (saving), mengolah (process), mengirim (distribute), atau menyajikan kebutuhan informasi secara elektronik kedalam berbagai format, yang bermanfaat bagi user (pemakai informasi) Teknologi ini dapat berupa kombinasi perangkat keras dan lunak dari komputer, non komputer (manual) maupun prosedur, operator, dan para manajer dalam suatu sistem yang terpadu satu sama lain.

Perkembangan TI telah mengakibatkan perubahan dalam struktur industri serta praktik pengelolaan organisasi bisnis didalam berkompetisi dan melaksanakan kegiatan untuk melayani pelanggan, sehingga dengan laju perkembangan TI yang semakin pesat telah mengubah bisnis dan konsep manajemen yang ada, juga berdampak terhadap kebutuhan informasi bagi manajer dalam akuntansi internal maupun eksternal guna mendukung dalam pemecahan masalah untuk pengambilan keputusan, meraih peluang dan mencapai tujuan.

Sebagaimana diketahui bahwa bidang akuntansi dibagi atas tiga sub-bidang yaitu akuntansi manajemen, akuntansi keuangan, dan auditing maka akibat perkembangan TI akan berpengaruh terhadap bisnis dan praktik manajemennya yang meliputi akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen demikian juga terhadap proses auditing, sehingga Auditor yang berkembang di era informasi ini adalah yang mampu memberikan jasa tebaik bagi klien dengan memanfaatkan TI.

Dengan demikian, pembahasan terhadap semua perkembangan teknologi informasi yang berdampak pada profesi akuntansi perlu dikaitkan dengan dunia pendidikan sekarang, untuk menghasilkan akuntan professional di era informasi, untuk itu kurikulum pendidikan dan metode belajar-mengajar yang telah diterapkan serta buku acuan yang ada perlu dikaji ulang lebih lanjut, dan pengembangan kurikulum yang berteknologi informasi perlu diupayakan secara kontinuitas (berkelanjutan).
Teknologi Informasi dalam Akuntansi Manajemen
Ada berbagai macam sistem informasi dengan menggunakan teknologi informasi yang muncul, antara lain Electronic Data Processing Systems, Data Processing Systems (DPS), Decision Support System (DSS), Management Information System (MIS), Executive Information Systems (EIS), Expert System (ES) dan Accounting Information System (AIS) (Bodnar, 1998). Saluran komunikasi yang dapat digunakan untuk berkomunikasi adalah standard telephone lines, coaxial cable, fiber optics, microwave systems, communications satellites, cellular radio and telephone. Sedangkan konfigurasi jaringan yang dapat dipakai untuk berkomunikasi adalah Wide Area Network (WAN), Local Area Network (LAN), dan Client I Server Configurations (Romney, 2000).
EDP adalah penggunaan teknologi komputer untuk menyelenggarakan pemrosesan data yang berorientasi pada transaksi organisasi. Sistem ini digunakan untuk mengolah data transaksi yang sifatnya rutin (sehari-hari). Sistem ini tidak dapat membantu pekerjaan pihak manajemen yang berkaitan dengan pengambilan keputusan. Sistem ini hanya bermanfaat untuk meningkatkan ketepatan waktu dan frekuensi penyajian laporan. Secara fundamental, EDP merupakan aplikasi sistem informasi akuntansi dalam setiap organisasi. Istilah data processing (DP) sebenarnya sama dengan EDP.
MIS merupakan penggunaan teknologi komputer untuk menyediakan informasi yang berorientasi pada manajemen level menengah. MIS mengakui adanya kenyataan bahwa para manajer dalam suatu organisasi membutuhkan informasi dalam rangka pengambilan keputusan dan bahwa sistem informasi berbasis komputer dapat membantu penyediaan informasi bagi para manajer.
DSS adalah suatu sistem informasi yang datanya diproses dalam bentuk pembuatan keputusan bagi pemakai akhir. Karena berorientasi pada pemakai akhir, maka DSS membutuhkan penggunaan model-model keputusan dan database khusus yang berbeda dengan sistem DP. DSS diarahkan pada penyediaan data yang nyata, khusus, dan informasi yang tidak rutin yang diminta oleh manajemen. DSS dapat digunakan untuk menganalisis kondisi pasar sekarang atau pasar potensial. DSS juga dapat membantu mengubah proses bisnis, dimana umumnya manajer membuat semua keputusan, namun dengan adanya teknologi informasi seperti decision support tools, access database, dan modelling software, pengambilan keputusan menjadi bagian setiap orang.

Kelengkapan makalah silahkan download di sini

Saturday, 12 March 2011

Pengganggaran, Perencanaan untuk Pengendalian

Julian Cholse

Deskripsi Anggaran
• Perencanaan
Merupakan pandangan ke depan untuk melihat tindakan apa yang seharusnya dilakukan, agar dapat mewujudkan tujuan – tujuan tertentu.
• Pengendalian
Melihat ke belakang menentukan apakah yang sebenarnya telah terjadi, dan membandingkannya dengan hasil yang direncanakan sebelummnya.
• Anggaran
Merupakan rencana keuangan untuk masa depan ; rencana tersebut mengidentifikasi tujuan dan tindakan yang diperlukan untuk mencapainya.
• Rencana Strategis
Mengidentifikasikan strategi – strategi untuk aktivitas dan operasi di masa depan setidaknya 5 tahun ke depan.

Manfaat Anggaran
Penganggaran memiliki manfaat sebagai berikut :

1. Memaksa para manajer untuk melakukan perencanaan,
2. Menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk memperbaiki pengambilan keputusan,
3. Menyediakan standar evaluasi kinerja,
4. Memperbaiki komunikasi dan koordinasi.

Menyiapkan Anggaran Induk (Master Budget)

Menyiapkan Anggaran Induk (Master Budget) adalah rencana keuangan komperhensif bagi organisasi secara keseluruhan. Anggaran induk biasanya untuk periode satu tahun sesuai dengan tahu fiskal perusahaan. Anggaran tahunan dibagi menjadi anggran kuartal dan bulanan. Dengan menggunakan periode waktu yang lebih kecil memungkinkan para manajer untuk membandingkan data aktual dengan data yang direncanakan sehingga masalah dapat diketahui dan diselesaikan lebih awal.

Beberapa organisasi telah mengembangkab filosofi anggaran yang kontinu. Anggaran kontinu adalah anggran 12 bulan yang terus bergerak.


1. Mengarahkan dan Mengoordinasikan

Komite anggaran ( budget committee ) meninjau anggaran , menyediakan petunjuk kebijakan dan tujuan anggaran, menyelesaikan perbedaan yang timbul saat anggaran disiapkan , menyetujui anggran akhir , dan mengawasi kinerja aktual organisasi seiiring dengan berjalannya tahun.

Direktur utama organisasi menunjuk anggota – anggota komite yang biasanya terdiri dari direktur utama, wakil direktur utama, dan pengontrol. Pengontrol biasanya berfungsi sebagai direktur anggaran ( budget director ) yaitu orang yang bertanggung jawab mengarahkan dan mengoordinasikan proses anggaran organisasi secara keseluruhan.

2. Komponen – komponen utama anggaran induk
Anggaran utama dapat dibagi dalam anngaran operasional dan keuangan.

a) Anggran Operasional ( operational budget ) mendeskripsikan aktivitas yang menghasilkan pendapatan bagi suatu perusahaan ( penjualan, produksi, dan persediaan barang jadi ).
b) Anggaran Keuangan ( financial budget ) memerinci aliran masuk dan keluar kas, serta posisi keuangan secara umum.

3. Menyiapkan anggaran operasianal

Anggran Operasional terdiri atas perkiraan laporan laba rugi yang disertai dengan laporan pendukung berikut :
1. Anggaran penjualnan
2. Anggaran produksi
3. Anggaran pembelian bahan baku langsung
4. Anggran overhead
5. Anggaran beban penjualan dan administrasi
6. Anggaran persediaan akhir barang jadi
7. Anggaran tenaga kerja langsung
8. Anggaran harga pokok penjualan

Anggaran Penjualan ( sales budget ) 
Merupakan projeksi yang disetujui komite anggran yang menjelaskan penjualan yang diharapkan dalam satuan unit dan hutang. Karena anggran penjualan adalah dasar bagi semua anggran operasional lainnya dan sebagian besar dari anggaran keuangan, anggaran penjualan, yang seakurat mungkin sangatlah penting.

Langkah pertama dalam membuat anggaran penjualan adalah mengembangkan prediksi penjualan. Hal ini biasanya tanggung jawab departemen pemasaran. Suatu pendekatan untuk memprediksi penjualan adalah pendekatan dari bawah ke atas (bottom up approach) yang mensyaratkan setiap tenaga penjual memberikan prediksi penjualan. Semua prediksi disatukan untuk membentuk suatu prediksi jumlah penjualan.

Keakuratan prediksi penjualan dapat diprediksi dengan mempertimbangkan faktor – faktor lain seperti iklim ekonomi secara umum , persaingan, iklan, kebijakan penetapan harga , dll. Prediksi penjualan hanyalah perkiraan awal. Prediksi penjualan dapat diberikan kepada komite anggaran untuk dipertimbangkan. Komite anggaran dapat memutuskan perkiraan terlalu pesimis atau optimis dan merevisi sesuai dengan keadaan.



Anggaran produksi ( production budget)
Menjelaskan banyaknya unit yang harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan penjualan dan kebutuhan persediaan akhir.
Untuk menghitung unit yang akan diproduksi untuk memenuhi kebutuhan persediaan awal dan persediaan akhir barang jadi dirumuskan sebagai berikut

Unit yang perkiraan unit dalam unit dalam
akan diproduksi penjualan unit persediaan akhir persediaan awal



Anggaran Pembelian Bahan Baku Langsung (direct materials purchases budget)

Menyatakan jumlah dan biaya bahan baku yang dibeli tiap periode ; jumlahnya bergantung pada perkiraan penggunaan bahan baku dalam produksi dan persediaan bahan baku yang dibutuhkan perusahaan. Dirumuskan sebagai berikut

Pembelian = BB langsung yang dibutuhkan untuk produksi + BB langsung yang diinginkan dalam persediaan akhir – BB langsung dalam persediaan awal.
















Anggaran Tenaga Kerja Langsung
Anggaran tenaga kerja langsung menunjukkan jumlah jam tenaga kerja langsung yang dibutuhkan dan biaya terkait yang berhubungan dengan jumlah unit dalam anggaran produksi.
Sama halnya dengan bahan baku langsung, anggaran jam tenaga kerja langsung ditentukan oleh hubungan antara tenaga kerja dan output.







Anggaran Overhead (overhead budget)
Anggaran overhead menunjukkan biaya yang diharapkan dari semua komponen produksi tidak langsung.
Tidak seperti bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung, hubungan input-output yang telah tersedia untuk diindentifikasi tidak terdapat dalam komponen overhead.

Sebaliknya, terdapat serangkaian aktivitas dan penggerak yang terkait . Pengalaman dari masa lalu dapat digunakan sebagai panduan untuk menentukan bagaimana aktivitas overhead berubah sesuai dengan penggeraknya. Komponen individual yang akan berbeda diindentifikasi (sebagai contoh, perlengkapan dan utilitas). Selain itu, perkiraan jumlah yang diharapkan akan dihabiskan pada tiap komponen per unit aktivitas. Kemudian, tarif-tarif individual yang dihasilkan dijumlah untuk memperoleh suatu tarif overhead variabel.




Anggaran Persediaan Akhir Barang Jadi (ending finished goods inventory budget)
Anggaran persediaan akhir barang jadi memberikan informasi yang dibutuhkan untuk neraca dan juga bertindak sebagai input penting untuk persiapan anggaran harga pokok penjualan.

















Anggaran Harga Pokok Penjualan (cost of good sold budget)

Anggaran harga pokok penjualan mengungkapkan harga yang diharapkan untuk barang yang akan dijual.
Laporan harga pokok penjualan adalah laporan terakhir yang diperlukan sebelum anggaran laporan laba rugi dapat disiapkan.








Anggaran Beban Penjualan dan Administrasi (selling and administrative
budget)
Anggaran beban penjualan dan administrasi menguraikan pengeluaran yang direncanakan untuk aktivitas nonproduksi. Sama halnya dengan overhead, beban penjualan, dan administrasi dapat dibagi dalam komponen tetap dan variabel.
Komponen-komponen seperti komisi penjualan, pengiriman, dan perlengkapan berubah sesuai dengan aktivitas penjualan. Laba operasional tidak sama dengan laba bersih perusahaan. Untuk mendapatkan laba bersih, beban bunga dan pajak harus dikurangi dari laba operasional.






4. Menyiapkan Anggaran Keuangan ( financial budget )
Anggaran yang tersisa dalam anggaran induk adalah anggaran keuangan
Anggaran keuangan yang biasa disiapkan adalah :
a) Anggaran kas
b) Anggaran neraca
c) Anggaran untuk pengeluaran modal
Anggaran Kas
Anggaran kas adalah salah satu anggaran paling penting dalam anggaran indukpengetahuan arus kas adalah hal penting dalam mengelola bisnis. Bisnis yang sukses dalam memproduksi dan menjual suatu produk akhirnya sering gagal karena kesalahan dalam mengatur arus kas masuk dan arus kas keluar. Dengan mengetahui waktu kemungkinan terjadinya kekurangan dan kelebihan kas, manajer berencana meminjam uang tunai ketika diperlukan dan membayar kembali pinjaman selamaperiode kelebihan kas. Petugas bank bagian peminjaman menggunakan anggaran kas perusahaan untuk mendokumentasikan kebutuhan atas uang tunai dan kemampuan untuk membayar kembali.

Neraca yang dianggarkan

Neraca yang dianggarkan bergantung pada informasi yang tergantung dalam neraca saat ini, dan yang berada pada anggaran lain di anggaran indo. Anggaran individual adalah anggaran yang membentuk anggaran induk sehingga hubungan ketergantungan satu sama lain atas anggaran komponen menjadi jelas.


Menggunakan Anggaran Untuk Evaluasi Kerja

Anggaran merupakan alat pengendalian yang berguna namun ada dua pertimbangan yang perlu diperhatikan yaitu menetapkan bagaimana jumlah yang dianggarkan seharusnya dibandingkan dengan hasil aktual. Dan yang kedua adalah melibatkan dampak anggaran atas perilaku manusia.


Anggaran statis versus anggaran fleksibel
Tingkat aktivitas aktual biasanya tidak sama dengan tingkat aktivitas yang diangrankan. Akibatnya, jumlah yang dianggarkan tidak dapat dibandingkan dengan hasil aktual. Oleh karena itu, perusahaan dapat pula menyiapkan anggaran fleksibel untuk digunakan dalam evaluasi kerja.

Anggaran Statis (static budget) adalah anggaran untuk tingkat aktivitas tertentu karena anggaran statis bergantung pada tingkat aktivitas tertentu, anggaran statis ini tidak telalu berguna untuk menyiapkan laporan kinerja.

Anggaran fleksibel adalah anggaran yang memungkinkan suatu perusahaan menghitung perkiraan biaya dalam suatu tingkat aktivitas. Kunci untuk penganguran fleksibel adalah pengetahuan atas biata tetap dan biaya variabel.ada 2 jenis penganguran fleksibel :
1. Penganguran untuk tingkat aktivitas yang diharapkan
2. Penganguran untuk tingkat aktivitas actual

Dimensi Perilaku dari Anggaran

Bonus,kenaikan gaji dan promosi adalah hal yang dipengaruhi oleh kemampuan seorang manajer untuk mencapai atau melampaui tujuan yang direncanakan. Karena status keuangan dan karier seorang manajer dapat dipengaruhi,anggaran dapat memiliki pengaruh perilaku yang signifikan. Pengaruh positif atau negatif tersebut sebagian besar tergantung pada bagaimana anggaran digunakan. Perilaku positif muncul ketika tujuan tiap manajer sejalan dengan tujuan organisasi dan manajer memiliki penggerak untuk mancapainya. Sejalannya tujuan manajerial dan tujuan organisasional sering disebut kesesuaian tujuan (goal congruence). Perilaku disfungsional adalah perilaku individual yang pada dasarnya bertentangan dengan tujuan organisasi.

Sistem anggaran yang idela adalah sistem anggaran yang mencapai kesesuaian tujuan secara utuh dan simultan serta menciptakan suatu penggerak bagi manajer untuk mencapai tujuan organisasi secara etis. Beberapa fitur penting yang akan mendorong perilaku positif pada tingkat yang wajar yaitu :

a) Umpan balik yang sering atas kinerja
Dengan meneydiakan laporan kinerja secara sering dan tepat waktu, manajer akan mengetahui ukuran keberhasialan usaha mereka selama ini dengan tujuan mengambil tindakan korektif dan mengubah rencana sebagaimana diperlukan
b) Insentif uang dan bukan uang
Insentif uang (monetary incentive) digunakan untuk mengendalikan kecenderungan seorang manajer untuk melalikan dan membuang-buang sumber daya dengan menghubungkan kinerja anggaran dengan kenaikan gaji, bonus dan promosi. Insentif bukan uang (nonmonetery incentive) ini termasuk memperkaya pekerjaan (job enrichment), meningkatkan tanggung jawab dan ptonomi, program penghargaan nonuang, dan lain-lain. Hal ini dapat digunakan untuk meningkatkan sistem pengendalian anggaran.

c) Anggaran Partisipatif
memungkinkan manajer tingkat bawah untuk turut serta dalam pembuatan anggaran daripada membebankan anggaran kepada para manajer tinjgkat bawah.
Anggaran partisipasif memiliki tiga potensi masalah :
1. Menetapkan standar yang terlalu tinggi atau terlalu rendah
2. Membuat kelonggaran dalam anggaran
3. Partisipasi semu.

d) Standar yang Realistis
Tujuan yang ada dalam anggaran digunakan untuk mengukur kerja. Jadi, tujuan ini harus bedasarkankondisi dan harapan-harapan realistis. Anggaran seharusnya mencerminkan realita operasional, seperti tingkat aktifitas actual, perubahan musiman, efisiensi, dan tren ekonomi umum.


e) Keterkendalian Biaya
Idealnya, para manajer hanya dianggap bertanggung jawab atas biaya-biaya yang dapat dikendalikan. Biaya yang dapat dikendalikan adalah biaya yang tingkatannya dapat dipengaruhi oleh manajer.
f) Berbagai Ukuran Kerja
Organisasi kerap membuat kesalahan penggunaan anggaran sebagai satu-satunya ukuran mereka akan kinerja manajerial. Ketika ukuran keuangan atas kinerja merupakan hal penting, penekanan yang berlebihan dapat mengarah pada bentuk perilaku difungsional yang disebut memerah sumber daya perusahaan (milking the firm) atau eksploitasi (myopa).

Anggaran Bedasarkan Aktivitas

Membangun suatu anggaran bedasarkan aktivitas denggan menggunakan tiga langkah:
1. aktifitas dalam organisasi harus didefinisikan,
2. permintaan tiap output aktivitas harus diperkirakan, dan
3. biaya sumber daya yang diperlukan untuk memproduksi tingkat aktifitas harus dinilai.
Anggaran Fleksibel Aktivitas adalah prediksi biaya aktifitas nantinya jika terdapat perubahan pada output aktivitas.


Download Power Point
  • Penyusunan Anggaran.pptx (Bahasa Indonesia) (1.02 MB)
 











  • Presentation2.pptx  (English) (1.12 MB)




Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Julian Cholse