Tuesday 13 September 2011

Analisis Kredit PT ASTRA INTERNATIONAL

Julian Cholse



BAB I
PENDAHULUAN

            Pembahasan analisis kredit dimulai dengan penjelasan sarana untuk menilai likuiditas jangka pendek. Akan dijelaskan likuiditas dan penjabaran sarana analisis dari berbagai aspek. Pembahasan analisis terpusat pada rasio berbasis akuntansi, perputaran dan berbagai ukuran likuiditas dari aktivitas operasi. Pembahasan analisis juga terpusat pada struktur modal dan implikasinya terhadap solvabilitas. Akan dianalisis pula pentingnya leverage keuangan dan dampaknya terhadap risiko dan pengembalian.
            Analisis likuiditas diarahkan pada aktivitas operasi perusahaan, kemampuan untuk menghasilkan keuntungan dari penjualan produk dan jasa, dan persyaratan serta ukuran modal kerja. Bagian pertama pembahasan akan menjelaskan beberapa alat analisis laporan keuangan yang digunakan untuk menilai risiko likuiditas. Bagian ini dimulai dengan pembahasan pentingnya likuiditas dan kaitannya dengan modal kerja. Selanjutnya, akan dibahas rasio modal kerja dan siklus operasi perusahaan yang berguna untuk menilai likuiditas.
            Bagian kedua pembahasan akan menjelaskan struktur modal dan menjelaskan pentingnya struktur modal dalam analisis solvabilitas. Karena solvabilitas bergantung pada keberhasilan aktivitas operasi, maka kita juga memperhatikan laba serta kemampuan laba untuk memenuhi pengeluaran perusahaan yang penting dan perlu. Kita juga akan membahas hubungan antara risiko dan pengembalian yang berasal dari strultur modal suatu perusahaan dan implikasinya untuk laporan keuangan.
BAB II
TUJUAN ANALISIS

BAGIAN LIKUIDITAS
1.             Menganalisis modal kerja dan rasio likuiditas pada PT. Astra untuk mengukur efektivitas dan tingkat likuiditas perusahaan.
2.             Menganalisis siklus operasi dalam likuiditas dan interpretasinya.
BAGIAN STRUKTUR MODAL DAN SOLVABILITAS
1.             Menganalisis struktur modal untuk menilai solvabilitas.
2.             Menganalsis leverage test dan implikasinya terhadap kinerja perusahaan.
3.             Menganalsisi komposisi aktiva dalam kaitannya dengan solvabilitas perusahaan.



BAB III
ALAT ANALISIS
Secara garis besar ada 3 alat analisis yang kami gunakan yaitu :
1.        Analisis Rasio
2.        Analisis Common-Size
3.        Analisis Komparatif

BAGIAN LIKUIDITAS
1.        Menguraikan struktur modal dan hubungannya dengan solvabilitas (secara teori).
2.        Menguraikan ukuran modal kerja dalam likuiditas dan komponen-komponennya.
vAnalisis Komparatif  Modal Kerja
vRasio Perputaran Modal Kerja
3.        Menginterpretasikan rasio likuiditas.
vRasio Lancar
vRasio Cepat
vRasio Arus Kas
4.        Menganalisis siklus operasi dan ukuran perputaran dalam likuiditas dan interpretasinya.
vRasio Perputaran Piutang Usaha
vPeriode Penagihan Pitang
vRasio Perputaran Persediaan
vRasio Jumlah Hari untuk Menjual Persediaan
vRasio Jumlah Hari untuk Membayar Utang Usaha






BAGIAN STRUKTUR MODAL DAN SOLVABILITAS
1.        Menguraikan struktur modal dan hubungannya dengan solvabilitas.
vCommon Size Struktur Modal
2.        Menjelaskan leverage test dan implikasinya terhadap kinerja dan analisis perusahaan.
vRasio Total Utang terhadap Total Aktiva
vTimes Interest Earned Ratio
3.        Menguraikan sarana analisis untuk mengevaluasi dan menginterpretasikan komposisi struktur modal  dan untuk menilai solvabilitas.
vRasio Total Utang Terhadap Total Modal
vRasio Total Utang Terhadap Modal Ekuitas
vRasio Utang Jangka Panjang Terhadap Modal Ekuitas
vRasio Utang Jangka Pendek Terhadap Modal Ekuitas
4.        Menganalisis komposisi aktiva dan untuk analisis solvabilitas.
vCommon-Size Komposisi Aktiva



BAB IV
HASIL ANALISIS
BAGIAN LIKUIDITAS
1.        Menganalisis modal kerja dan rasio likuiditas pada PT. Astra untuk mengukur efektivitas dan tingkat likuiditas perusahaan.
vAnalisis Komparatif Modal Kerja

PT. ASTRA 2008
PT. ASTRA 2009
Aktiva Lancar
35.531
36.595
Kewajiban Lancar
26.883
26.735
Modal Kerja Bersih
8.648
9.860
Modal kerja PT. Astra yang meningkat pada tahun 2008 ke tahun 2009  menunjukan adanya peningkatan cadangan likuiditas. Hal ini menunjukan perbaikan kondisi keuangan Astra yang baik karena cadangan likuiditas yang tersedia dapat digunakan untuk memenuhi kewajiban kontinjensi dan ketidakpastian yang terkait dengan keseimbangan antara kas masuk dan keluar perusahaan.
v Perputaran Modal kerja           =
2008                    =  = 11,22 kalI

Artinya : 11,22 kali modal kerja digunakan untuk menghasilkan penjualan.
2009                    =   = 10 kali

Artinya : 10 kali modal kerja digunakan untuk menghasilkan penjualan.
Peningkatan modal kerja yang terjadi menyebabkan  Perputaran modal kerja PT. Astra mengalami penurunan, yang disebabkan oleh peningkatan modal kerja lebih cepat daripada peningkatan penjualan. Hal ini menunjukan penurunan efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan modal kerjanya dalam menghasilkan penjualan.

v Rasio Lancar      =

2008                    =          = 1,32
Artinya : 1 satuan utang lancar dijamin oleh 1,32 aset lancar
2009                    =          = 1,37
Artinya : 1 satuan utang lancar dijamin oleh 1,37 aset lancar
Rasio lancar PT. Astra meningkat dari tahun 2008 ke 2009, hal ini menunjukan bahwa terdapat keyakinan bahwa aktiva lancar yang ada dapat untuk menutup kewajiban lancar perusahaan, dimana PT. Astra masih memiliki cadangan likuid yang dapat digunakan untuk menutup ketidakseimbangan arus kas dan kewajiban kontinjensi (meskipun banyak yang menganggap rasio yang baik adalah 2:1).

v Acid Test Ratio  =

2008                    =  = 0,999

Artinya : 1 satuan utang lancar dijamin oleh 0,999 aset lancar yang paling likuid.
2009                    =  = 1,096

Artinya : 1 satuan utang lancar dijamin oleh 1,096aset lancar yang paling likuid.
Acid test ratio PT. Astra menunjukan peningkatan pada tahun 2009, peningkatan tersebut menandakan perusahaan memiliki peningkatan pada asset nya yang paling likuid. Hal ini dapat menunjukan bahwa aktiva yang paling likuid (minus persediaan) PT. Astra sudah dapat digunakan untuk menutup kewajiban lancarnya, sehingga dapat dikatakan bahwa kondisi keuangan perusahaan tersebut  cukup aman.

v Rasio Arus Kas =

2008        = = 0,37

Artinya : Arus kas bersih dari operasi PT. Astra adalah 0,37 kali Kewajiban lancarnya.
2009        = = 0,423

Artinya : Arus kas bersih dari operasi PT. Astra adalah 0,423 kali Kewajiban lancarnya.

Rasio arus kas PT. Astra mengalami peningkatan pada tahun 2008 ke tahun 2009. Dimana angka ini menunjukan kondisi perusahaan yang cukup sehat, karena pada umumnya rasio 0,40 sudah dianggap sehat. Rasio ini diperkuat dengan hasil rasio-rasio likuiditas lain yang menunjukan indikator baik.

2.        Menganalisis siklus operasi dalam likuiditas dan interpretasinya.

v Rasio Perputaran Piutang Usaha =

2008                    =  = 15,74 kali

Artinya : 15,74 kali piutang usaha digunakan untuk menghasilkan penjualan.
2009                    =   = 13 kali

Artinya : 13 kali piutang usaha digunakan untuk menghasilkan penjualan.

v Periode Penagihan Piutang =

2008        =  = 22,87 hari

Artinya : dibutuhkan waktu 23 hari untuk mengonversikan piutang menjadi kas.
2009        = = 27,69 hari

Artinya : dibutuhkan waktu 28 hari untuk mengonversikan piutang menjadi kas.
Rasio perputaran piutang usaha yang menurun menyebabkan melambatnya periode penagihan piutang yang menunjukan kurang maksimalnya perusahaan dalam menagih piutangnya. Bila hal ini terus berlanjut akan menimbulkan masalah dan likuiditas perusahaan.

v Rasio Perputaran Persediaan =

2008        =  = 8,69 kali

Artinya : 8,69 kali persediaan digunakan untuk menghasilkan penjualan.
2009        =  = 10,4 kali

Artinya : 10,4 kali persediaan digunakan untuk menghasilkan penjualan.
v Rasio Jumlah Hari untuk Menjual Persediaan =

2008        =  = 41,41 hari

Artinya : dibutuhkan 41 hari untuk mengkonversikan persediaan ke penjualan.
2009        = = 34,61 hari

Artinya : dibutuhkan 35 hari untuk mengkonversikan persediaan ke penjualan.
Pada hasil analisis terlihat adanya peningkatan efektivitas pada manajemen persediaan PT. Astra, yang terlihat dari adanya percepatan perputaran persediaan dan jumlah hari yang dibutuhkan untuk menjual persediaan tersebut.

v Rasio Jumlah Hari untuk Membayar Utang Usaha =

2008        = = 30,89 hari

Artinya : Dibutuhkan 31 hari untuk membayar utang.
2009        = = 35,06 hari

Artinya : Dibutuhkan 35 hari untuk membayar utang.
Terdapat penambahan jumlah hari untuk membayar utang usaha, hal ini menunjukan adanya kelonggaran pada PT. Astra dalam pelunasan utang usahanya.



2008
2009
Periode penagihan piutang
23
28
Jumlah hari untuk menjual persediaan
41
35
Siklus Operasi
64
63
Jumlah hari untuk membayar utang usaha
31
35
Siklus perdagangan bersih
33
29

Dari hasil analisis di atas terlihat bahwa siklus operasi dan siklus perdagangan bersih mengalami percepatan, hal ini menunjukan peningkatan aktivitas usaha. Dengan begitu, hal ini sebenarnya dapat mengurangi kebutuhan perusahaan akan modal kerjanya.
BAGIAN STRUKTUR MODAL DAN SOLVABILITAS
1.      Menganalisis struktur modal untuk menilai solvabilitas.
vCommon Size Struktur Modal

2008
2008 (%)
2009
2009 (%)
CL
26.883
33,30
26.735
30,06
LTD
13.280
16,45
13.271
14,92
Total utang
40.163
49,74
40.006
44,98
Hak minoritas
7.497
9,29
9.038
10,16
Modal saham
2.024
2,51
2.024
2,28
TMD
1.106
1,37
1.106
1,24
Perubahan ekuitas anak perusahaan
923
1,14
1.178
1,32
LYD
29.027
35,95
35.586
40,01
Jumlah ekuitas
33.080
40,97
39.894
44,86
Total kewajiban dan ekuitas
80.740
100
88.938
100
Terdapat penurunan utang baik utang jangka panjang maupun jangka pendek. Hal ini karena kebijakan PT. Astra yang melakukuan cukup banyak utang pada tahun 2009, seperti yang tertuang dalam MD&A PT. Astra.
v Rasio Total Utang Terhadap Modal Ekuitas
=

2008        = = 1,21

Artinya : Total Utang PT. Astra 1,21 kali ekuitas pemegang saham
2009        = = 1,002

Artinya : Total Utang PT. Astra 1,002 kali ekuitas pemegang saham
Rasio Total Utang terhadap Modal Ekuitas PT. Astra menurun dari  tahun 2008 ke 2009, yaitu 1,21 menjadi 1,002 hal ini menunjukan adanya perbaikan struktur modal PT. Astra. Proporsi total utang dan ekuitas pemegang saham yang hampir sebanding ini menunjukan bahwa struktur modal PT. Astra terbilang aman.
v Rasio Utang Jangka Panjang Terhadap Modal Ekuitas
=
2008        = = 0,4
Artinya : Utang Jangka Panjang PT. Astra 0,4 kali ekuitas pemegang saham
2009        = = 0,33
Artinya : Utang Jangka Panjang PT. Astra 0,33 kali ekuitas pemegang saham
Rasio Utang Jangka Panjang Terhadap Modal Ekuitas PT. Astra menurun dari tahun 2008 ke 2009, yaitu 0,4 menjadi 0,33 hal ini menunjukan adanya perbaikan struktur modal PT. Astra.
v Rasio Utang Jangka Pendek Terhadap Total Utang

2008        = = 0,669

Artinya : Utang Jangka Pendek PT. Astra 0,699 kali total utang.
2009        = = 0,668

Artinya : Utang Jangka Pendek PT. Astra 0,668 kali total utang.
Rasio Utang Jangka Pendek Terhadap Total Utang PT. Astra relatif stabil. Di mana perubahan hanya terjadi sedikit sekali dari tahun 2008 ke 2009 yaitu 0,669 ke 0,668. Rasio ini menunjukan bahwa perusahaan memiliki ketergantungan yang cukup tinggi akan pendanaan jangka pendek.           
2.        Menganalsis leverage test dan implikasinya terhadap kinerja perusahaan.
v Rasio Total Utang Terhadap Total Asset =

2008        = = 0,50

Artinya : Struktur Modal PT. Astra 50% terdiri dari utang.
2009        =  = 0,45

Artinya : Struktur Modal PT. Astra 45% terdiri dari utang.
Rasio Total Utang terhadap Total Aktiva PT. Astra menurun dari tahun 2008 ke 2009, hal ini menunjukan adanya perbaikan struktur modal PT. Astra. Dimana angka ini menunjukan stuktur modal yang cukup aman, karena struktur modalnya tidak lebih dari 50% untuk proporsi total utang.
v Rasio Kelipatan Bunga Dihasilkan (TIEr)
=

2008        =  = 30,95 kali

Artinya : EBIT dapat digunakan untuk membayar bunga 30,95 kali.
2009        =  = 34,82 kali

Artinya : EBIT dapat digunakan untuk membayar bunga 34,82 kali.
Times Interest Earned Ratio PT. Astra mengalami peningkatan dari tahun 2008 ke 2009 yaitu dari 30,95 kali menjadi 34,82 kali, tentu saja hal ini menunjukan adanya peningkatan efektivitas perusahaan dalam menghasilkan laba, di mana laba ini dapat digunakan untuk menutup beban bunga dan bahkan menutup pokok bunga. Hal ini cukup memberikan pengamanan bagi likuiditas dan solvabilitas PT. Astra.

3.      Menganalisis komposisi aktiva dalam kaitannya dengan solvabilitas perusahaan.
vCommon-Size Komposisi Aktiva

2008
2008 (%)
2009
2009 (%)
Kas & setara kas
8.785
10,88

8.732
9,82

Investasi lain-lain
67
0,08

39
0,04

Piutang Usaha
6.167
7,64

7.579
8,52

Piutang Pembiayaan
9.499
11,76

10.630
11,95

Piutang lain-lain
307
0,38

295
0,33

Persediaan
8.666
10,73

7.282
8,19

Pajak dibayar dimuka
1.107
1,37

1.299
1,46

Pembayaran dimuka lain
933
1,16

739
0,83

Total aktiva lancar
35.531
44,01

36.595
41,15

Piutang
9.691
12,00

11.157
12,54

Investasi
10.636
13,17

11.484
12,91

Aset pajak tangguhan
804
1

814
0,92

Properti investasi
190
0,24

217
0,24

Tanaman perkebunan
1.937
2,4

2.614
2,94

Aset tetap
18.742
23,21

21.941
24,67

Goodwill
830
1,03

721
0,81

Asset lain-lain
704
0,87

739
0,83

Jumlah asset tidak lancar
45.209
56

52.343
58,85

Total Aktiva
80.740
100

88.938
100


Dari common size komposisi aktiva PT. Astra dapat terlihat bahwa terdapat penurunan aktiva lancar dari tahun 2008 ke 2009 yaitu dari 44% menjadi 41,15% serta peningkatan pada aktiva tidak lancarnya dari 56% menjadi 58,85%. Jika dibandingkan dengan pesentase total utang perusahaan, dimana pada tahun 2008 sebesar 49,74% dan 44,98% pada tahun 2009 (lihat: common size struktur modal) selisih antara persentasenya tergolong sangat sedikit (lebih tinggi total utangnya). Hal ini menunjukan adanya pengamanan yang minim terhadap total kewajiban perusahaan. Namun kita perlu melihat alat analisis lain yang telah kita gunakan, di mana siklus operasi, pemanfaatan aktiva, collection period, TIEr dan lainnya, menunjukan indikator yang baik, sehingga aktiva lancar yang dimiliki perusahaan dinilai cukup memberikan pengamanan terhadap utang yang mereka miliki, terlebih jika melihat adanya kenaikan laba, meskipun terdapat penurunan persentase kas dan persediaan, hal ini menunjukkan adanya peningkatan efektivitas dalam pemanfaatan aktiva lancar.


UNTUK KELENGKAPAN MAKALAH SILAHKAN  DOWNLOAD

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Julian Cholse