Saturday, 9 April 2011

PENENTUAN TEMA KARANGAN ILMIAH

Julian Cholse

A. PENGANTAR

Menulis karangan ilmiah memang bukanlah hal yang mudah. Sebuah karangan ilmiah harus dapat menyajikan data dan mengolahnya dengan kualifikasi yang sempurna dengan maksud menyampaikan “sesuatu” kepada pembacanya,sebab suatu karangan ilmiah harus selalu bermakna. Oleh karena itu karangan ilmiah harus memiliki dasar pemikiran yang dapat disajikan secara tepat,akurat,logis dan sistematis. Setelah hal – hal diatas terpenuhi maka pembaca karangan ilmiah akan mampu menangkap maksud dan amanat dari karangan ilmiah tersebut.

Seorang penulis melalui tulisannya wajib menyampaikan suatu amanat atau pesan yang bermakna. Oleh karena hal itu perlu amanat tersebut seharusnya menjadi dasar pemikiran sejak awal penulisan karangan ilmiah. Amanat pokok itulah yang sering dikenal dengan sebutan tema.

Menurut arti katanya tema berarti “sesuatu yang telah diuraikan” atau “sesuatu yang telah ditempatkan”. Kata ini berasal dari bahasa Yunani tithenai yang berarti “menempatkan “ atau “meletakkan”. Namun dalam kehidupan sehari-hari kata tema seringkali dikacaukan pula pemakaiannya dengan istilah topik. Kata topik berasal dari kata Yunani “topoi” yang berarti tempat. Dirumuskan pula oleh Aristoteles bahwa untuk menggambarkan sesuatu kita harus melihat topoi atau tempat terjadinya peristiwa tersebut.

Dalam karang mengarang,pengertian tema dapat dilihat dari dua sudut ,yaitu sudut karangan yang telah selesai dan dari sudut proses penyusunan sebuah karangan.
Dilihat dari sudut sebuah karangan yang telah selesai ,tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Setelah pembaca selesai membaca suatu karangan maka makna dari karangan itu akan meresap dalam pikirannya. Secara langsung pembaca akan memahami maksud karangan yang dirangkai oleh kalimat-kalimat dalam karangan.

Dari segi proses penulisan tema dapat dibatasi dengan rumusan-rumusan tertentu. Sebelum menulis sebuah karangan penulis harus memilih suatu pokok pembicaraan atau topik,sehingga dengan begitu penulis telah menempatkan satu tujuan yang ingin disampaikan denga landasan topik tadi. Bardasarkan hal ini,pengertian tema dapat dibatasi sebagai:suatu perumusan dari topik yang akan dijadikan landasan pembicaraan dan tujuan yang akan dicapai melalui topik tadi.

Sebagai contoh,sebuah esai merumuskan kalimat tema dalam sebuah kalimat singkat: “Karena ambisi perusahaan untuk meraup sebanyak mungkin keuntungan,tanggung jawab sosial perusahaan pun diabaikan.” Inti dari esai panjang yang menggambarkan buruknya perilaku perusahaan yang ingin mencapai keuntungan semaksimal mungkin,lalu mengabaikan tanggung jawab sosialnya dengan melakukan perusakan lingkungan oleh limbah,pengeksploitasian sumber daya alam yang berlebihan bahkan perlakuan yang tidak sesuai pada para pekerjannya,itulah yang disebut tema.

Sebuah tema dapat dinyatakan dalam kalimat singkat seperti diatas. Tetapi tema dapat pula mengambil bentuk yang lebih luas yang berupa alinea atau rangkaian dari alinea-alinea. Bentuk yang seperti demikian dinamakan ikhtisar atau ringkasan. Namun,ada perbedaan antara ikhtisar dan tema karena dalam ikhtisar masih disebutkan para pelaku dan alur ceritanya. Ringkasan merupakan uraian secara komplit dalam bentuk singkat,sedangkan tema merupakan sari dasar atau amanat yang akan disampaikan penulis.

Panjangnya sebuah tema tergantung dari seberapa banyak hal yang ingin disampaikan sebagai tujuan utama,dan kemampuan penulis mengemukakan ilustrasi yang jelas dan terarah. Kedudukan tema secara lebih konkret dapat dilihat dalam hubungan antara kalimat topik dan alinea. Kalimat topik merupakan tema dari sebuah alinea. Sedangkan kalimat-kalimat lain hanya berfungsi untuk memperjelas kalimat topik atau tema alinea tersebut.

Dengan kata lain tema mutlak selalu ada dalam sebuah karangan ilmiah,karena sesuai hakikatnya,sebuah karangan ilmiah harus menyampaikan gagasan yang bermakna pada setiap pembacanya. Karena makna tersebutlah yang menjadi nilai bagi sebuah tulisan sekaligus menjadi dasar pemikiran penulis dalam menyusun karyanya.


B. MERUMUSKAN TEMA KARANGAN

1) Memilih Topik

Ketika penulis ingin merumuskan sebuah karangan masalah pertama yang dihadapi adalah perumusan topik atau pokok pembicaraan. Penetapan topik merupakan suatu keahlian namun hal ini sering kali menjadi beban bagi para penulis pemula. Sesungguhnya sumber-sumber yang ada disekitar kita telah menyediakan bahan yang belimpah-limpah. Segala sesuatu yang dapat menarik perhatian kita dapat dijadikan topikdalam karangan kita. Hal-hal sederhana seperti pengalaman-pengalaman masa lampau, personalan-persoalan kemasyarakatan, ilmu pengetahuan, dan lain-lain, dapat menjadi pokok pembicaraan dalam karangan yang kita buat.

Pokok-pokok persoalan yang dijadikan topik karangan harus disajikan dalam bentuk-bentuk tulisan, yaitu narasi, deskripsi, eksposisi, atau argumentasi.
Narasi merupakan sebuah bentuk yang mengisahkan suatu peristiwa atau kejadian secara kronologis. Pada umumnya, narasi memaparkan suatu hal bedasarkan periode waktu. Narasi biasanya dipergunakan dalam bentuk karangan semacam biografi, roman, novel, sejarah, dan sebagainya.

Deskripsi beusaha menggambarkan suatu hal sesuai dengan keadaan yang ditangkap oleh pancaindera. Deskiripsi bertalian dengan pelukisan suatu objek dengan menggambarkan cirri atau situasi yang nampak, misalnya suasana sore hari di pelabuhan, keadaan gedung-gedung bersejarah di kota Jakarta, dan ramainya lalu lintas kota di siang hari.

Ketika sebuah tema diuraikan dalam sebuah proses yang meliputi langkah-langkah runtut atau urutan-urutan cara atau membuat mengerjakan sesuatu, tulisan tersebut dikatagorikan dalam bentuk eksposisi. Eksopsisi bertujuan untuk memberikan penjelasan atau informasi untuk melikiskan sebuah proses dalam berbagai macam variasi, misalnya bagaimana mereboisasi hutan yang mengalami kebakaran, bagaiman kerja sebuah mesin jahit, dan sebagainya.

Tipe tulisan ekspositoris yang berlainan adalah definisi yang luas untuk menjelaskan suatu istilah. Hal ini sering dijumpai dalam penulisan karya tulis tentang pengertian teknis, penulisan laporan dan sebagainya. Tipe ini tidak mudah untuk dikerjakan, sebab ada topik-topik yang sulit untuk dijelaskan. Misalnya, demokrasi, kebahagiaan, kemiskinan, dan sebagainya. Jalan yang harus ditempuh untuk mengatasi permasalahan ini yaitu, kita harus menguraikan seluas-luasnya pengertian-pengertian dengan memperhatikan segala macam kemungkinan dan situasi sehingga setiap pembaca akan merasa puas telah membaca uraian tentang topik-topik tadi. Selanjutnya, pembaca akan lebih mudah menangkap dan memahami pesan atau amanat yang ingin disampaikan penulis melalui tulisannya tersebut, sehingga tidak terjadi kesalahan penafsiran pokok pembicaraan atau topik karangan ilmiah.

Jenis penyajian topik yang lebih sulit dari eksposisi adalah argumentasi. Argumentasi sebenarnya suatu bentuk eksposisi dengan sifat yang jauh lebih sulit dan pengajuan pembuktian-pembuktian. Argumentasi harus mengandung analisa, data, fakta, yang dapat mendukung opini atau argumen yang menyangkut pemecahan suatu pokok persoalan atas bagian-bagiannya maupun suatu klasifikasi yang lebih luas. Salah satu contoh ketika argumentasi mempertanyakan: Apakah kelemahan perfilman nasional? Untuk menjawab dan mengajukan argumen yang meyakinkan kita harus memberikan bukti yang menunjukkan bahwa perfilman nasional dalam kondisi yang tidak baik atau lemah. Dalam hal ini diperlukan analisis dan fakta-fakta dalam proses perkembangan perfilman nasional sehingga kita memperoleh bukti yang akurat dan argumen yang beralasan sebagai topik pembicaraan karangan kita.

Dalam tulisan semacam itu penulis harus menjaga agar dasar pemikirannya diuraikan secara jelas. Penulis harus mengajukan bukti-bukti untuk memperkuat pendapat dalam porsi yang lebih banyak dibandingkan dugaan-dugaan, sehingga penulis lebih baik menulis sesuatu yang menarik perhatian dan benar-benar ia kuasai daripada menulis pokok-pokok yang tidak menarik dan tidak ia ketahui sama sekali.

Pertama-tama sebuah topik harus menarik perhatian penulis sendiri. Dapat kita bayangkan ketika kita menulis tentang sesuatu yang tidak kita sukai dan tidak menarik perhatian. Kita akan menemukan banyak kesulitan dan akibatnya munculnya banyak hambatan. Bahkan dapat pula berujung pada terbengkalainya proses penulisan karena fokus pemikiran kita tidak mencintai apa yang kita tulis. Sebaliknya ketika kita menulis mengenai apa yang kita sukai, kita akan terus didorong untuk menyelesaikan tulisan itu sebaik-baiknya. Akan muncul dari dalam diri yang membuat kita merasa mengerjakan tulisan merupakan hal yang menyenangkan. Sebagai contoh seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi yang menyukai hal-hal yang berkaitan dengan perekonomian akan lebih mudah menulis mengenai topic perekonomian,karena hal itu merupakan bidang yang ia kuasai dan cintai.

Aspek kedua yang harus dipenuhi dalam penulisan karangan ilmiah yaitu, penulis harus mengetahui pokok pikiran atau topik dari tulisannya. Artinya, penulis harus memahami prinsip-prinsip dan konsep dasar dari dasar penulisannya. Jika seorang penulis tidak memahami apa yang dia tulis maka dapat dipastikan tulisan yang dia hasilkan tidak akan bermakna, sebab sang penulis bahkan tidak tahu apa yang dia sampaikan kepada pembacanya. Sebaliknya, jika penulis menguasai atau sekurang-kurangnya mamahami konsep dasar topiknya, ia akan berusaha mencari data-data melalui penelitian, observasi, wawancara, sehingga pengetahuannya mengenai masalah itu akan bertambah dalam. Dengan pengetahuan yang dimilikinya penulis sanggup menguraikan topik sebaik-baiknya.

Kedua syarat diatas masih ditambah dengan satu syarat lain, yaitu topik jangan terlalu baru, telalu teknis, dan terlalu kontroversial. Topik yang terlalu baru, sering membawa kita dalam permasalahan dalam menemukan data-data pendukung yang aktual. Sedangkan topik yang terlalu teknis membutuhkan pertangungjawaban ilmiah yang lebih rumit. Tulisan mahasiswa memang diarahkan dalam penulisan karangan ilmiah, namun belum diarahkan suatu tulisan yang sangat teknis sebab masih terlalu banyak nuansa terminologi yang belum dapat dipertangungjawabkan.

Demikian suatu topik yang terlalu kontroversial juga akan menimbulkan bagi penulis untuk betindak secara objektif. Ketika penulis menghadapi autoritas-autoritas yang berbeda, Ia akan memiliki kecenderungan untuk memilih autoritas yang lebih dekat dengannya. Misalnya yang seideologi, kekerabatan, dan sebagainya. Dengan topik yang lebih universal penulis akan lebih mudah menempatkan dirinya dalam permasalahan tersebut. Sebab, topik yang universal akan meminimalisir keberpihakan penulis dan memberikan opini yang lebih umum dalam tulisannya.

2) Pembatasan Topik

Ketika seseorang pertama-tama menulis, ia selalu dihadapkan pada persoalan apa yang akan ditulis,berapa panjang tulisan itu. Penulis mungkin sudah mengetahui apa yang akan ditulis, namun pengeatahuan tentang topik tersebut belum mencukupi. Ia harus membatasi lagi subjek tadi agar ia tidak hanyut dalam persoalan yang tidak ada habisnya serta tidak menyimpang dari tujuan awal penulisannya.

Penulis harus yakin bahwa topik yang dipilihnya cukup sempit dan terbatas, sehingga topik tersebut sangat khusus untuk digarap. Pada umumnya penulis baru memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan sesuatu dalam uraian yang terlalu umum, akibatnya uraian menjadi tidak tepat dan cermat. Pembatasan topik membantu penulis dalam beberapa hal. Pertama pembatasan memungkinkan penulis untuk menulis dengan penuh keyakinan dan kepercayaan karena pokok penulisan tersebut benar-benar diketahuinya.

Penyempitan topik juga akan membantu penulis dalam mengadakan penelitian yang intensif mengenai permasalahan yang dibahas. Penulis akan mudah memilih hal yang akan dikembangkan. Pengamatan atau observasi lebih mudah dilakukan ketika hal-hal yang diamati merupakan pengalamannya sendiri. Pengalaman yang bersifat lebih khusus akan membantu penulis lebih fokus dalam mencapai tujuan-tujuan dan pokok pemikiran tulisannya.

Cara membatasi sebuah topik dapat dilakukan dengan cara berikut :
a) Menetapkan topik yang ingin digarap dalam kedudukan sentral. Artinya topik utama harus ditengahkan dan dijadikan pusat perhatian serta dasar pemikiran dan acuan utama selama proses penulisan. Tidak diperbolehkan adanya topik atau masalah lain yang menyimpang atau bertentangan dari topik sentral tersebut.

b) Mengajukan pertanyaan apakah topik yang berada dalam kedudukan sentral itu masih dapat diperinci lebih lanjut. Dalam hal ini penulis harus melihat kemungkinan-kemungkinan bahwa topik sentral masih memiliki bagian-bagian detail yang harus dijelakan secara terperinci. Maka bagian-bagian ini diletakkan dalam sub-sub materi.

c) Menetapkan bagian dari perincian tadi yang akan dipilih. Tidak semua bagian detail dari topik sentral harus dijelaskan terperinci. Penulis harus mampu memilah submateri mana yang perlu dijelaskan secara terurai dan topik mana yang perlu diuraikan secukupnya saja, sebab tidak semua bagian dari topik sentral merupakan bagian penting yang perlu dijelaskan secara terperinci.

d) Mengajukan pertanyaan apakah sektor tadi masih perlu diperinci lebih lanjut. Penulis harus melihat kemungkinan bhawa submateri dari topik sentral masih mungkin untuk dijelaskan dan diperinci lebih teliti lagi. Namun penulis harus cermat dalam menentukannya karena ketidakcermatan perincian submateri justru akan membuat batasan topik menjadi lebih luas, sehingga tulisan tidak akan fokus dan justru menyimpang dari dasar pemikiran semula.

Sebagai contoh dalam pembatasan topik kita menetapkan topic sentral adalah “Masalah pembajakan”. Berdasarkan pengajuan pertanyaan topic sentral itu masih dapat dikembangkan menjadi “Masalah Pembajakan di Industri Musik Indonesia”. Selanjutnya kita memilih bagian-bagian perincian yang ingin kita bahas lebih lanjut,misalnya pelanggaran hak cipta artis atau seniman,pembajakan kaset,dan VCD palsu. Lalu kita mengajukan pertanyaan apakah sektor-sektor tersebut masih kita perinci secara lanjut contohnya kerugian pihak label musik,maraknya pasar kaset atau VCD palsu dan sebagainya.

Besarnya sebuah tema yang disampaikan penulis tergantung dari penulis-penulis itu sendiri. Ketika penulis mengangkat tema umum yang digemari, Ia dimungkinkan akan terlalu jauh membuat penyimpangan. Topik yang terlalu umum akan menimbulkan keragu-raguan dan kekaburan. Akibatnya Ia tidak tahu dimana harus memulai, dimana harus berakhir. Oleh karena itu setiap penulis harus membatasi dirinya pada satu segi khusus dari topik yang umum tadi.

Untuk kelengkapan isi makalah silahkan Download

0 comments:

Post a comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Julian Cholse