Saturday, 19 May 2012

Perjuangan Hidup Demi Keutuhan Keluarga

Julian Cholse




Kehidupan
Hidup adalah sebuah  pilihan, hendaknya itulah yang dikatakan orang-orang. Tapi bagiku bukan ! Setiap orang telah ditentukan oleh Tuhan kemana dia akan berujung dan kemana dia akan berarah. Jika hidup adalah pilihan aku akan memilih untuk tak hidup seperti ini dan menjadi seperti mereka, mereka yang bahagia dengan segala yang mereka punya. Jika hidup adalah pilihan aku akan memilih untuk mempunyai apa yang aku mau. Jika hidup adalah pilihan aku akan memilih kembali kemasa lalu dan memperbaiki segalanya. Jika hidup adalah pilihan aku akan meminta Ibu ku tak menderita menunggu diriku genap dan mempunyai gelar seperti kakak-kakak ku. Sebuah hidup adalah anugrah dari Tuhan yang harus kita jaga dan pilihan adalah untuk hal yang baik dan buruk dalam menjalani hidup, buka hidup yang menjadi sebuah pilihan. Kau tau maksudku ? ku harap begitu

Dalam setiap kehidupan akan selalu ada yang kurang, lebih, dan memotivasi hidup untuk bertahan lebih lama. Poin terakhir aku tak pernah menyangka ternyata bisa. Aku merasakan sejak aku kecil hingga sekarang keajaiban Tuhan nyata dalam kehidupan ku walau tak seperti apa yang kuharapkan. Satu orang yang sangat kukasihi di dunia ini berjuang melawan penyakit ganas dalam dirinya dan berjuang hingga kini untuk menanti setiap anaknya genap dan mempunyai hidup yang tetap.
Terkadang akupun sampai tak percaya dia mampu bertahan sampai sekarang dan berjuang melawan Kanker Hati yang membayang bayangi nya.

“Setelah tidak mampu lagi untuk menahan sakit penyakit dia pun melukan operasi pengangkatan separuh hati di Penang, Malaysia dan hal tersebut hanya bertahan selama 1 tahun hingga akhirnya terulang kembali. Sisa hatinya kembali diserang kanker dan harus menjalani Kemoterapi dengan meminum obat kemotgerapi 2 kali sehari seharga 500rb. Yang merupakan suatu harga fantastis bagi kondisi keluargaku yang kekurangan, belum lagi ditambah uang kuliahku sekitar 15 juta pertahun dan uang makan dan kost ku 16 juta pertahun. Untungnya aku punya keluarga yang baik, yang meminjamkan uangnya kepada kami tanpa Bungan dan mencicil membayarnya setiap bulan. Setidaknya itulah rutinitas kami selama aku kecil. Kali ini bahkan harus mengorbankan menjual sebuah kebun untuk menafkahi kebutuhan keluarga yang mencapai 45juta perbulan. Memang sungguh ironis dan aku menjadi tak tenang dengan kuliahku karena dibayang-bayangi oleh permintaan kedua orang tuaku untuk cepat-cepat lulus kuliah. Memang kuliahku harusnya bisa lulus bulan januari, namun karena pergantian sistem KKN kuliahku harus lulus paling cepat April atau sekitar 3 tahun dan 8 bulan meluluskan S1.”

Yah itulah perjuangan teman, orang-orang yang kukasihi selalu berjuang menghadapi kenyataan hidup. Aku tak tahu bagaimana akhir cerita ini. Dan aku tak tahu apakah aku mampu menyelesaikan kuliahku sebab dana kuliah yang begitu mahal, dan aku tak tahu apakah impian mamaku untuk melihat aku genap dan mempunyai gelar akan tercapai sebab untuk menggapai itu membutuhkan dana yang tak sedikit. Setidaknya aku bersyukur kepada Tuhan bahwa aku mempunyai keluarga yang indah, sebab banyak diantara yang lain tak seindah keluargaku

0 comments:

Post a comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Julian Cholse