Saturday, 9 April 2011

PENALARAN DALAM KARYA TULIS ILMIAH

Julian Cholse

A. Pendahuluan

Karya ilmiah menuntut kecermatan bahasa karena karya tersebut harus disebarluaskan kepada pihak yang secara tidak lansung berhadapan dengan penulis baik pada saat penulisan diterbitkan. Kecermatan bahasa menjamin bahwa makna yang disampaikan penulis akan sama persis seperti yang ditangkap pembaca tanpa terikat oleh waktu. Ciri bahasa keilmuan adalah kemampuan bahasa tersebut untuk mengungkapkan gagasan dan pikiran yang kompleks dan abstrak secara cermat. Kecermatan gagasan dan buah pikiran hanya dapat dilakukan kalau struktur bahasa sudah canggih dan mantap. Kemampuan berbahasa yang baik dan benar merupakan persyaratan muthlak untuk melakukan kegiatan ilmiah sebab bahasa merupakan sarana komunikasi ilmiah yang pokok. Tanpa penguasaaan tata bahasa dan kosakata yang baik akan sukar bagi ilmuan untuk mengkomunikasikan gagasannya kepada pihak lain. Aspek pikiran dan penalaran merupakan aspek yang membedakan bahasa manusia dan makhluk lain. Selanjutnya, disimpulkan bahwa aspek penalaran bahasa Indonesia belum berkembang sepesat aspek kultural. Demikian juga, kemampuan berbahasa Indonesia untuk komunikasi ilmiah dirasakan sangat kurang apalagi dalam komunikasi tulisan. Karya tulis ilmiah menuntut kecermatan dalam penalaran dan bahasa. Dalam hal bahasa, karya tulis semacam itu harus memenuhi ragam bahasa standar dan bukan bahasa informal atau pergaulan.
Hubungan antara pikiran dengan bahasa merupakan hubungan dua arah, yakni bahasa memengaruhi pikiran dan demikian juga pikiran memengaruhi bahasa. Hubungan antara bahasa dengan pikiran melibatkan banyak faktordan terjalin sangat rumit (Fe-nigan dan Besniar, 1993). Kegiatan berpikir diwujudkan dalam tiga tindak penalaran, yakni tindak pemahaman sederhana, penyu-sunan afirmasi/negasi, dan penyusunan sim-pulan. Tindak penyusunan simpulan meru-pakan tindak penalaran yang didasarkan ke-benaran yang telah diketahui sebelumnya (lama) untuk memperoleh pengetahuan baru (Sulivan, 1963). Berdasarkan pandangan itu, dapat dikatakan bahwa bahasa lisan atau tulis merupakan wahana untuk mewadahi penalaran penuturnya. Dengan demikian, karya tulis dapat digunakan sebagai wahana untuk melihat penalaran penuturnya.


B. Penalaran dalam Karangan Ilmiah

Penalaran menurut Anton M. Moeliono (1989), penalaran adalah pengambilan simpulan (conclusion, inference) dari bahan bukti atau petunjuk (evidence). Penalaran menurut Widjono Hs penalaran adalah (1) Proses berpikir logis, sistematis, terorganisasi dalam urutan yang saling berhubungan sampai dengan simpulan, (2) menghubung-hubungkan fakta atau data sampai dengan suatu simpulan, (3) Proses menganalisis suatu topik sehingga menghasilkan suatu simpulan atau pengertian baru, (4) Dalam karangan terdiri dua variabel atau lebih, penalaran dapat diartikan mengkaji, membahas, atau menghasilkan dengan menghubung-hubungkan variabel yang dikaji sampai menghasilkan suatu derajat dan simpulan, (5) Pembahasan suatu masalah sampai menghasilkan suatu simpulan yang berupa pengetahuan atau pengertian baru.

1. Penalaran Induktif

Penalaran induktif adalah proses berpikir logis yang diawali dengan observasi data, pembahasan, dukungan pembuktian, dan diakhiri kesimpulan umum. Penalaran induktif pada dasarnya terdiri dari 3 macam : generalisasi, analogi, dan sebab akibat. Generalisasi adalah penalaran berdasarkan atas pengamatan sejumlah segala yang bersifat khusus, serupa, atau sejenis yang disusun secara logis dan diakhiri dengan kesimpulan yang bersifat umum. Analogi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan terhadap gejala khusus dengan membandingkan atau mengumpamakan suatu objek yang sudah teridentifikasi secara jelas terhadap objek yang dianalogikan sampai dengan kesimpulan yang berlaku umum. Sebab akibat adalah proses penalaran berdasarkan hubungan ketergabungan antargejala yang mengikuti pola sebab akibat, akibat-sebab, sebab-akibat-akibat.

Contoh :
Seorang polisi lalulintas mengamati proses peristiwa di tempat kejadian perkara suatu kecelakaan lalulintas di perempatan Rawamangun Muka, persilangan Rawamangun Muka-Utan kayu dan Cililitan-Tanjung Priok yang terjadi pada tanggal 10 Juli 2000 pukul 12.30 WIB. Sebuah sepeda motor dari arah Tanjung Priok menabrak mobil sehingga pintu mobil di bagian kiri rusak, penyot sedalam 10 cm, dan sepeda motor tergeletak di dekat mobil yang ditabraknya. Seorang saksi mata menuturkan bahwa pengendara sepeda motor tersebut terkapar jatuh 1.5 m di sebelah kiri sepeda motornya. Dalam pengamatanya, melalui proses penghitungan waktu, polisi menyatakan bahwa pada saat mobil melintas dari arah Cililitan ke Rawamangun Muka lampu hijau menyala dan dibenarkan oleh para saksi. Polisi menyatakan bahwa dalam keadaan lampu merah sepeda motor berkecepatan tinggi dari arah Tanjung Priok menabrak mobil yang sedang berbelok dari arah selatan ke arah Rawamangun Muka. Hasil pengamatan : pengendara sepeda motor terbukti bersalah. Kesimpulan : (1)pengendara sepeda motor harus membiayai perbaikan mobil yang ditabraknya, (2)Membayar denda atas pelanggarannya.
Karangan ilmiah kualitatif induktif dilandasi penalaran (1) observasi data, (2) menyusun estimasi, (3) verifikasi analisis pembuktian, (4) pembenaran / komparasi konstan (terus-menerus dan berkelanjutan sampai suatu simpulan), (5) konfirmasi (penegasan dan pengesahan) melalui pengujian hipotesis , (6) hasil generalisasi /induksi.

2. Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif adalah proses berfikir logis yang diawali dengan penyajian fakta yang di sertai pembuktian khusus, dan diakhiri simpulan khusus yang berupa prinsip, sikap atau fakta yang berlaku khusus. Karangan deduktif mempunyai bermacam-macam jenis berdasarkan tehnik pengembangan-nya maupun urain isinya. Dalam paragraph jenis-jenis tersebut dapat dilihat pada contoh berikut ini.
Contoh
Pengembangan perekonomian Indonesia belum berpihak kepada rakyat kecil. Pertumbuhan pendapatan nasional (GNP) belum mengembirakan, produk ekspor belum secepat yang di harapkan, dan nilai tukar dolar cenderung menurun. Kondisi ini diperburuk oleh ketidakcerdasaan masyarakat menyikapi potensi nasional yang belum bermanfaat dengan baik. Misalnya : kekayaan laut setiap tahun hilang sia-sia sebesar 4 s.d. 5 milliar USD padahal oara nelayan kita menangis kelaparan. Tanah yang busur untuk berbagai komoditas (kapas, cokelat, dan sayur-mayur belum diberdayakan. Padahal petani dan buruh-tani kita menyekolahkan anaknyapun tidak mampu. Situasi menyedihkan jika pabrik tekstil lebih suka mengimpor kapas dari Negara industri yang sudah sangat maju. Kekayaan hutan mengalir ke Negara tetangga secara illegal. Padahal pengolahan kekayaan tersebut dapat menciptakan lapangan kerja bagi para penganggur. Selain itu, paradigma para petani dan pengusaha sering tidak sejalan misalnya: pabrik gula memerlukan tebu tetapi tidak banyak petani menanam tebu; pabrik tekstil memerlukan kapas; tetapi pengusaha tekstil lebih suka mengimpor kapas dari Amerika. Pabrik sepatu memerlukan peternak penghasil kulit, tetapi tidak banyak peternak tidak melakukanya. Pengusaha cenderung mengimpornya bahan baku tersebut. Padahal, produksi bahan baku ini daoat memberikan lapangan kerja yang cukup besar jika diproduksi secara nasional. Kondisi ini masih di perburuk oleh barang penyelendupan yang membanjiri masyarakat kita. Padahal produk yang sudah dihasilkan belum laku terhual – buruh kecil terancam PHK. Perekonomian nelayan, petani dan buruh kecil belum layak.

Paragraph di atas berupa karangan kualitatif deduktif, proses penalaran diawali dengan

(1) pernyataan yang besifat mu: perekonomian Indonesia belum berpihak kepada rakyat kecil.
(2) pembahasan kualifikasi perekonomian yang kurang berkembang.
(3) Spesifikasi perekonomian masyarakat kecil dalam bidang tertentu bagi: nelayan, petani buruh,
(4) Perekonomian nelayan petani, buruh kecil belum layak (deduktif)
Karangan kualitatif sering di gunakan dalam pembahasan masalah-masalahhumaniora (sastra, kemanusiaan, cinta kasih, penderitaan, dan lain-lain). Naum, kualifikasi produk yang bernilai ekonomi, seperti: keindahan pakaian, kecantikan,keserasian, dan lain-laindapat pula menggunakan jenis karangan ini/ selain itu, karangan jenis ini dapat pula berisi pembahasan produk teknologi yang dipadukan dengan seni, misalnya keindahan rumah, kemewahan mobil, dan kenyamanan menumpang pesawat terbang. Karangan jenis ini ditandai tanpa adanya angka kuantitatif.
Dalam karangan (laporan penelitian) deduktif di tandai dengan penggunaa angka kuatitatif yang bersifat rasional. Proses penalaran dapat di gambarkan dengan diagram berikut (Penalaran deduktif / induktif). Secara rinci proses tersebut mnguraikan

(1) bidang observasi; berdasarkan bidang studi kajian.
(2) rumusan masalah; pertanyaan yang akan dibahas.
(3) Kerangka teori; berisi pola pembahasan varibel.
(4) Tujuan, tahapan yang hendak dicapai.
(5) Rumusah hipotesis dan penjelasanya.
(6) Deskriptif data; diperlukan untuk mengujikan hipotesis.
(7) Desain penelitian (metode penelitian); proses pengumpulan data, pengolahan, hasil analisis data sampai dengan simpulan.
(8) Analisis data
(9) Hasil analisis, dan
(10) Simpulan deduktif; interpretasi atas hasil.


Untuk kelengkapan isi makalah silahkan Download

0 comments:

Post a comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Julian Cholse