Saturday, 9 April 2011

PENULISAN KERANGKA KARANGAN

Julian Cholse

A. Pengantar

Pada umumnya, dalam penulisan sebuah karangan, diperlukan sebuah perencanaan untuk mengetahui bagian mana yang sudah baik dan bagian mana yang masih perlu disempurnakan kembali. Jarang sekali ada penulis yang langsung dapat menuangkan isi pikirannya sekaligus secara teratur, terperinci, dan sempurna di atas kertas. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa dalam membuat sebuah karangan, jarang ada orang-orang yang merumuskan kerangka karangan terlebih dulu, terutama kaum awam yang bukan dari kalangan penulis. Banyak orang menganggap bahwa kerangka karangan adalah suatu hal yang tidak wajib dan tidak memberikan banyak manfaat dalam penulisan karangan. Padahal, kerangka karangan memberikan perencanaan bagaimana karangan hendak dibuat. Maka dari itu, penulis pertama-tama harus membuat sebuah bagan atau sebuah rencana kerja, yang setiap kali dapat mengalami perbaikan dan penyempurnaan, sehingga mencapai bentuk yang lebih sempurna. Selain itu, hubungan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain dapat terlihat dengan jelas. Metode yang dimaksud adalah kerangka karangan atau outline.
Sebuah kerangka karangan mengandung rencana kerja, memuat ketentuan-ketentuan pokok bagaimana suatu topik harus diperinci dan dikembangkan. Kerangka karangan tidak boleh diperlakukan sebagai suatu pedoman yang kaku, tetapi selalu dapat dilakukan perubahan dan perbaikan untuk mencapai suatu hasil yang semakin sempurna. Dengan kerangka karangan, rangkaian ide dapat disusun secara sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan teratur.
Jadi secara singkat, dapat dikatakan kerangka karangan adalah rencana penulisan yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan digarap, dan merupakan rangkaian ide-ide yang disusun secara sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan teratur.


B. Manfaat Kerangka Karangan

Metode kerangka karangan membantu setiap penulis untuk meminimalkan kesalahan yang mungkin dapat terjadi. Manfaat kerangka karangan antara lain:

a. Untuk menyusun karangan secara teratur

Kerangka karangan membantu penulis untuk melihat gagasan, sehingga dapat dipastikan apakah susunan dan hubungan timbal balik antara gagasan sudah tepat atau belum, dan apakah gagasan itu sudah disajikan dengan baik dan harmonis dalam perimbangannya.

b. Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda

Setiap tulisan dikembangkan menuju ke satu klimaks tertentu. Namun sebelum mencapai klimaks, terdapat sejumlah bagian yang berbeda kepentingannya terhadap klimaks utama. Setiiap bagian juga memiliki klimaks tersendiri, hal ini bertujuan pembaca dapat terpikat secara terus-menerus.

c. Menghindari penggarapan sebuah topik sampai dua kali atau lebih

Penyelesaian suatu topik sampai dua kali atau lebih tidak perlu dilakukan. Karena hal tersebut hanya akan membawa efek yang tidak menguntungkan, misalnya bila penulis tidak sadar akan pendapatnya yang pertama dan pendapatnya yang lain. Hal ini dapat menyebabkan dua pendapat yang saling bertentangan satu sama lain terhadap topik yang sama.

d. Memudahkan penulis untuk mencari materi baru

Dengan menggunakan perincian dalam kerangka karangan penulis dengan mudah akan mencari data atau fakta untuk dapat memperjelas atau membuktikan pendapatnya.

e. Mencegah pembahasan keluar dari sasaran yang sudah dirumuskan dalam topik, judul, kalimat tesis, dan tujuan karangan

Dengan menyusun kerangka karangan, diharapkan tidak ada pembahasan yang keluar dari topik semula.

f. Memperlihatkan kekurangan dan kelebihan materi pembahasan

Kerangka karangan dapat menunjukkan bagian mana yang sesuai atau tidak sesuai dengan topik, sehingga bisa dilihat bagian yang kurang atau berlebihan dalam suatu karangan.

Dengan penyusutan ini pembaca akan melihat wujud, gagasan, struktur, serta nilai umum dari karangan itu. Kerangka karangan merupakan miniatur atau prototipe dari sebuah karangan. Dengan demikian, tesis atau pengungkapan maksud = kerangka karangan = karangan = ringkasan.


C. Penyusunan Kerangka Karangan

Suatu kerangka karangan yang baik tidak hanya sekali dibuat. Penulis selalu berusaha menyempurnakan bentuk yang pertama sehingga diperoleh bentuk yang baik. Berikut langkah-langkah yang perlu diikuti, terutama bagi mereka yang baru mulai menulis:

a. Merumuskan tema yang jelas

Tema dirumuskan berdasarkan topik dan tujuan yang hendak dicapai dari penulisan karangan. Tema juga harus dirumuskan dalam bentuk tesis atau pengungkapan maksud, sehingga tujuan penulisan karangan tersebut jelas.

b. Menginventarisasi topik-topik bawahan yang dianggap perincian dari tesis atau pengungkapan maksud

Inventarisasi topik merupakan perincian dari tesis atau pengungkapan maksud rumusan tema. Dalam hal ini, penulis dapat mencatat sebanyak-banyaknya topik yang terlintas dalam pikirannya.

c. Mengevaluasi seluruh topik

Evaluasi topik dapat dilakukan dalam beberapa tahap:
1. Harus diperhatikan apakah topik-topik tersebut sudah memiliki pertalian atau relevansi dengan tesis atau pengungkapan maksud. Jika tidak ada pertalian sama sekali, sebaiknya topik tersebut dihilangkan dari daftar.

2. Topik-topik yang masih dipertahankan harus dievaluasi lebih lanjut. Topik-topik yang masih dipertahankan harus dievaluasi lagi, apakah ada lebih dari satu topik yang membahas hal yang sama, walaupun dirumuskan dengan cara yang berbeda. Apabila terjadi hal seperti itu, harus diadakan perumusan baru yang mencakup topik semua topik tersebut.

3. Harus dievaluasi lagi apakah semua topik sifatnya sederajat atau tidak. Jika ada, hendaknya topik-topik bawahan itu dimasukkan ke dalam topik yang lebih tinggi kedudukannya, tetapi bila topik bawahan itu hanya ada satu, sebaiknya dilengkapi dengan topik-topik bawahan yang lain.

4. Ada kemungkinan bahwa ada dua topik atau lebih yang kedudukannya sederajat, tetapi lebih rendah dari topik-topik yang lain. Jika demikian, usahakanlah untuk mencari satu topik yang lebih tinggi guna membawahi topik-topik tersebut.

d. Untuk mendapatkan kerangka karangan yang sangat terperinci, maka kita harus mengevaluasi dan menganalisis kesetaraan topik berulang-ulang agar kita dapat menyusun topik-topik yang lebih rendah tingkatannya.

e. Menentukan sebuah pola susunan yang paling cocok untuk mengurutkan semua perincian dari tesis atau pengungkapan maksud. Dengan adanya pola susunan tersebut, semua perincian akan tersusun kembali, sehingga akan diperoleh sebuah karangan yang baik.

D. Pola Susunan Kerangka Karangan

Pola karangan dibuat agar kerangka karangan dapat tersusun secara teratur. Pola karangan terdiri dari beberapa tipe susunan dan cara. Pola susunan yang paling utama adalah pola alamiah dan pola logis. Pola ilmiah adalah pola yang didasarkan atas urutan-urutan kejadian, tempat, atau ruang. Pola logis lebih dipengaruhi oleh jalan pikiran manusia tentang persoalan yang tengah dikerjakan itu dan cara menghadapinya.

a. Pola Alamiah

Pola alamiah adalah suatu urutan unit-unit kerangka karangan yang sesuai dengan keadaan nyata di alam. Oleh sebab itu, susunan alamiah dapat dibagi lagi menjadi tiga bagian utama, yaitu urutan berdasarkan waktu (urutan kronologis), urutan berdasarkan ruang (urutan spasial), dan urutan berdasarkan topik yang sudah ada.

1. Urutan waktu (kronologis)

Urutan waktu adalah urutan yang pada runtutan peristiwa atau tahap-tahap kejadian. Caranya adalah dengan mengurutkan kejadian berdasarkan urutan kejadiannya. Peristiwa yang satu mendahului yang lain atau suatu peristiwa mengikuti peristiwa yang lain. Terkadang suatu peristiwa tidak akan terlihat menarik jika tidak dilihat sebagai suatu rangkaian dengan peristiwa-peristiwa lainnya, sehingga urutan waktu harus diperhatikan.
Urutan kronologis sering digunakan dalam roman, novel, cerpen, dan dalam bentuk karangan naratif lainnya, adalah suatu variasi yang mulai dengan suatu titik yang menegangkan, kemudian mengadakan flashback sejak awal hinga titik yang menegangkan. Uraian selanjutnya mencakup perkembangan sesudah apa yang dikemukakan dalam bagian pertama yaitu titik yang menegangkan.
Urutan kronologis adalah urutan yang paling umum, tetapi juga merupakan satu-satunya cara yang kurang menarik dan paling lemah. Sering, terutama dalam menjelaskan suatu proses, urutan ini merupakan cara yang esensial.

2. Urutan ruang (spasial)

Urutan ruang menjadi landasan yang paling penting jika topik memiliki hubungan yang erat dengan aspek keruangan. Urutan ini sering digunakan terutama dalam tulisan-tulisan yang bersifat deskriptif. Jalan pikiran penulis akan mudah diikuti secara teratur oleh pembaca jika aspek keruangan digambarkan secara berurutan. Uraian tentang kepadatan penduduk digambarkan dengan urutan geografis, dari timur ke barat atau dari utara ke selatan.

3. Topik yang ada

Suatu pola peralihan yang dapat dimasukkan ke dalam pola alamiah adalah urutan berdasarkan topik yang ada. Suatu barang, hal, atau peristiwa sudah dikenal dengan bagian-bagian tertentu. Untuk menjelaskan hal tersebut secara lengkap, bagian-bagian itu harus dijelaskan secara berturut-turut dalam karangan itu, tanpa mempersoalkan mana yang lebih penting dari bagian lainnya, dan tanpa memberi tanggapan atas bagian-bagian itu. Penulis diperbolehkan menguraikan bagian-bagian itu tanpa implikasi bahwa yang diuraikan lebih dahulu adalah bagian yang lebih penting daripada yang diuraikan sesudahnya.

b. Pola Logis

1. Urutan Klimaks dan Anti Klimaks

Urutan ini timbul sebagai tanggapan penulis yang memiliki pendirian bahwa posisi tertentu dari suatu rangkaian merupakan posisi yang paling tinggi kedudukannya. Jika posisi yang paling penting kedudukannya itu berada di belakang, urutan ini disebut klimaks. Dalam urutan klimaks, pengarang mengurutkan bagian-bagian dari topik itu ke dalam suatu urutan yang semakin dalam kepentingannya, dimulai dari yang paling rendah kepentingannya.
Urutan yang merupakan kebalikan dari klimaks adalah anti klimaks. Dalam urutan ini, penulis mulai dari bagian-bagian yang paling penting dari sebuah rangkaian, dan berangsur-angsur menuju kepada suatu topik yang paling rendah kepentingannya. Urutan ini hanya efektif jika digunakan dalam penyajian hal-hal konkret, misalnya hierarki jabatan, sedangkan untuk mengemukakan hal-hal yang abstrak, urutan klimaks akan mengalami kesulitan karena tidak menarik perhatian. Pembaca tidak akan tertarik dan menaruh perhatian lagi karena hal-hal yang penting sudah dikemukakan di depan. Kekecewaan terhadap urutan anti klimaks disebabkan oleh kegagalan menempatkan bagian yang paling penting secara tepat.

2. Urutan Kausal

Urutan kausal mencakup dua pola, yaitu urutan sebab-akibat dan urutan akibat-sebab. Pada pola sebab-akibat, suatu permasalahan dianggap sebagai sebab, kemudian dilanjutkan dengan perincian-perincian yang menelusuri akibat-akibat yang mungkin terjadi. Urutan ini sangat efektif jika digunakan dalam penulisan sejarah atau persoalan-persoalan yang dihadapi umat manusia pada umumnya. Sebaliknya dalam pola akibat-sebab, permasalahan dilihat sebagai suatu akibat yang dilanjutkan dengan perincian-perincian untuk menelusuri sebab-sebabnya. Cara ini merupakan cara yang paling umum digunakan dalam sebuah karangan.

3. Urutan Pemecahan Masalah

Urutan pemecahan masalah dimulai dengan suatu masalah tertentu, kemudian bergerak menuju pemecahan masalah tersebut atau kesimpulan umum. Sekurang-kurangnya uraian yang menggunakan landasan pemecahan masalah terdiri dari tiga bagian utama, yaitu deskripsi mengenai peristiwa atau persoalan tadi, analisis mengenai sebab-sebab atau akibat-akibat dari persoalan, dan alternatif-alternatif untuk jalan keluar dari masalah yang dihadapi tersebut.
Untuk memecahkan masalah tersebut, penulis harus benar-benar menemukan semua sebab, baik secara langsung maupun tidak langsung. Setiap hal baru bisa dikatakan masalah apabila akibat-akibatnya sudah mencapai titik kritis. Jadi untuk memecahkan masalah, hal yang dilakukan tidak sekadar menemukan sebab-sebab, melainkan juga menemukan semua akibat, baik secara langsung mapupun tidak langsung, yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi, sehingga masalah bisa terselesaikan secara tuntas.

4. Urutan Umum-Khusus

Urutan ini terdiri dari dua corak, yaitu umum ke khusus dan khusus ke umum. Urutan dari umum ke khusus pertama-tama memperkenalkan kelompok-kelompok yang paling besar atau yang paling umum, kemudian menelusuri kelompok-kelompok khusus yang lebih kecil. Contohnya, pertama-tama penulis menguraikan bangsa Indonesia secara keseluruhan, kemudian berlanjut ke hal-hal yang lebih khusus, seperti suku-suku bangsa di Indonesia. Dari uraian yang bersifat khusus tadi bisa dirinci lagi ke hal-hal yang lebih mendetail, misalnya uraian dari setiap suku di Indonesia. Urutan khusus–umum adalah kebalikan dari urutan umum–khusus. Penulis mengawali dengan hal-hal yang bersifat khusus, kemudian beranjak ke hal-hal yang bersifat lebih umum yang mencakup hal-hal khusus tadi. Urutan ini lazim digunakan karena sesuai dengan corak berpikir manusia pada umumnya.
Urutan umum–khusus mengandung implikasi bahwa hal-hal yang bersifat umu sudah diketahui penulis, sehingga tugas selanjutnya adalah mengidentifikasi hal-hal khusus yang mengikuti pola umum tadi. Sebaliknya, urutan khusus-umum mengandung implikasi bahwa hal-hal yang bersifat umum maupun khusus belum diketahui sama sekali. Hanya untuk menemukan kaidah-kaidah umum perlu diselidiki terlebih dahulu hal-hal yang bersifat khusus secara saksama. Urutan umum–khusus ini sebenarnya dapat mencakup pula urutan sebab–akibat, klimaks, pemecahan masalah, dan dapat pula mengambil bentuk klasifikasi atau ilustrasi. Dalam ilustrasi mula-mula dikemukakan suatu pernyataan umum, kemudian diajukan penjelasan-penjelasan yang dapat menunjang, dan bila perlu disajikan ilustrasi-ilustrasi yang dapat berbentuk contoh, perbandingan, atau pertentangan.

Untuk Kelengkapan isi makalah silahkan Download

Friday, 8 April 2011

IHWAL ABSTRAK DAN HIPOTESIS DALAM KARANGAN ILMIAH

Julian Cholse

B. Ihwal Abstrak

a. Pengertian Abstrak

Abstrak ternyata banyak didefinisikan dengan sangat beragam oleh para ahli. Keanekaragaman ini yang membuat kita sebagai para pembaca menjadi lebih paham arti dari abstrak itu sendiri. Abstrak merupakan bentuk penyajian singkat sebuah laporan atau dokumen yang ditulis secara teknis, teliti, tanpa kritik atau penafsiran penulis abstrak.
Menurut American National Standard Institute abstrak juga dapat didefenisikan sebagai pernyataan singkat tetapi akurat dari isi laporan atau dokumen tanpa menambah tafsiran atau kritik dan tanpa membedakan untuk siapa abstrak tersebut dibuat.
Menurut ISO 214 – 1976 abstrak juga didefenisikan sebagai uraian singkat tetapi akurat yang mewakili isi dokumen, tanpa menambah interpretasi atau kritik dan tanpa melihat siapa pembuat abstrak tersebut.

b. Karakteristik Abstrak

Secara singkat tidak memuat latar belakang, tidak memuat contoh, tidak memuat penjelasan alat, cara kerja dan proses yang sudah lazim / dikenal, tidak lebih dari 250 kata. Ihwal Abstrak ini hanya memuat metode kerja dari pengumpulan data sampai dengan penyimpulan dan data yang sudah diolah / hasil analisis. Kalau secara cermat ihwal abstrak menggunakan sumber dokumen asli secara cermat, mudah dipahami, dan menggunakan kata atau istilah yang sama dengan dokumen aslinya. Bentuk tulisan dalam ihwal abstrak ini bersifat informatif, kualitatif atau kuantitatif bergantung pada naskah aslinya dan deskriptif, analisis, induktif atau deduktif itu juga bergantung pada naskah aslinya.

c. Jenis – jenis Abstrak

Dalam ihwal abstrak terdapat dua jenis ihwal abstrak yakni abstrak indikatif yaitu abstrak yang menguraikan secara singkat masalah yang terkandung dalam dokumen lengkapnya. Sayangnya abstrak jenis ini tidak memadatkan isi dokumen aslinya. Abstrak ini bertujuan agar lebih cepat diketahui isinya. Dengan ditunjukkan indikasi sasaran dan cakupan tulisannya, diharapkan pembaca dapat mempertimbangkan apakah tulisan yang asli perlu dibaca atau tidak. Jenis yang kedua yakni abstrak informatif yaitu miniatur laporan atau dokumen asli dengan menampilkan selengkap mungkin data laporan sehingga pembaca abstrak tidak perlu lagi membaca naskah aslinya, kecuali untuk mendalaminya. Abstrak informatif menyajikan keseluruhan naskah asli dalam bentuk mini yang meliputi judul, penulis, asli, lembaga, tujuan, metode, metode pembahasan atau analisis, hasil analisis, dan kesimpulan.

C. Ihwal Hipotesis

a. Pengertian Hipotesis

Secara etimologis, kata hipotesis berasal dari bahasa Yunani, yaitu Hypo atau Hupo yang artinya kurang dari atau sebelum dan Tesis yang artinya dalil, hukum, pendapat, atau kesimpulan. Jadi, kata ‘hipotesis’ artinya adalah ‘sebelum dalil’. Hipotesis dapat dikatakan ‘sebelum dalil’ karena ‘dalil sementara’ itu belum dibuktikan kebenarannya lewat penelitian. Maka agar dalil sementara itu menjadi dalil yang sesungguhnya, harus dibuktikan terlebih dahulu di dalam keseluruhan proses analisis penelitian. Hipotesis pada akhirnya akan berubah menjadi teori setelah melewati tahapan pembuktian.
Hipotesis bisa salah, bisa juga benar. Jika dalam penelitian ternyata terbukti bahwa sebuah hipotesis itu salah, penelitian itu harus dibuat lagi yang baru. Artinya, dengan hipotesis yang terbukti salah itu, penelitian baru sebagai kelanjutan penelitian yang dilakukan sebelumnya dapat dilakukan. Jadi, kalau hipotesis itu keliru, tidak berarti bahwa rumusan hipotesis itu keliru, atau penelitianya keliru. Konon Johann Kepler (1571—1630) seorang ilmuwan Jerman di dalam penelitian astronominya telah membuat 19 buah hipotesis yang semua dibantahnya sendiri. Dia adalah pendahulu dari Isaac Newton. Nah, dalam penelitian yang bukan pertama-tama untuk tujuan pengembangan ilmu, katakan saja penelitian proyek, hipotesis itu sering diubah tanpa melaksanakan kembali penelitian. Tentu saja, ini tindakan yang keliru bagi seorang ilmuwan.

b. Isi Hipotesis

Isi hipotesis ada tiga jenis yang pertama yaitu antiseden adalah bagian kalimat dalam hipotesis yang diawali oleh kata – kata ‘jika’, ‘seandainya’, atau ‘seandainya tidak’. Yang kedua, konsekuen yaitu harus dibuat bertautan dengan antiseden. Sebuah konsekuen harus dilakukan dengan pembuktian kebenaran dalam pelaksanaan penelitian. Yang ketiga, dependen yaitu hubungan antara antiseden dan konsekuen. Hubungan itu harus merupakan hubungan sebab dan akibat yang benar.
Contoh hipotesis
  •  Seandainya Gani sembuh maka ia dapat melanjutkan kuliah.
  • Seandainya harga tidak naik maka permintaan akan tetap.
  • Seandainya x = 5 maka x2 = 7x – 5


c. Macam – macam Hipotesis

Hipotesis juga terdiri dari berbagai macam bentuk. (1) Hipotesis deskriptif yaitu ditunjukkan untuk mendemonstrasikan dugaan sementara tentang bagaimana benda-benda, pristiwa-pristiwa, dapat terjadi. Misalnya bagaimana bumi terbentuk ?, bagaimana sungai terbentuk ?. (2) Hipotesis argumentative digununakan untuk menunjukkan mengapa benda-benda atau peristiwa itu terjadi. Contohnya: mengapa bumi berbentuk bulat ?, mengapa matahari panas ?. (3)Hipotesis kerja digunakan untuk menjelaskan akibat dari suatu sebab. Hipotesis ini digunakan untuk menjelaskan bahwa sendainya variabel berubah maka variabel lain akan berubah pula. Fungsinya adalah sebagai penuntun penelitian. (4)hipotesis nol dirumuskan untuk memeriksa kebenaran suatu dalil atau teori yang kemudian akan ditolak dengan pembuktian yang sah.

D. Karya Ilmiah (Akademis)

a. Pandangan Umum dan Penyusunannya

Menulis itu tidak gampang, para penulis menulis dengan hati tetapi mengeditnya dengan otak. Seperti dalam membuat vas, kita harus membutuhkan tanah liat dan bagaimana kita membentuk tanah liat tersebut menjadi sebuah karya yang indah. Seperti ilustrasi berikut: burung diatas dahan tidak pernah akan mati kalau si pemburu hanya mengacung-acungkan senapan dan tidak segera menembaknya. Orang jawa bilang, itu hanya “ngangak-agaki”!. Dalam menyusun karya ilmiah kita harus bisa beranalogi.

b. Mengenali Karya-karya Ilmiah

Dalam menulis karangan ilmiah kita harus mengerti dan mengenali bentuk dari karangan ilmiah tersebut. (1)factually basis, harus berdasarkan pada data yang harus tersedia dalam kualifikasi “sempurna”. Kita harus cermat sejak dari penentuan sember datanya, penerapan metode pengumpulan datanya , identifikasi datanya, seleksi datanya, klasifikasi datanya, analisis datanya, sampai pada penyajian hasil analisis. (2)logical thinking, logical analyisis, dan logical condution yaitu mengenali dari dasar pemikirannya, cara berpikir, rumusan masalah, rumusan masalah, cara pembahasan, dan penarikan konklusinya harus logis. Dari konklusi yang logis itu akan dapat dimunculakan saran-saran dan implikasi yang logis pula.
Dengan kelogisan di dalam setiap dinensi dan langkah itulah yang menjadikan karangan ilmiah menjadi bermakna. (3)disinterested analysis, analisis pada karangan ilmiah ini tidak boleh memihak, harus objektif, harus sejalan dengan theoretical grouns yang dipilih sebagai ancangan analisis, hasil analisis, jangan sampai salah dan menyesatkan, harus tedibel, harus reliable, harus tepercaya dan harus sahi. (4)accurately dan sistematiclly presented , yaitu harus disajikan secara tepat, akurat dengan susunan yang sistematis, logis, rasional, dan susunan atau konstruksi yang berlaku universal juga harus dipertimbangkan dimensi keideosinkretisannya.(5)not emotive, tidak disajikan dengan bahasa yang haru, penuh dengan permohonan maaf, dan tidak dengan bahasa yang mendayu-dayu, tidak boleh bertele-tele, tidak boleh ada kemubaziran, harus to de point, tepat mengenai sasaran, dan disampaikan dengan bahasa dan gaya yang lugas.

c. Asas-asas Menulis Karangan Ilmiah

Menulis karangan ilmiah harus memakai asa-asas ilmiah yang terdiri dari (1) kejelasan yaitu karangan ilmiah harus konkret dan jelas. Kejelasan itu tidak hanya berarti mudah dipahami, dibaca, tetapi juga tidak memungkinkan untuk disalahtafsirkan, tidak boleh bersifat samar-samar / kabur, tidak boleh berada di wilayah abu-abu. Kejelasan dalam karangan ilmiah harus ditopang oleh hal-hal berikut : (a) pemakaian bentuk kebahasaan yang lebih dikenal daripada memakai kebahasaan yang masih harus dicari-cari dulu maknanya. (b) pemakaian kata-kata yang pendek, ringkas, tajam, lugas daripada memakai kata-kata yang berbelit , panjang, dan rancu. (c) pemakaian kata –kata dalam bahasa sendiri maupun menggunakan bahasa asing. Kata-kata asing dapat digunakan kalau memang istilah itu sangat teknis sifatnya. (2) Ketepatan yaitu menjunjung tinggi keakuratan. Hasil penelitian dan cara penyajan hasil penelitian harus tepat atau akurat. Dalam cara penyampaiannya, di dalam kalimat itu harus terwadahi butir-butir gagasan dengan kecocokan seperti yang dimaksud penulis.
Kualifikasi demikian yang dimaksud dengan istilah efektif. (3) Keringkasan, ringkas tidak sama dengan pendek. Karangan yang tebal dapat dikatakan ringkas sejauh didalamnya tidak terdapat bentuk kebahasaan yang bertele-tele dan sarat dengan kemubaziran dan kerancuan. Jadi, karangan ilmiah itu tidak boleh menghamburkan kata-kata, mengulang-ulang ide yang telah diungkapkan, dan tidak berputar-putar dalam mengngkapkan maksud atau gagasan. Karangan ilmiah harus dibangun dari ide yang kaya dengan bahasa yang hemat dan sederhana, bukan dengan ide yang miskin namun dengan bahasa berbunga-bunga. Karangan ini harus ditulis dengan hati, diteliti, dibenahi kembali, dan diedit dengan pikiran. Dalam asas ini ada prinsip yang mengatakan “Writing with heart, editing with brain”.

d. Cara Kerja Penyusunan Karangan Ilmiah.

Data yang telah dikumpulkan dan disajikan dalam kualifikasi sempurna, dianalisis dengan alat-alat analisis yang jelas. Alat-alat analisis itu bisa berupa teori-teori relevan yang menjadi dasar ancangan analisis dan tolok ukur / parameter yang dikenakan. Data harus dianalisis dengan cermat sambil mempertimbangkan berbagai persyaratan, kendala, aneka asumsi dan teori-teori relevan yang menjadi dasar ancangan penelitian. Dengan cara kerja demikian itu akan dapat dihasilkan kedimpulan yang kredibel, tepat, dan akurat.
Analisis yang demikian itu juga dapat dimunculkan saran-saran penelitian yang sungguh bermanfaat. Jelas, maksudnya saran itu harus konkret, relevan, saran itu harus sesuai dengan judul dan masalahnya. Operasional harus bisa dilaksanakan dan tidak boleh merupakan utopia-utopia. Terakhir, dapat juga dirumuskan implikasi penelitian yang tepat. Dengan rumusan itu maka ada semacam jaminan bahwa kelanjutan penelitian akan dilaksanakan dan bisa mengambil dimensi berbeda, sekalipun objek sasaran penelitiannya masih tetap sama.

1).Empat Langkah Penyediaan Data

Penentuan sumber data haruslah tepat dan haruslah ditemukan secara purposif, dengan segala pertimbangan dan risiko demi ‘data yang berkualifikasi sempurna’ untuk dianalisis. Inventarisasi data yaitu pengumpulan/penyediaan data dari sumber data yang sungguh kredibel dan dari ‘khasanah data’ yang tepat. Data juga harus dapat ditemukan dengan memadai atau bahkan melimpah, sehingga ada kesempatan bagi peneliti untuk ‘mengesampingkan data yang tidak baik’. Langkah berikutnya adalah seleksi data.
Seleksi data yaitu data yang telah ditemukan dan telah diinventarisasikan dengan baik. Data dipisahkan menjadi data yang baik, data yang kurang baik, dan data yang tidak baik.Klasifikasi data yaitu setelah seleksi dilakukan, data itu diklasifikasi, digolong-golongkan seperlunya disesuaikan dengan tujuan analisisnya. Data yang telah diklasifikasi dengan sempurna inilah yang kemudian dapat dikenai metode analis data. Artinya pula, hanya setelah data terklasifikasi dengan sempurna, analisis data dapat dilakukan.

2). Lima Aspek Analisis Data

Selain ada empat langkah penyediaan data juga adalah lima aspek analisis data. Apek itu meliputi persyaratan yakni beberapa hal yang dipersyaratkan oleh pihak lain di luar kekuasaan penulis. Kendala, kelemahan melekat yang terjadi di luar kekuasaan penulis. Asumsi yaitu anggapan – anggapan yang harus dibuat oleh penulis demi terwujudnya sebuah karya ilmiah. Sebuah karya ilmiah dapat terwujud karena adanya asumsi – asumsi yang ‘diiyakan’oleh penulis. Tolok ukur / parameter / pendekatan yaitu ukuran – ukuran yang digunakan dalam menilai data ketika data itu dianalisis. Dalam aspek ini ada dua kemungkinan yakni kuantitatif – kualitatif. Ancangan teori yakni hampiran / kerangka dasar teori yang dipakai sebagai kerangka kerja. Dengan ancangan teori yang tepat, dimungkinkan terlahir hasil analisis yang juga tepat.

Untuk Makalah yang lengkap Silahkan Download

Thursday, 7 April 2011

CATATAN KAKI DAN DAFTAR PUSTAKA

Julian Cholse


A.   Pengantar

Karya ilmiah banyak ragamnya, misalnya ada yang berupa makalah skripsi, jurnal artikel buku-buku ilmiah. Setiap ragam sudah pasti memiliki ciri masing-masing. Dalam penulisan karya ilmiah terdapat beberapa unsur diantaranya persembahan, kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, tubuh karangan, kesimpulan, catatan kaki, dan daftar pustaka. Di dalam makalah ini kami akan membahas dua unsur karya ilmiah yaitu catatan kaki dan daftar pustaka sebagai fokus makalah ini.
Catatan kaki merupakan catatan yang berada dibawah halaman atau pada akhir bab karangan ilmiah yang berisi sumber darimana kutipan tersebut diambil sehingga dapat dinyatakan kepada pembaca bahwa pengutip memperoleh informasi dari penulis atau pengarang tertentu dalam bukunya, yang berjudul demikian, diterbitkan oleh penerbit tertentu, kota tertentu, pada tahun tertentu, dan pada halaman sekian. Sedangkan daftar pustaka merupakan suatu daftar yang terperinci dan sistematis daripada sebuah karya ilmikah yang oleh penulisnya telah dipergunakan untuk menulis karangan ilmiah, baik dipergunakan secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam penulisan karya ilmiah sering terjadi kesalahan dalam penulisan khususnya penulisan catatan kaki dan daftar pustaka, oleh karena itu kami berharap makalah ini dapat menjadi suatu bahan referensi dalam pembuatan daftar pustaka sehingga kedepannya pembuatan catatan kaki dan daftar pustaka sesuai dengan kaidah kebahasaan yang telah ditetapkan.

B.   Catatan Kaki

Walaupun pada umumnya orang mengira bahwa catatan kaki hanya dipakai untuk menunjukkan sumber kutipan, tetapi sesungguhnya tidaklah demikian. Dalam hal ini akan dibahas hal-hal yang menyangkut penggunaan catatan kaki.
Dalam teknik ilmiah dengan mempergunakan catatan kaki umpamanya terdapat dua variasi. Variasi pertama, ialah bahwa catatan kaki itu di taruh dalam halaman yang sama, sedangkan dalam variasi kedua, catatan kaki itu seluruhnya dikelompokkan dan ditaruh pada akhir sebuah bab.

a.       Fungsi catatan kaki

Catatan kaki mempunyai empat fungsi sebagai berikut:
1.      Kewajiban mencantumkan sumber dari mana kutipan tersebut diambil merupakan suatu hal yang penting untuk menyatakan penghargaan kepada penulis/ pengarang lain yang buah pikiran dalam bukunya yang telah kita pinjam (to make acknowledgments)
2.      Untuk menyatakan kepada pembaca bahwa pengutip memperoleh informasi dari pengarang tertentu, dalam bukunya yang berjudul demikian, diterbitkan oleh penerbit tertentu, di kota tertentu, pada tahun sekian, dan pada halaman sekian ( to cite the authority for statements in text).
3.      Merupakan catatan penjelasan yang memberikan keterangan tambahan yang sangat berguna, yang dirasa tidak layak bila dimasukkan dalam teks (to make incidental comments).
4.      Untuk menunjukkan bahwa suatu topik yang sedang dikemukakan itu juga dapat di baca pada sumber referensi lain (to makae cross reference). Uraian selanjutnya terutama berhubungan dengan fungsi yang kedua tersebut.

b.      Nomor Catatan Kaki

Pernyataan yang akan diberi catatan kaki harus diberi nomor pada akhir dari pernyataan tersebut. Nomor ini diketik agak ke atas (setengah garis). Pada bagian bawah halaman kemudian diberi catatan kaki yang diperlukan.
Dalam satu bab, nomor catatan kaki hendaknya urut. Kalau pada satu halaman terdapat lebih dari satu catatan kaki, maka antara dua catatan kaki harus diberi dua garis tunggal. Antara catatan kaki dan teks harus dibubuhi sebuah garis sepanjang satu setengah inci. Jarak antara kalimat terakhir sebelum garis dan garis adalah satu garis ganda. Kalau catatan kaki lebih dari satu garis maka jarak antara baris yang satu dengan  yang lainnya satu garis tunggal.

c.       Catatan Kaki yang Panjang

Ada kalanya catatan kaki sangat panjang sehingga tidak dapat diselesaikan pada satu halaman. Dalam hal ini maka catatan kaki pada halaman itu harus dipotong dan dilanjutkan pada bagian kaki halaman berikutnya (kelanjutan dari catatan kaki ini juga harus dipisahkan dengan sebuah garis dari teks). Pemotongan catatan kaki ini diperlukan agar pembaca tahu catatan kaki  tersebut belum selesai.

d.      Catatan Kaki dari Suatu Tabel

Catatan kaki mengenai suatu tabel harus diketik dibawah tabel yang bersangkutan. Berbeda dengan catatan kaki yang lain, catatan kaki dari suatu tabel diketik dengan jarak satu garis tunggal dari tabelnya dan tidak memerlukan garis pemisah. Karena tabel memuat angka-angka maka nomor catatan kaki jangan memakai angka , sebagai gantinya dapat dipakai huruf kecil atau tanda-tanda (misalnya bintang, plus, dan lain-lain).

e.       Catatan Kaki Ganda

Kalau catatan kaki menyangkut lebih dari satu sumber kutipan, sumber-sumber kutipan tersebut dapat disebutkan dalam catatan kaki. Antara sumber satu dengan lainnya dipisahkan oleh tanda titik koma.

f.        Unsur catatan kaki
Untuk sumber kutipan terutama berwujud buku, unsur pokoknya terdiri dari :
1.      Nama pengarang/penulis buku.
2.      Judul buku/judul karangan.
3.      Data tentang penerbitan, yang mencakup kota, nama penerbit dan tahun penerbitan.
4.      Nomor halaman.

g.      Penggunaan Ibid., Op. cit., dan Loc. Cit.

Semua sumber kutipan yang baru muncul pertama kali harus ditulis secara lengkap, sedang untuk pemunculan berikutnya digunakan singkatan ibid., op. cit., atau loc. Cit.

Ibid. singkatan dari ibidem, digunakan  apabila segera sumber kutipan pertama diikuti dengan kutipan berikutnya yang sumbernya sama, tanpa diselingi dengan sumber kutipan lain.

Op. cit. singkatan dari opera citato, artinya dalam karya yang telah dikutip (dikutip terlebih dahulu). Kutipan berasal dari sumber yang sama dengan sumber yang pernah dikutip (hanya halamannya yang berbeda), tetapi telah diselingi dengan sumber kutipan lain.

Loc. Cit. singkatan dari loco citato, artinya yaitu tempat yang pernah dikutip (tempat – halaman buku). Kutipan berasal dari sumber yang sama dengan sumber yang pernah dikutip (termasuk halamannya sama), tetapi telah diselingi dengan sumber kutipan lain.

h.      Contoh-contoh Catatan Kaki

1.      William H. Newman, Administrative Action (London: Prentice Hall,  Inc., 1963), p. 463
2.      Ibid.
3.      Ibid., p. 473.
4.      Panglaykim dan Hazil, Management : Suatu Pengantar (Jakarta: PT Pembangunan, 1969), hal. 55.
5.      Newman, loc. cit.
6.      Newman, op. cit., p. 581
7.      William H. Newman, The Process of Management (London: Prentice Hall, Inc., 1961), p. 261.
8.      Gunawan Adisaputro et al., Business Forecasting: Latar Belakang Teoritis, Vol. I (Yogyakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, 1974), hal. 53.
9.      Newman, Administrave Action, op. cit., p. 590
10.  Newman, The Process of Management, loc. cit.
11.  Scientific Method in Business (College Parks: University of Maryland, 1973), p. 6.
12.  J.N.D. Anderson, ed., The World’s Religious (London: Inter-Versity Fellowship, 1950), p. 143
13.  Winardi (penyadur), Azas-azas Mangement (Bandung: Penerbit Alumni, 1979), hal. 71.
14.  William R. Shepherd, Historical Atlas, 8th ed. (New York: Barnes & Noble, 1956), p. 62.
15.  James D. Edward et al., Accounting: A Programmed Text, Vol. I (Homewood, Illinois: Richard D. Irwin, Inc., 1967), p. 29.
16.  Henry K. Blank, Art for Its Own Sake (Chicago: Nonpareil Press, 1910), p. 8.
17.  Elizabeth Cartright Penrose (Mrs. Markham), A History of France (London: John Murray, 1972), p.9.
18.  D.D. Hearn, Joel Burdin, and Lilian Katz, eds., Current, Research and Perpectives in Open Education (Washington, D.C.: American Association of Elementary Kindergarten-Nursery School Education, 1973), p. 89.
19.  Edward A. Krug, Curriculum Planning (New York: Harper & Row, 1950), p. 55. Dikutip dari Earl P. Kelly, “Education For What is Real” (New York: Harper & Row, 1947), p. 117.
20.  Peter Hagul, “Reliabilitas dan Validitas,” dalam Masri Singarimbun dan Sofian Effendi (penyunting), Metode Penelitian Survei (Jakarta: LP3ES, 1982), hal. 87.
21.  Sutrisno Hadi, Efisensi Kerja, Jilid I dari Seri Kapita Selekta “Psikologi Kerja,” 5 jilid (Yogyakarta: [t. p.], [t. th.]), hal. 31-36.
22.  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Pedoman Umum Ejaaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1980), hal. 16.




1.      Kutipan dari Sumber yang Lain
a)      Surat Kabar
1)      News in Manila Times, January 6, 1978, Part II, p. 2.
2)      Tajuk Rencana Dalam Kompas [Jakarta], Senin, 24 Oktober 1983, No. 114, Tahun ke-19 hal. 4.
3)      “Upacara Besar Pemakaman Bekas Raja Pau,” Kompas [Jakrta], Rabu, 2 November 1983, No. 123, tahun ke-19, hal. 1, kol. 6-7.
4)      Wildan Yatim, “Pembangunan Nasional dan Perusakan Nasional,” Kompas [Jakarta], 7 September 1983, hal. 4, kol. 3-4.



Untuk kelengklapan isi makalah silahkan Download

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Julian Cholse