Wednesday, 7 September 2011

Akankah Ritel Tradisional Tergantikan oleh Ritel Modern?

Julian Cholse

BAB I

PENDAHULUAN


1.1.           Latar Belakang



Industri retail adalah sebuah bisnis yang berprospek cerah di Indonesia karena, merupakan industri terbesar kedua Indonesia setelah industri pertanian. Pada jaman sekarang industri retail di bagi menjadi dua kategori yaitu : ritel tradisional dan ritel modern. Ritel tradisional menjadi pelopor berdirinya bisnis retail pertama kalinya. Tetapi, seiring perkembangan waktu ritel modern mulai masuk dan berdiri menggantikan ritel tradisional karena adanya keinginan masyarakat yang tak bisa dipenuhi oleh ritel tradisional.

Industri ritel tradisional diwakili oleh pedagang pasar tradisional serta warung-warung kecil di pinggir jalan. Sedangkan industri ritel modern diwakili oleh Indomart, Alfamart, Circle K, Omi, Carefour, Matahari, Sriratu, Ramayana, dll. Persaingan antara kedua belah pihak ini sudah terjadi cukup lama sejak tahun 1990. Tetapi, ritel modern semakin banyak berdiri di sekitar kita menggantikan ritel tradisional yang sudah ada sebelumnya. Gejala-gejala akan tergantikannya ritel tradisional mulai kita rasakan dari terbangunnya berbagai macam pusat perbelanjaan baik besar maupun kecil

Ritel modern adalah suatu bisnis yang hanya dimiliki oleh perseorangan saja dan paling banyak hanya segelintir orang yang punya hak atas keuntungan dari bisnis ritel modern. Dengan berkembang pesatnya ritel modern dan menurunnya penjualan dalam ritel tradisional menjadikan jurang pemisah antara yang kaya dan miskin makin lebar. Rakyat yang kebanyakan juga berasal dari pedagang pasar dan warung kecil-kecilan akan semakin sulit untuk bertahan hidup.

Keberadaan ritel tradisional yang makin punah ini perlu mendapat perhatian khusus yang ketat dari pemerintah kita agar tak terjadi peningkatan tingkat pengangguran dan kemiskinan di Negara kita. Berbagai aturan sudah diberlakukan oleh pemerintah untuk membatasi perkembangan ritel modern tetapi, tampaknya ritel modern terus memutar otak agar dapat menghancurkan ritel tradisional yang ada dengan membentuk berbagai macam toko kecil berbentuk minimarket. Bahkan, sekarang  banyak di tengah-tengah pasar ritel tradisional tersebut didirikan ritel modern yang sangat besar. Menjadi sebuah pertanyaan menarik bagi kita akan kelangsungan hidup pasar ritel tradisional ini di kemudian hari.


1.2.           Rumusan Masalah

1.      Bagaimana sejarah ritel?

2.      Apakah karakteristik pasar ritel tradisional dan pasar ritel modern?

3.      Apakah kelebihan dan kekurangan pasar ritel tradisional dan pasar ritel modern?

4.      Apakah pasar ritel tradisional akan tergantikan posisinya oleh pasar ritel modern?


1.3.           Tujuan Penulisan

1.      Mengetahui bagaimana asal mula adanya pasar ritel tradisional dan pasar ritel modern

2.      Menjabarkan apa saja karakteristik yang mencerminkan perbedaan maupun kesamaan di antara pasar ritel tradisional dan pasar ritel modern tersebut

3.      Menjelaskan tentang kelebihan dan kekurangan pasar ritel tradisional dan pasar ritel modern untuk mengetahui nasib mereka pada masa depan

4.      Mencoba memprediksi akibat yang akan terjadi dari perperangan pasar ritel tradisional dan pasar ritel modern tersebut.








BAB II

ISI


2.1. Sejarah Ritel Tradisional dan Ritel Modern

Pasar dalam arti sempit adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi. Definisi ini lebih condong kepada pasar ritel tradisional. Sedangkan definisi sekarang pasar adalah individu/ organisasi yang mau dan bersedia serta berdaya beli untuk melakukan transaksi, mereka harus mempunyai akses serta berkualifikasi.


Menurut cara transaksinya, jenis pasar dibedakan menjadi pasar tradisional dan pasar modern.

v  Pasar Tradisional

Pasar tradisional adalah pasar yang bersifat tradisional dimana para penjual dan pembeli dapat mengadakan tawar menawar secara langsung. Barang-barang yang diperjual-belikan adalah barang yang berupa barang kebutuhan pokok.

v  Pasar Modern

Pasar modern adalah pasar yang bersifat modern dimana barang-barang diperjual-belikan dengan harga pas dan dengan layanan sendiri. Tempat berlangsungnya pasar ini adalah di mal, plaza, dan tempat-tempat modern lainnya.


Menurut jumlah barang yang dijual, pasar dibedakan menjadi dua yaitu : pasar grosir dan pasar ritel.

      Pasar Grosir

Pasar grosir adalah tempat kegiatan/usaha perdagangan yang menjual barang dalam partai besar, misalnya lusinan, kodian, satu dos, satu karton, dan lain-lain. Pasar grosir dimiliki oleh pedagang besar dan pembelinya pedagang eceran. Contoh: Alfa gudang rabat, pusat-pusat grosir, makro, dan sebagainya.



      Pasar Ritel/ Eceran

Pasar eceran adalah tempat usaha perdagangan yang menjual barang dalam partai kecil dan orientasinya kepada konsumen akhir. Contoh toko-toko kelontong, pedagang kaki lima, pedagang asongan, dan sebagainya.


Secara umum peritel tidak membuat barang dan tidak menjual ke pengecer lain. Akan tetapi, dalam praktik bisnis ritel modern saat ini tidak tertutup kemungkinan, banyak pengecer kecil membeli barang di gerai peritel besar, mengingat perbedaan harga yang muncul pada waktu-waktu promosi tertentu yang dilakukan oleh peritel besar. Ritel modern sebenarnya merupakan perkembagan dari ritel tradisional yang pada praktiknya mengaplikasikan konsep yang modern, pemanfaatan teknologi, dan mengakomodasi perkembangan gaya hidup di masyarakat (konsumen).



Saat ini muncul begitu banyak format modern ritel/ market. Diantaranya sebagai berikut :

1.   Supermarket

2.   Minimarket

3.   Hypermarket

4.   Specialty Store/ Convenience Store

5.   Department Store



Dalam 6 tahun terakhir ini, perkembangan format pasar modern yang berupa minimarket, supermarket, dan hypermarket sangatlah tinggi. Menurut data yang dikeluarkan oleh Media Data-APRINDO dalam rentang waktu 2004 s.d 2008 format minimarket memiliki rata-rata pertumbuhan turnover paling tinggi yaitu sebesar 38% per tahun, disusul kemudian oleh Hypermarket sebesar 21,5% dan supermarket yang hanya 6% per tahun. Tingginya pertumbuhan di format minimarket, ditandai dengan semakin ketatnya persaingan dalam ekspansi atau penambahan jumlah gerai dari dua pemain besar di dalamnya yaitu Indomart dan Alfamart.


2.2. Karakteristik Pasar Ritel Tradisional dan Pasar Ritel Modern

Karakteristik pasar tradisional adalah :

a)      Dikelola pemerintah

b)      Kumuh, becek dan padat

c)      Identik dengan preman, pedagang kaki lima, dan tempat parkir yang tidak teratur

d)     Segmentasi menengah bawah

e)      Menjual eceran

f)       Pengunjung didominasi wanita (ibu rumah tangga, pedagang keliling)

g)      Biasanya menjual di lantai bawah seperti sembako, daging, ikan, sayur, kue-kue, buah-buahan, kelontong, dll


Karakteristik pasar modern adalah :

1.      Lokasi, Fasilitas, Tata letak dan Sarana Pelayanan

a)      Lokasi

Pemilihan lokasi berkaitan dengan segmentasi yang akan dituju. Contohnya : yang mengincar kelas menengah ke atas yaitu : keris gallery, metro dan sogo. Sedangkan yang mengincar kelas menengah ke bawah yaitu : matahari dan rimo

b)      Fasilitas

Fasilitas di pasar ritel modern tergolong cukup lengkap. Yaitu AC (Air Conditioning), elevator, lift, tempat parkir. Elevator dan lift memudahkan mobilitas pelanggan yang ingin memilih barang dengan cepat dan tepat. Tempat parkir juga memudahkan kita jika membawa kendaraan. Dalam perkembangan selanjutnya fasilitas yang ada makin komplit ditandai dengan adanya taman bermain anak-anak dan makanan jajanan (Food court)


c)      Tata Letak Barang dan Desain

Pengaturan barang di pasar modern umumnya dikelompokkan menurut jenis produknya, misalnya kelompok kemeja, celana, dan pelengkap pakaian lainnya seperti celana dalam, dasi, dan singlet. Kelompok itu juga dikelompokkan menurut mereknya.

d)     Sarana Pelayanan Berbelanja

Pelayanan yang diberikan di pasar modern dimulai dengan adanya pramuniaga dan sarana belanja seperti : cashier machine, pass room dan bag.

2.      Pengadaan , Pendistribusian, Penjualan, Pembayaran, dan Sistem Keamanan Barang

a)      Sistem Pengadaan Barang

Satu tim bertanggung jawab atas pembelian barang sekaligus memenuhi kebutuhan seluruh toko yang ada. Tim ini mengandalkan anggaran pembelian tahunan yang disesuaikan dengan sistem control bulanan untuk mendapatkan gambaran mengenai jumlah setiap barang yang harus dipesan atau dipesan ulang. Tim yang menentukan tentang jenis dan jumlah barang yang akan dibeli. Tim juga melakukan negosiasi harga

b)      Sistem Penjualan

Penjualan dilakukan secara langsung kepada konsumen. Produk yang dijual dilengkapi dengan label harga yang pasti. Sehingga, tidak terjadi tawar-menawar seperti di pasar konvensional. Penjualan dalam partai kecil umumnya dibayar melalui cash (uang kontan). Sedangkan dalam partai besar biasanya dibayar melalui kartu kredit maupun kartu debit.

c)      Pendistribusian Barang

d)     Sistem Pembayaran

e)      Sistem Keamanan Barang

3.      Strategi Harga, dan Sistem Promosi

a)      Strategi Harga

Umumnya harga di pasar modern ditekan sedemikian rendah yaittu dengan cara pembelian terpusat dan jumlah besar. Pasar modern yang punya jaringan toko punya harga yang sama. Strategi ini dimaksudkan untuk mengurangi biaya administrasi dan promosi

b)      Sistem Promosi

Media yang umum digunakan adalah media cetak dan media elektronik. Promosi dengan media cetak dilakukan melalui Koran, majalah dan pamflet. Sementara media elektronik melalui TV, radio, dan Internet.


Berdasarkan definisi yang tertuang dalam Keputusan Presiden RI No. 112/Th. 2007, dikatakan bahwa Format Pasar Swalayan dikategorikan sbb:

1.      Minimarket :

      Produk yang Dijual : kebutuhan rumah tangga, makanan dan termasuk kebutuhan harian.

      Jumlah Produk : < 5000 item

      Luas Gerai : maks. 400m2

      Area Parkir : terbatas

      Potensi Penjualan : maks. 200 juta

      Contoh : Indomart, Alfamart, Yomart, Omi



2.      Supermarket

      Produk yang Dijual : kebutuhan rumah tangga, makanan dan termasuk kebutuhan harian.

      Jumlah Produk :  5000 - 25000 item

      Luas Gerai : maks. 400 - 5000m2

      Area Parkir : sedang (memadai)

      Potensi Penjualan : 200 juta- 10 milliar

      Contoh : Hero, Ramayana, Superindo

3.      Hypermarket

      Produk yang Dijual : kebutuhan rumah tangga, makanan dan termasuk kebutuhan harian, textile, furniture, fashion, dll.

      Jumlah Produk :  >25000 item

      Luas Gerai : maks. >5000m2

      Area Parkir : Sangat Besar

      Potensi Penjualan : >10 milliar.

      Contoh : Carefour, Hypermart, dan Giant


2.3. Kelebihan dan Kekurangan Pasar Ritel Tradisional dan Pasar Ritel Modern

Keunggulan pasar ritel tradisional adalah :

A.    Karakter/ Budaya Konsumen

B.     Regulasi Pemerintah

C.    Harga Bervariasi


Kelemahan pasar ritel tradisional adalah :

A.    Banyaknya Pedagang yang Tidak Tertampung

B.     Pasar Tradisional Mempunyai Kesan Kumuh

C.     Dagangan yang Bersifat Siap Saji Mempunyai Kesan Kurang Hiegienis

D.    Rendahnya Kesadaran Pedagang Untuk Mengembangkan Usahanya dan Menempati Tempat Dasaran yang Sudah Ditentukan

E.     Banyaknya pasar yang tanahnya berstatus milik pemerintah daerah terutama pemerintah desa

F.      Banyaknya pasar yang tidak beroperasi secara maksimal

G.    Rendahnya kesadaran pedagang dalam membayar retribusi

H.    Adanya pasar yang kegiatannya hanya pada hari pasaran.

I.       Kurangnya pengelolaan yang baik dari pihak pemerintah

J.       Kurangnya modal peritel tradisional untuk bisa mengembangkan usahanya.

K.    Banyak pedagang suka menipu konsumen dengan timbangannya


Keunggulan Pasar Ritel Modern adalah :

A.    Pengelolaan manajemen yang baik

B.     Kenyamanan berbelanja di pasar modern, kebersihan dan ruangan ber-AC

C.     Pemain di pasar modern adalah pemodal besar jadi mudah melakukan ekspansi usaha dengan membuka gerai baru

D.    Menawarkan harga lebih murah

E.     Cepat pelayanannya

F.      Tempat yang lebih luas, sehingga pelanggan dapat dengan mudah memilih produk yang dijual sehingga memicu pembelian yang tidak direncanakan


Kelemahan Pasar Ritel Modern adalah :

A.    Tidak bisa melakukan tawar-menawar

B.     Merupakan budaya baru

C.     Hubungan pembeli dan penjual tidak dekat


2.4. Akankah Ritel Tradional Tergantikan Ritel Modern?


Dalam tabel di atas dapat kita lihat perkembangan dari kedua pasar ritel di Indonesia. Dari data di atas pada tahun 2000 jumlah ritel tradisional hampir 80% dan ritel modern 20%. Tetapi, seiring perkembangan jaman meskipun ritel tradisional masih menguasai pasar. Jumlahnya berkurang sedikit demi sedikit. dan pada tahun 2003 jumlah ritel tradisional 74% dan jumlah ritel modern 26% .





KESIMPULAN

Dari makalah yang kita susun di atas maka, kita dapat memberikan suatu kesimpulan tentang persaingan antara pasar ritel tradisional dan pasar ritel modern. Mungkin suatu saat akan terjadi pergeseran dari pasar ritel tradisional ke pasar ritel modern apalagi jika pemerintah tidak mau memberikan apresiasi dan dukungan kepada pasar ritel tradisional tentang tata cara dan ketertiban mereka dalam berdagang. Regulasi/ peraturan yang ada juga tidak diterapkan dengan baik oleh pemerintah.



Untuk kelengkapan Isi makalah silahkan Download di sini

0 comments:

Post a comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Julian Cholse