Sunday, 1 July 2012

Segala Sesuatu akan Indah Pada Waktunya, Benarkah ?

Julian Cholse




Indah Pada Waktunya
Hampir semua dari kita yang pernah gagal sering mendengar kata motivasi di atas. Kalimat ini sering kali kita dengar ketika seseorang menghadapi tantangan hidup,  masalah dalam kehidupannya dan kalimat ini menjadi penghibur yang manjur bagi sebagian orang. Namun, jika kita salah mengartikan kalimat tersebut, maka kalimat tersebut akan menjadi bomerang bagi kita. Jika anda menyimak baik-baik kalimat penghibur di atas “Pada waktunya” ini dapat diartikan dengan menunggu.

Beberapa orang mengartikan kegiatan menunggu sebagai suatu kegiatan pasif, artinya tidak melakukan perubahan untuk mendapatkan keindahan tersebut. Dengan menunggu berarti kita hanya mengharapkan suatu mukjizat, berkat, dan mengharapkan hal-hal yang baik kepada diri kita tanpa melakukan ekstra effort.

Menunggu Bukan Berarti Pasif
Di benua eropa memiliki empat musim yaitu musim semi, panas, gugur, dan musim dingin. Pada negara-negara yang memiliki 4 musim umumnya memiliki masalah dengan waktu produktif. Mereka memiliki waktu produktif yang lebih sedikit dibandingkan negara-negara yang hanya memiliki 2 musim seperti Indonesia. Mengapa demikian? Musim dingin antara 3-4 bulan lebih, orang-orang pada saat itu tidak dapat melakukan pekerjaannya dengan baik karena faktor kemalasan karena suhu yang sangat dingin, jalanan ditutupi salju, dll.

Jadi, jika anda menghitung orang-orang di Indonesia memiliki waktu produktif 12 bulan sementara di Eropa hanya 7-8 bulan. Sekarang anda coba bayangkan jika anda menyalah artikan kata motivasi “segala sesuatu indah pada waktunya”. Orang tersebut tinggal di Eropa dan tidak melakukan apapun selama musim semi, panas dan musim gugur. Ia tidak menyimpan bahan makanan yang cukup selama musim dingin, tidak menyiapkan baju tebal, dan tidak mempunyai uang karena ia tidak bekerja selama musim semi, panas dan musim gugur. Kemudian, dengan polosnya anda berkata “ tenang saja, segala sesuatu akan indah pada waktunya”. Tentu saja apa yang anda tunggu tak akan kunjung tiba, karena menunggu bukan berarti pasif.

Manusia dan Tuhan melakukan bagiannya masing-masing, kita tidak akan mendapatkan keuntungan bila kita hanya mengharapkan keberuntungan datang dengan sendirinya. Untuk itu kata motivasi tersebut harus dilengkapi dengan “ Segala sesuatu indah pada waktunya, apabila kita menabur pada waktunya”. Apabila kita ingin memiliki musim dingin yang indah, maka anda harus bekerja secara maksimal pada musim semi, panas, dan gugur agar dapat memenuhi nafkah anda selama 3-4 bulan ke depan.

Tiga Hal yang Membuat Kita Menunggu Secara Pasif
Tiga hal tersebut antara lain, rasa takut, rasa malas, dan sikap pesimisme dalam diri seseorang

Rasa Takut
Setiap orang memiliki rasa takut, orang-orang sukses sekalipun memiliki rasa takut, sebagai contoh SBY yang sangat memiliki rasa takut untuk membuat keputusan karena takut akan citra buruknya jika keputusannya salah. Tuhan menciptakan rasa takut karena rasa itu membuta kita dapat bangkit jika kita menggunakannya secara tepat.

Pergi lihat mobil anda apakah ada sabuk pengaman? Atau lihat lampu merah dan rambu-rambu lalu lintas apakah masih berfungsi? Semua itu ada karena rasa takut mansia. Tuhan menciptakan rasa takut agar kita selalu waspada. Satu hal yang menjadi permasalahan adalah jangan sampai rasa takut tersebut membuat kita takut untuk mencoba, dan menunggu secara pasif.
Banyak orang berdalih, “saya belum sukses karena waktunya belum tepat” , saya harus menunggu sedikit lebih lama lagi. Jika anda menanti waktu yang tepat, sesungguhnya tidak ada waktu yang sempurna, yang ada hanya waktu yang mendekati sempurna, dan waktu itu adalah sekarang.

Rasa takut bisa menjadi kekuatan besar bagi manusia, dan motivator terbesar apabila anda mampu memberdayakan rasa takut anda. Salah satu cara untuk membuat rasa takut sebagai motivator anda adalah memberdayakan rasa takut anda dengan cara membalikkan rasa takut anda. Misalnya anda mengejar seorang wanita tapi anda takut untuk mengungkapkan perasaan anda karena takut ditolak, coba berdayakan rasa takut anda bayangkan apabila laki-laki lain mengungkapkan perasaannya kepada wanita pujaan hati anda, bayangkan jika wanita pujaan hati anda keburu masuk Take Me Out, apabila tidak anda nyatakan sekarang orang yang anda sayang akan hilang.

Rasa Malas
Untuk menghilangkan asap anda harus mencari sumbernya, demikian pula dengan rasa malas, anda harus mencari apa yang menjadi sumber rasa malas anda dan menemukannya.

Sumber dari rasa malas adalah prioritas. Orang malas adalah orang yang menentukan urutan prioritas. Sebutlah seorang yang berkonsultasi dengan dokter karena mengalami obesitas. Dokter ini mengatakan dia harus mengurangi makan dan olah raga setiap pagi. Kemudian orang ini membeli 5 alarm karena ia menyadari bahwa hanya gempa yang dapat membangunkannya.

Pada hari pertama ia memasang alarm pukul 5.00, alarm kedua dipasang 5.05, alarm ketiga dipasang 5.10 dan seterusnya. Pada pukul 5.00 alarm pertama berdering, ketika dilihatnya secara setengah sadar “hoammm masih pukul 05.00, 5 menit lagi”. Kemudian alarm kedua berdering “hoamm, masih lewat lima, 5 menit lagi” begite seterusnya hingga orang bersangkutan tidak dapat bangun pagi dan berolah raga.

Sesungguhnya orang dalam cerita tersebut tidaklah malas, orang ini hanya menentukan urutan prioritas. Orang ini memiliki prioritas untuk mebahagiakan badanya saja di masa sekarang. Dia mementingkan tidur-tiduran makan makanan yang enak daripada berolah raga, diet dan belajar keras. Coba anda bayangkan jika orang ini melakukan diet dan olahraga mungkin dia akan menjadi salah satu laki-laki yang tampan.

Oleh karena itu menentukan urutan prioritas itu sangat penting, misalnya membaginya menjadi Penting tetapi tidak mendesak, Mendesak tetapitidak penting, Tidak penting dan tidak mendesak, Penting dan mendesak. Saya kira anda sudah begitu paham mengenai pembagian prioritas tersebut, oleh karena itu tentukan prioritas hidup anda pada tempatnya.

Pesimisme
Orang-orang pesimisme sebenarnya adalah orang-orang yang sangat optimis. Hanya saja mereka salah menempatkan optimismenya. Orang pesimis adalah orang yang optimis bahwa ia akan gagal.

“Pak, saya yakin saya pasti gagal dalam kontes ini”, kata tersebut menunjukkan optimisme seseorang yang sangat kuat bahwa dia akan gagal, benar tidak? Oleh karena itu tempatkanlah optimismeanda pada tempat dan waktu yang tepat, maka saya yakin keberuntungan akan menyertai anda.

Ingat, anda tidak perlu menunggu waktu yang sempurna untuk berhasil. Karena menunggu waktu yang sempurna adalah kesia-siaan. Hal yang harus anda lakukan adalah menunggu secara proaktif. Karena cara terbaik dalam memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya. Segala sesuatu akan indah pada waktunya, bila kita menabur pada waktunya. Siapkahanda menabur itu sekarang ??


Salam

Julian Cholse


Referensi : The Science of Luck, Bong Candra

0 comments:

Post a comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Julian Cholse