Thursday, 7 April 2011

CATATAN KAKI DAN DAFTAR PUSTAKA

Julian Cholse


A.   Pengantar

Karya ilmiah banyak ragamnya, misalnya ada yang berupa makalah skripsi, jurnal artikel buku-buku ilmiah. Setiap ragam sudah pasti memiliki ciri masing-masing. Dalam penulisan karya ilmiah terdapat beberapa unsur diantaranya persembahan, kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, tubuh karangan, kesimpulan, catatan kaki, dan daftar pustaka. Di dalam makalah ini kami akan membahas dua unsur karya ilmiah yaitu catatan kaki dan daftar pustaka sebagai fokus makalah ini.
Catatan kaki merupakan catatan yang berada dibawah halaman atau pada akhir bab karangan ilmiah yang berisi sumber darimana kutipan tersebut diambil sehingga dapat dinyatakan kepada pembaca bahwa pengutip memperoleh informasi dari penulis atau pengarang tertentu dalam bukunya, yang berjudul demikian, diterbitkan oleh penerbit tertentu, kota tertentu, pada tahun tertentu, dan pada halaman sekian. Sedangkan daftar pustaka merupakan suatu daftar yang terperinci dan sistematis daripada sebuah karya ilmikah yang oleh penulisnya telah dipergunakan untuk menulis karangan ilmiah, baik dipergunakan secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam penulisan karya ilmiah sering terjadi kesalahan dalam penulisan khususnya penulisan catatan kaki dan daftar pustaka, oleh karena itu kami berharap makalah ini dapat menjadi suatu bahan referensi dalam pembuatan daftar pustaka sehingga kedepannya pembuatan catatan kaki dan daftar pustaka sesuai dengan kaidah kebahasaan yang telah ditetapkan.

B.   Catatan Kaki

Walaupun pada umumnya orang mengira bahwa catatan kaki hanya dipakai untuk menunjukkan sumber kutipan, tetapi sesungguhnya tidaklah demikian. Dalam hal ini akan dibahas hal-hal yang menyangkut penggunaan catatan kaki.
Dalam teknik ilmiah dengan mempergunakan catatan kaki umpamanya terdapat dua variasi. Variasi pertama, ialah bahwa catatan kaki itu di taruh dalam halaman yang sama, sedangkan dalam variasi kedua, catatan kaki itu seluruhnya dikelompokkan dan ditaruh pada akhir sebuah bab.

a.       Fungsi catatan kaki

Catatan kaki mempunyai empat fungsi sebagai berikut:
1.      Kewajiban mencantumkan sumber dari mana kutipan tersebut diambil merupakan suatu hal yang penting untuk menyatakan penghargaan kepada penulis/ pengarang lain yang buah pikiran dalam bukunya yang telah kita pinjam (to make acknowledgments)
2.      Untuk menyatakan kepada pembaca bahwa pengutip memperoleh informasi dari pengarang tertentu, dalam bukunya yang berjudul demikian, diterbitkan oleh penerbit tertentu, di kota tertentu, pada tahun sekian, dan pada halaman sekian ( to cite the authority for statements in text).
3.      Merupakan catatan penjelasan yang memberikan keterangan tambahan yang sangat berguna, yang dirasa tidak layak bila dimasukkan dalam teks (to make incidental comments).
4.      Untuk menunjukkan bahwa suatu topik yang sedang dikemukakan itu juga dapat di baca pada sumber referensi lain (to makae cross reference). Uraian selanjutnya terutama berhubungan dengan fungsi yang kedua tersebut.

b.      Nomor Catatan Kaki

Pernyataan yang akan diberi catatan kaki harus diberi nomor pada akhir dari pernyataan tersebut. Nomor ini diketik agak ke atas (setengah garis). Pada bagian bawah halaman kemudian diberi catatan kaki yang diperlukan.
Dalam satu bab, nomor catatan kaki hendaknya urut. Kalau pada satu halaman terdapat lebih dari satu catatan kaki, maka antara dua catatan kaki harus diberi dua garis tunggal. Antara catatan kaki dan teks harus dibubuhi sebuah garis sepanjang satu setengah inci. Jarak antara kalimat terakhir sebelum garis dan garis adalah satu garis ganda. Kalau catatan kaki lebih dari satu garis maka jarak antara baris yang satu dengan  yang lainnya satu garis tunggal.

c.       Catatan Kaki yang Panjang

Ada kalanya catatan kaki sangat panjang sehingga tidak dapat diselesaikan pada satu halaman. Dalam hal ini maka catatan kaki pada halaman itu harus dipotong dan dilanjutkan pada bagian kaki halaman berikutnya (kelanjutan dari catatan kaki ini juga harus dipisahkan dengan sebuah garis dari teks). Pemotongan catatan kaki ini diperlukan agar pembaca tahu catatan kaki  tersebut belum selesai.

d.      Catatan Kaki dari Suatu Tabel

Catatan kaki mengenai suatu tabel harus diketik dibawah tabel yang bersangkutan. Berbeda dengan catatan kaki yang lain, catatan kaki dari suatu tabel diketik dengan jarak satu garis tunggal dari tabelnya dan tidak memerlukan garis pemisah. Karena tabel memuat angka-angka maka nomor catatan kaki jangan memakai angka , sebagai gantinya dapat dipakai huruf kecil atau tanda-tanda (misalnya bintang, plus, dan lain-lain).

e.       Catatan Kaki Ganda

Kalau catatan kaki menyangkut lebih dari satu sumber kutipan, sumber-sumber kutipan tersebut dapat disebutkan dalam catatan kaki. Antara sumber satu dengan lainnya dipisahkan oleh tanda titik koma.

f.        Unsur catatan kaki
Untuk sumber kutipan terutama berwujud buku, unsur pokoknya terdiri dari :
1.      Nama pengarang/penulis buku.
2.      Judul buku/judul karangan.
3.      Data tentang penerbitan, yang mencakup kota, nama penerbit dan tahun penerbitan.
4.      Nomor halaman.

g.      Penggunaan Ibid., Op. cit., dan Loc. Cit.

Semua sumber kutipan yang baru muncul pertama kali harus ditulis secara lengkap, sedang untuk pemunculan berikutnya digunakan singkatan ibid., op. cit., atau loc. Cit.

Ibid. singkatan dari ibidem, digunakan  apabila segera sumber kutipan pertama diikuti dengan kutipan berikutnya yang sumbernya sama, tanpa diselingi dengan sumber kutipan lain.

Op. cit. singkatan dari opera citato, artinya dalam karya yang telah dikutip (dikutip terlebih dahulu). Kutipan berasal dari sumber yang sama dengan sumber yang pernah dikutip (hanya halamannya yang berbeda), tetapi telah diselingi dengan sumber kutipan lain.

Loc. Cit. singkatan dari loco citato, artinya yaitu tempat yang pernah dikutip (tempat – halaman buku). Kutipan berasal dari sumber yang sama dengan sumber yang pernah dikutip (termasuk halamannya sama), tetapi telah diselingi dengan sumber kutipan lain.

h.      Contoh-contoh Catatan Kaki

1.      William H. Newman, Administrative Action (London: Prentice Hall,  Inc., 1963), p. 463
2.      Ibid.
3.      Ibid., p. 473.
4.      Panglaykim dan Hazil, Management : Suatu Pengantar (Jakarta: PT Pembangunan, 1969), hal. 55.
5.      Newman, loc. cit.
6.      Newman, op. cit., p. 581
7.      William H. Newman, The Process of Management (London: Prentice Hall, Inc., 1961), p. 261.
8.      Gunawan Adisaputro et al., Business Forecasting: Latar Belakang Teoritis, Vol. I (Yogyakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, 1974), hal. 53.
9.      Newman, Administrave Action, op. cit., p. 590
10.  Newman, The Process of Management, loc. cit.
11.  Scientific Method in Business (College Parks: University of Maryland, 1973), p. 6.
12.  J.N.D. Anderson, ed., The World’s Religious (London: Inter-Versity Fellowship, 1950), p. 143
13.  Winardi (penyadur), Azas-azas Mangement (Bandung: Penerbit Alumni, 1979), hal. 71.
14.  William R. Shepherd, Historical Atlas, 8th ed. (New York: Barnes & Noble, 1956), p. 62.
15.  James D. Edward et al., Accounting: A Programmed Text, Vol. I (Homewood, Illinois: Richard D. Irwin, Inc., 1967), p. 29.
16.  Henry K. Blank, Art for Its Own Sake (Chicago: Nonpareil Press, 1910), p. 8.
17.  Elizabeth Cartright Penrose (Mrs. Markham), A History of France (London: John Murray, 1972), p.9.
18.  D.D. Hearn, Joel Burdin, and Lilian Katz, eds., Current, Research and Perpectives in Open Education (Washington, D.C.: American Association of Elementary Kindergarten-Nursery School Education, 1973), p. 89.
19.  Edward A. Krug, Curriculum Planning (New York: Harper & Row, 1950), p. 55. Dikutip dari Earl P. Kelly, “Education For What is Real” (New York: Harper & Row, 1947), p. 117.
20.  Peter Hagul, “Reliabilitas dan Validitas,” dalam Masri Singarimbun dan Sofian Effendi (penyunting), Metode Penelitian Survei (Jakarta: LP3ES, 1982), hal. 87.
21.  Sutrisno Hadi, Efisensi Kerja, Jilid I dari Seri Kapita Selekta “Psikologi Kerja,” 5 jilid (Yogyakarta: [t. p.], [t. th.]), hal. 31-36.
22.  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Pedoman Umum Ejaaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1980), hal. 16.




1.      Kutipan dari Sumber yang Lain
a)      Surat Kabar
1)      News in Manila Times, January 6, 1978, Part II, p. 2.
2)      Tajuk Rencana Dalam Kompas [Jakarta], Senin, 24 Oktober 1983, No. 114, Tahun ke-19 hal. 4.
3)      “Upacara Besar Pemakaman Bekas Raja Pau,” Kompas [Jakrta], Rabu, 2 November 1983, No. 123, tahun ke-19, hal. 1, kol. 6-7.
4)      Wildan Yatim, “Pembangunan Nasional dan Perusakan Nasional,” Kompas [Jakarta], 7 September 1983, hal. 4, kol. 3-4.



Untuk kelengklapan isi makalah silahkan Download

Wednesday, 6 April 2011

Proses Implementasi Enterprise Resources Planning (ERP) pada PT Semen Gresik

Julian Cholse

BAB 1
PENDAHULUAN
Enterprise Resources Planning (ERP) atau Sistem Perencanaan Sumber Daya Perusahaan adalah aplikasi perangkat lunak komputer yang terintegrasi dan menyeluruh. Secara arsitektural sistem, ERP dikembangkan berdasarkan modul-modul fungsional yang meliputi seluruh aspek sumber daya di dalam sebuah perusahaan/organisasi. Secara historis, ERP berasal dari metamorfosis dari MRP (Manufacturing Resources Planning) yang diarahkan untuk kelompok usaha manufaktur. Seiring dengan perkembangan teknologi, manajerial dan bisnis maka MRP pun berubah menjadi ERP. Istilah ERP sendiri diperkenalkan pertama kali oleh Gartner Group.
ERP telah berkembang sebagai alat integrasi, memiliki tujuan untuk mengintegrasikan semua aplikasi perusahaan atau aktivitas inti perusahaan yang meliputi penjualan dan pemasaran, pemeliharaan, produksi/manufakturing, pengadaan/logistik, gudang, SDM, Umum dan Keuangan ke pusat penyimpanan data (server) dan dapat dengan mudah diakses oleh semua unit kerja yang membutuhkan. Manfaat ERP bagi suatu perusahaan adalah sebagai berikut :
1.      Proses bisnis “Best Practice
2.      Integrasi dan real time
3.      Fungsi Pengendalian
4.      Proses lebih cepat dan efisien (tidak ada duplikasi)
5.      Ketepatan posting jurnal akuntansi
6.      Pencatatan dari sumber transaksi
7.      Flexible dan mudah dalam pemakaian
8.      Paperless
Sebuah sistem ERP akan membantu bagian-bagian dalam sebuah organisasi untuk berbagi data dan informasi, pengurangan biaya, dan perbaikan manajemen dari bisnis proses. Dengan keuntungan-keuntungan yang ditawarkan sistem tersebut, banyak perusahaan yang tergiur untuk mengimplementasikan. Di Indonesia, sudah cukup banyak perusahaan yang mengimplementasikan ERP diantaranya adalah Semen Gresik dengan software J.D.Edwards. Satu hal yang penting ketika mengimplementasikan ERP adalah perlu mempertimbangkan 3 komponen penting dalam sistem informasi yaitu business process, people dan IT.
Banyak juga sistem ERP yang mengalami kegagalan pada saat implementasi. Rata-rata kegagalan implementasi software ERP, SCM dan CRM didunia berdasarkan hasil survey adalah 50 persen sampai 70 persen. Dalam banyak tulisan, angka 70% dapat dikatakan ”standar” kegagalan yang dapat diterima bersama dalam proyek IT. Selanjutnya, Standish Group menyatakan hanya 10 persen perusahaan yang berhasil menerapkan ERP, 35 persen proyek dibatalkan dan 55 persen mengalami keterlambatan. Kondisi tersebut dialami juga oleh perusahaan di Indonesia, banyak yang bernasib sama dengan perusahaan di luar negeri yaitu mengalami kegagalan implementasi ERP setelah berinvestasi besar-besaran. Namun kegagalan tersebut jarang terungkap karena rata-rata perusahaan malu mengungkapkan detil kegagalan yang akan menurunkan citra perusahaan dan mengecewakan para konsumen dan shareholdersnya (Garside, 2004).

Gambar : Enterprise Resources Planning (ERP)

1.1  Keuntungan yang bisa diukur antara lain:

1.       Penurunan inventori
2.       Penurunan tenaga kerja secara total
3.       Peningkatan service level
4.       Peningkatan kontrol keuangan
5.       Penurunan waktu yang di butuhkan untuk mendapatkan informasi


1.2  Kelemahan Penggunaan ERP

 

1.  Waktu dan biaya implementasi yang melebihi anggaran
2.  Pre-implementation tidak dilakukan dengan baik
3.  Strategi operasi tidak sejalan dengan business process design dan pengembangannya
4.  Orang-orang tidak disiapkan untuk menerima dan beroperasi dengan sistem yang baru

a.      Kegagalan ERP biasanya ditandai oleh adanya hal-hal sebagai berikut:

·              Kurangnya komitmen top management
·              Kurangnya pendefinisian kebutuhan perusahaan (analisa strategi bisnis)
·              Cacatnya proses seleksi software (tidak lengkap atau terburu-buru memutuskan)
·              Kurangnya sumber daya (manusia, infrastruktur dan modal)
·              Kurangnya ‘buy in’ sehingga muncul resistensi untuk berubah dari para karyawan
·              Kesalahan penghitungan waktu implementasi
·              Tidak cocoknya software dgn business process
·              Kurangnya training dan pembelajaran
·              Cacatnya project design & management
·              Kurangnya komunikasi
·              Saran penghematan yang menyesatkan



1.3  Software ERP

Berikut adalah software ERP yang saat ini beredar, baik yang berlisensi bayar maupun open source
·         Acumatica
·         Dynamics AX
·         Compiere
·         ORACLE
·         JDE
·         BAAN
·         MFGPro
·         Protean
·         Magic
·         aLTiUs
·         SAP
·         Onesoft
·         IFS
·         AGRESSO
·         INTACS
·         BOSERP
·         EuClid System
·         Mincom Ellipse
·         Axapta
·         SPIN – Datadigi Indonesia
·         WD ERP-SYS




BAB 2
Latar Belakang Implementasi Enterprise Resources Planning (ERP)
pada PT Semen Gresik

PT. Semen Gresik adalah perusahaan bergerak di industri semen, yang didirikan sejak tahun 1957. Walau PT. Semen Gresik bergerak di bidang industri semen, namun PT. Semen Gresik menyadari bahwa perusahaan membutuhkan sebuah sistem informasi IT yang kompleks untuk meningkatkan kinerja perusahaan mereka.
Pada bulan Juni tahun 2001, ERP mulai diaplikasikan untuk mendukung bisnis proses yang ada di Semen Gresik dengan penerapan pertama kali dilakukan di bagian finansial. Dengan berjalannya waktu, implementasi dilakukan di bagian penjualan dan kemudian di bagian manufakturing.
Ada beberapa hal yang melatar belakangi Semen Gresik untuk mengimplementasikan ERP, yaitu :
  1. Kebutuhan ‘Back Bone System’ yang kuat dan mampu memberikan informasi yang relevan dan tepat waktu.
  2. Kebutuhan integrasi sistem informasi Semen Gresik Group (SSG) guna mendapatkan sinergi yang lebih optimal. Faktor-faktor yang mendorong adanya kebutuhan integrasi tersebut diantaranya adalah :
·         Bergabungnya Semen Tonasa dan Padang sebagai subsidiary Semen Gresik (distributor) Semen Gresik tersebar di wilayah Jawa-Bali sehingga membutuhkan sistem tersentralisasi untuk pengiriman ordernya agar order dapat segera diproses dan dipenuhi.
·         Jaringan distribusi Semen Gresik memiliki dua pabrik, dua puluh tiga gudang penyangga, seratus dua puluh distributor dan empat puluh Ekspeditur. Order dari distributor dapat dipenuhi dari pabrik maupun gudang penyangga sehingga perlu sistem informasi yang terintegrasi diantara pabrik, gudang dan distributor.
·         Jaringan pengiriman semen sangat kompleks dan melibatkan Ekspeditur untuk menyelenggarakan jasa transportasi di Semen Gresik, menyebabkan kebutuhan untuk mengintegrasikan informasi-informasi yang berkaitan dengan pengiriman barang terutama dengan pihak Ekspeditur.

Semen Gresik sebenarnya telah menggunakan aplikasi buatan sendiri (in-house development) berbasis program Foxbase dan database Sybase sejak 1989, namun aplikasi ini tidak begitu efektif untuk menunjang kinerja PT. Semen Gresik. Aplikasi ini juga tidak membuat bagian-bagian dalam PT. Semen Gresik terintegrasi satu sama lainnya. Oleh karena itu untuk meningkatkan tingkat efektifitas dan  efisiensi kinerja di PT. Semen Gresik, maka pada Oktober 2000 dibentuklah Tim Proyek Sistem Informasi Grup Semen Gresik untuk merealisasikan impian PT. Semen Gresik.







BAB 3
Proses Implementasi ERP pada PT. Semen Gresik
3.1  Proses Implemetasi ERP
Berikut ini adalah tugas Tim Proyek Sistem Informasi Grup Semen Gresik :
a.       Mendefinisikan rencana proyek yang realistis dan melaksanakan perubahan   proses bisnis sesuai tujuan perusahaan.
b.      Melaksanakan tahap-tahap pengembangan dan penerapan sistem dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan target waktu yang ditentukan.
c.       Mengusulkan penunjukan konsultan dan penetapan platform Sistem Informasi Perusahaan.
d.      Menyusun rencana anggaran dan melaporkan realisasi biaya proyek.
e.       Melaksanakan pengadaan barang dan jasa dalam batas-batas tertentu yang ditetapkan oleh direksi.
f.        Membuat laporan manajemen secara berkala dan menyusun dokumentasi  proyek.
Setelah melalui proses cukup panjang — memakan waktu hampir 1,5 tahun — Semen Gresik akhirnya memutuskan memakai solusi ERP JD Edwards. Alasannya, solusi ini merupakan solusi Best Practice, serta cukup fleksibel dan mudah diimplementasikan. Bahkan, beberapa pemain semen terbesar di dunia menggunakan solusi ini, seperti Lafarge, Cemplank, Argos, Cockburn Cement, Cruz Azul, Calme Cementi, Ferrobeton.
Sebelum diimplementasi, Tim Proyek meneliti lebih jauh calon user (stakeholder analysis) selama hampir empat bulan. Salah satu tujuannya: mengetahui sejauh mana tanggapan dan apresiasi mereka terhadap sistem baru yang akan segera diimplementasi. Hasilnya, beberapa calon user di sejumlah departemen memang ada yang menunjukkan resistensi terhadap perubahan, namun secara umum banyak yang menerima terhadap solusi ini.
Proses selanjutnya adalah perusahaan membeli beberapa perangkat hardware yang mendukungnya. Pada saat yang hampir bersamaan, perusahaan membangun jaringan LAN/WAN ke seluruh cabang hingga ke gudang-gudang yang tersebar di beberapa lokasi dan proses ini saja memakan waktu hingga dua tahun.
Proses implementasi modul-modul ERP ini, dimulai pada November 2000. Modul Maintenance, Inventory dan Purchasing bisa go live Oktober 2001. Menyusul kemudian modul Finance pada Januari 2002, dan terakhir modul Sales Order & Transportation bisa diselesaikan pada Juli 2002.
Proses impelementasinya dilakukan secara bertahap atas pertimbangan efektivitas. Pada fase ini, Semen Gresik dibantu oleh konsultan Berca Hardaya Perkasa dan Praweda. Ada sekitar 60 orang yang terlibat pada fase ini: 10 tenaga TI, dan sisanya terdiri dari para user dari berbagai departemen. Hal yang paling rumit terjadi adalah pada saat implementasi modul Sales Order & Transportation karena untuk modul ini, para user-nya tidak hanya dari kalangan internal, tapi juga berbagai mitra bisnis, seperti para buyer (distributor), toko-toko, dan perusahaan ekspeditur/transporter (pengangkut semen) yang jumlahnya sekitar 100 dan tersebar dari Serang, Madura hingga Bali. Sehingga kendalanya justru terletak pada sisi SDM-nya, bukan pada sistemnya. Oleh karena itu, sebelum implementasi, dilakukan proses sosialisasi. Antara lain, dengan mengumpulkan seluruh distributor dan memberikan briefing kepada mereka. Setelah proses implementasi selesai, dilanjutkan dengan tahap internalisasi (bersifat teknis): tim TI Semen Gresik mendatangi para distributor di tiap daerah satu per satu.
PT. Semen Gresik harus mengeluarkan dana sekitar Rp 46 miliar lebih. Namun, biaya sebesar itu tidak hanya diperuntukkan bagi pembangunan sistem dan infrastruktur di Semen Gresik, tapi juga mencakup Semen Padang dan Semen Tonasa.
Anggaran Implementasi ERP di Grup Semen Gresik:
a.       Perangkat lunak JD Edwards termasuk lisensi: Rp 7,3 miliar.
b.      Perangkat keras (server & client), Database dan Jaringan: Rp 30 miliar.
c.       Jasa Konsultan: Rp 5,2 miliar.
d.      Pendidikan dan Latihan: Rp 2,9 miliar.
e.       Umum & Administrasi: Rp 800 juta.
f.        Tata Ruang: Rp 400 juta.
Dalam mengimplementasikan ERP di Semen Gresik, beberapa aspek teknis yang dilakukan oleh departemen Information Technology (IT) diantaranya :
1.      Mengimplementasikan sofware J.D.Edwards.
2.      Membangun sistem jaringan komputer (LAN/WAN).
3.      Membangun infrastruktur server dan database.
4.      Membangun tata ruang sistem informasi.
5.      Menyusun dokumentasi sistem.
Sedangkan aspek non teknis yang dipertimbangkan oleh departemen IT pada khususnya serta perusahaan pada umumnya dalam menyongsong implementasi ERP adalah :
  1. Komitmen manajemen agar implementasi berhasil sehingga yang dipertimbangkan tidak lagi apakah Software tersebut yang ”The Best”.
  2. Proses mapping dilakukan karena bisnis proses J.D.Edwards ternyata tidak sama dengan bisnis proses yang dijalankan Semen Gresik. Dari proses mapping ini ada dua kemungkinan yaitu bisnis proses semen Gresik mengikuti J.D.Edwards atau sebaliknya. Tahap selanjutnya yang dilakukan adalah mengkaji efek dalam jangka panjang dan pendek terhadap pemilihan bisnis proses yang akan dipakai. Sebagai contoh proses pengadaan barang diputuskan oleh Semen Gresik untuk mengikuti bisnis proses J.D.Edwards.
  3. Perubahan bisnis proses dan implementasi ERP menyebabkan perubahan-perubahan dalam struktur organisasi berupa bertambahnya job discription dan unit-unit kerja baru yang berfungsi untuk mendukung implementasi ERP.
  4. Aplikasi ”Change Management” untuk mengelola perubahan-perubahan yang terjadi dengan adanya implementasi ERP.

Untuk Kelanjutan isi makalah silahkan Download

Tuesday, 5 April 2011

Perilaku Keorganisasian (organizations : Behavior, Structure, processes)

Julian Cholse

Perilaku Keorganisasian (Organizational Behavior) :
Suatu bidang studi yang mempelajari dampak perilaku individu & kelompok, struktur organisasi, proses organisasi guna memperbaiki keefektifan organisasi

• Alasan didirikan organisasi karena tujuan tidak dapat dicapai secara perseorangan

• Jadi organisasi mengejar tujuan

• Oleh karena itu diusahakan supaya efektif dan efisien

Tiga hal yang harus diperhatikan :
o Keefektifan Individu
o Keefektifan Kelompok
o Keefektifan Organisasi

.......


Untuk Lebih Lengkapnya Silahkan

  1. Download
  2. Mirror Download


Keterangan :
1. Judul Buku : Organizations : Behavior, Structure, processes
2. Pengarang : Gibson/ Ivancevich/ Donnelly/ Konopaske

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Julian Cholse