Tuesday, 20 November 2012

Download Annual Report dan Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur Tahun 2008 - 2015

Julian Cholse


Kini Tersedia Versi Download untuk AR & LK
Diskon 10%+10% 

Diskon Tambahan 10% untuk Mahasiswa*
*Untuk mendapatkan diskon tambahan 10% wajib mengisi formulir pemesanan dan upload Scan/foto Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) di bawah atau  klik disini untuk info lebih lanjut.


Annual Report and Financial Report Manufaktur 2008-2015

Annual Report (AR) / Laporan tahunan merupakan laporan perkembangan dan pencapaian yang berhasil diraih organisasi dalam setahun. Data dan informasi yang akurat menjadi kunci penulisan laporan tahunan. Isi dari laporan tahunaun tersebut mencakup laporan keuangan dan prestasi akan kinerja organisasi selama satu tahun.

ICMD & AR-LK Compilation
Fungsi
Terdapat beberapa fungsi mendasar dari sebuah laporan tahunan yang dibuat oleh masing-masing perusahaan, yaitu sumber dokumentasi informasi perumsahaan tentang apa yang telah dicapai perusahaan selama setahun, sebagai alat pemasaran yang kreatif bagi perusahaan melalui integritas desain dan tulisan, menambah daya tarik perusahaan di mata konsumen, sebagai dokumen lengkap yang menceritakan secara mendetail kinerja perusahaan, beserta dengan neraca rugi laba perusahaan dalam setahun, serta memberikan gambaran mengenai tugas, peran, dan pekerjaan masing-masing bidang.

Resi Kiriman dan DVD ICMD, AR-LK Manufaktur, Financial Report
Nah Bagi Anda yang Membutuhkan Annual Report Perusahaan Manufaktur dari tahun 2008 – 2015, saya menyediakan datanya dengan cara pengiriman DVD. Berikut Rinciannya :

Klik Show Untuk melihat RESI PENGIRIMAN    Atau Download di Sini

                HARGA DIBAWAH BELUM TERMASUK DISKON 10% MAHASISWA

A. Paket DVD Annual Report dan Laporan Keuangan (AR-LK) Manufaktur


1.     Paket AR-LK Manufaktur 2010-2015 Rp300.000 disc 10% Rp270.000
2.     Paket AR-LK Manufaktur 2010-2014 Rp250.000 disc 10% Rp225.000
3.     Paket AR-LK Manufaktur 2008-2014 Rp350.000 disc 10% Rp315.000
4.     Paket AR-LK Manufaktur 2008-2015 Rp400.000 disc 10% Rp360.000
5.     Paket AR-LK Manufaktur Minimal 3 tahun Rp150.000 disc 10% Rp135.000


Catt :
a.       Khusus Mahasiswa dapatkan diskon tambahan 10%, info lebih lanjut klik disini.
b.   Harga di atas belum termasuk ongkos kirim. Pengiriman dengan menggunakan jasa ekspedisi TIKI.

Catt :
a.       Khusus Mahasiswa dapatkan diskon tambahan 10%, info lebih lanjut klik disini.
b.   Harga di atas belum termasuk ongkos kirim. Pengiriman dengan menggunakan jasa ekspedisi TIKI.


*Pengiriman dengan menggunakan jasa ekspedisi TIKI setiap senin-jumat pukul 21.00 wib. Untuk tarif pengiriman silakan cek di www.tiki-online.com (PENGIRIMAN DARI JAKARTA)

Pembayaran dapat dilakukan dengan metode transfer ke :
Nomor Rekening Pembayaran

Pemesanan Hubungi :
Telp /Sms/ Whatsapp : 0819856733
Pin BBM : D38912C8
Email : sales@juliancholse.com atau isi formulir di bawah ini (khusus diskon mahasiswa wajib isi formulir dan upload KTM)

Klik Show untuk Mengisi Formulir Pemesanan AR & LK  
 


Paket Download Annual Report dan Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur


Harga Baru Paket Download AR-LK Manufaktur 2008-2014 Pertahun Rp50.000, untuk Harga Paket mengikuti paket biasa.



Catt :
a.       Diskon khusus mahasiswa tidak berlaku di paket download.
b.       Harga di atas sudah all in.


Link Download Annual Report dan Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur --> Semua Server Download via Google Drive.


Tag : Annual Report, Laporan tahunan, download laporan tahunan, download annual report, Laporan Keuangan perusahaan manufaktur, download annual report perusahaan manufaktur, download laporan keuangan tahun 2008-2011, laporan keuangan, manufaktur

Monday, 19 November 2012

Financial Shenanigans

Julian Cholse

             
 Oleh : Julianto Manihuruk, S.E (Universitas Atma Jaya Yogyakarta)
Ilustration

A.   Pengertian

Financial Shenanigans merupakan tindakan yang sengaja dilakukan oleh manajemen untuk mendistorsi atau menyembunyikan atau mengubah kinerja atau kondisi finansial yang asli pada suatu entitas.

Tipe perusahaan yang paling mungkin melakukan Shenanigans adalah:
1.    Perusahaan dengan lingkungan pengendalian yang lemah
a.    Tidak ada anggota independen
Dalam hal ini misalkan dewan komisaris independen yang akan berpihak kepada kepentingan masyarakat (jika perusahaan publik).
b.    Kurangnya kompeten / independen auditor
c.    Fungsi audit internal yang tidak memadai
2.    Manajemen yang menghadapi tekanan kompetitif ekstrim 
3.    Newly-public companies
4.    Privately held companies

Untuk mendeteksi terjadinya Shenanigans dapat menggunakan petunjuk sebagai berikut :

1.      Manajemen yang tidak jujur
2.      Kontrol atau pengendalian lingkungan yang tidak memadai
3.      Perubahan auditor, konsultan hukum di luar, atau CFO
4.      Mengubah prinsip akuntansi 
5.      Large deficit of CFFO relative to net income
6.      Adanya perbedaan yang besar antara penjualan dan piutang
7.      Adanya perbedaan yang besar antara penjualan dan persediaan
8.      Besarnya kenaikan atau penurunan gross margin
9.      Mencatat pendapatan when risks remain dengan penjual
10.  Adanya komitmen dan kontinjensi


B.   Teknik Financial Shenanigans

Berikut ini adalah tujuh kategori teknik financial shenanigans yang biasa digunakan:
1. Mencatat pendapatan terlalu dini, misalnya:
a.    Mencatat pendapatan padahal masih banyak aktivitas layanan yang belum dilakukan
b.    Mencatat pendapatan dari item yang belum dikirimkan
c.    Mencatat pendapatan dari item yang belum diterima klien
d.    Mencatat penjualan yang dilakukan dengan afiliasi
e.    Mencatat pendapatan

2. Megakui pendapatan fiktif, misalnya:
a.    Mencatat penjualan tanpa alasan
b.    Mengklasifikasikan hasil dari investasi sebagai pendapatan
c.    Mencatat kas yang diperoleh dari transaksi pinjam meminjam sebagai pendapatan
d.    Mencatat diskon dari supplier sebagai pendapatan

3. Menciptakan transaksi khusus untuk memperoleh gain, misalnya:
a.    Menjual aset yang undervalue untuk meraih laba
b.    Menjual investasi dan memperoleh gain, kemudian mencatatnya sebagai pendapatan
c.    mengklasifikasi ulang sejumlah akun di neraca untuk menciptakan pendapatan

4. Tidak mencatat ataupun mengurangi utang secara tepat, misalnya:
a.    tidak memasukkan beban dan utang yang terkait
b.    memodifikasi asumsi demi menurunkan utang
c.    tidak mencatat unearned revenue

5. Mengalihkan beban saat ini ke periode lampau ataupun masa depan, misalnya:
a.    mereklasifikasi capitalized cost menjadi beban operasi
b.    meningkatkan umur aset untuk mengurangi beban amortisasi
c.    mengurangi asset reserve
d.    tidak mencatat aset yang nilainya sudah jatuh (impaired)
e.    mengubah praktik akuntansi untuk mengalihkan beban saat ini ke periode sebelumnya..
f.     mengubah asumsi akuntansi untuk menurunkan utang yang terlapor
g.    tidak mencatat unearned revenue

6. Menahan pendapatan saat ini untuk periode masa depan, misalnya
a.    meningkatnya allowance terhadap kredit macet
b.    meningkatnya garansi dan retur

7.Mengalihkan beban yang akan datang ke periode sekarang, misalnya:
a.    menggelembungkan one time charge
b.    meningkatkan beban untuk R&D, iklan, dan sebagainya
c.    mengakui beban yang akan memberikan manfaat ekonomis bagi perusahaan, seperti R&D, iklan dan sebagainya.


C. Teknik Financial Shenanigans yang Paling Berbahaya

Pada dasarnya, secara garis besar terdapat dua strategi utama dalam melakukan financial shenanigans, yakni menggelembungkan pendapatan, serta menyusutkan pendapatan. Menggelembungkan pendapatan dianggap punya dampak yang lebih serius, karena tidak merefleksikan kinerja perusahaan yang sebenarnya, atau seolah-olah lebih baik. Sementara, menyusutkan pendapatan tidak bermasalah, karena itu merupakan salah satu bentuk dari earnings management.
Atas dasar pertimbangan tersebut dan berdasarkan tujuh jenis  financial shenanigans diatas maka kelompok dapat mengatakan teknik yang paling berbahaya adalah pengakuan pendapatan fiktif. Karena dengan demikian seolah-olah kinerja perusahaan terkait adalah baik dan investor akan terkelabuhi oleh hal tersebut, baik yang dimaksud seolah-olah perusahaan menpunyai pendapatan yang besar padahal tidak, jika hal ini berlanjut maka bisa dikatakan tujuan perusahaan untuk Going Concern tak akan terpenuhi. Memang pada dasarnya pergeseran pengakuan pendapatan (mengakui lebih awal, menahan,  mengakui lebih cepat) juga berbahaya namun pada poin ini kelompok menilai bagaimanapun pendapatan itu tetap terjadi hanya beda waktu pengakuan dan tidak ada pengurangan pendapatan, walaupun memang hal ini mengindikasikan keburukan manajemen (Ingat kasus Xerox pada laporan keuangan 1997-2000 menggeser waktu pengakuan pendapatan yang berakibat pada penurunan harga sahamnya). Pada intinya adalah perusahaan mengakui apa yang memang menjadi haknya sementara dalam pengakuan pendapatan fiktif perusahaan mengakui yang bukan menjadi haknya bahkan mengelompokkan beberapa akun yang salah, misalnya Mencatat kas yang diperoleh dari transaksi pinjam meminjam sebagai pendapatan. Ketika suatu perusahaan melakukan hal ini maka seolah-olah rasio Debt to Equity Ratio (DER) perusahaan adalah baik yang artinya kreditur akan terkecoh akan keputusan investasinya.
Berikut ilustrasinya :

“DER PT Mundur Maju 1.23 kali, kondisi ini terjadi ketika perusahaan mengakui utang sebagai pendapatan. Padahal seharusnya DER perusahaan 0.90 kali. Artinya ketika investor melihat hasil yang pertama dengan DER 1.23 kali ada kemungkinan investor akan melakukan investasi ke PT Mundur Maju tersebut karena setiap 1 satuan utang akan dijaminkan dengan 1.23 satuan aktiva walau memang rasio yang baik menurut beberapa penelitian adalah 1:2. Jika investor mengetahui hasil sebenarnya dengan DER 0.90 kali kemungkinan investor untuk melakukan investasi kecil, jika pun ada pastinya dengan tingkat pengembalian yang cukup besar karena memiliki risiko yang besar.”

Sama halnya dengan perbedaan pengakuan pendapatan, perbedaan waktu pengakuan beban juga kelompok anggap tidak terlalu berbahaya, karena biasanya beberapa perushaan juga sampai sekarang menggunakan teknik-teknik ini untuk pengakuan bebannya, misalkan melakukan iklan besar-besaran di akhir tahun demi mengecilkan pendapatan tahun ini yang berujung pada penurunan laba dan pajak yang kecil. Bagaimanapu juga nantinya beban tersebut akan diakui oleh perusahaan yang menjadi pembeda adalah waktu pengakuan.
Demikian adalah beberapa teknik financial shenanigans yang umum dipraktekkan oleh perusahaan. Analis maupun investor perlu lebih jeli dalam memperhatikan kemungkinan dijalankannya praktek-praktek seperti ini.  



Tag : financial Shenanigans, Teknik Financial Shenanigans, Teknik Financial Shenanigans yang Paling Berbahaya, Teknik Financial Shenanigans Berbahaya

Thursday, 25 October 2012

Asistensi Akuntansi Pengantar I (Pertemuan V)

Julian Cholse







 Akuntansi  Pengantar   I

Dosen               : YB. SIGIT HUTOMO, Drs., MBAcc., Akt.

Asisten              : Julian Cholse Manihuruk

Kelas                : H, L dan R

Pertemuan        : Kedua



SETIAP ASISTENSI HARAP MEMBAWA BUKU PAKET PA 1 ANDA.


                                                              Klik



CATT : ASISTENSI DI ADAKAN SETIAP MINGGU, KECUALI ADA 

PEMBERITAHUAN PEMBATALAN AKAN DI UMUMKAN LEBIH LANJUT

tHX

Preview :


Tuesday, 2 October 2012

Asistensi Akuntansi Pengantar I (Pertemuan IV)

Julian Cholse






 Akuntansi  Pengantar   I

Dosen               : YB. SIGIT HUTOMO, Drs., MBAcc., Akt.

Asisten              : Julian Cholse Manihuruk

Kelas                : H, L dan R

Pertemuan        : Kedua



SETIAP ASISTENSI HARAP MEMBAWA BUKU PAKET PA 1 ANDA.


                                                              Klik



CATT : ASISTENSI DI ADAKAN SETIAP MINGGU, KECUALI ADA 

PEMBERITAHUAN PEMBATALAN AKAN DI UMUMKAN LEBIH LANJUT

tHX

Preview :

Wednesday, 19 September 2012

Asistensi Akuntansi Pengantar I (Pertemuan III)

Julian Cholse





 Akuntansi  Pengantar   I

Dosen               : YB. SIGIT HUTOMO, Drs., MBAcc., Akt.

Asisten              : Julian Cholse Manihuruk

Kelas                : H, L dan R

Pertemuan        : Ketiga


ASISTENSI UNTUK HARI JUMAT TANGGAL 21 SEPTEMBER DI 


TIADAKAN


SOAL DARI BUKU FINANCIAL ACCOUNTING  (BUKU PAKET PA 1 

ANDA)

DAN MEMBAHAS SOAL PERTEMUAN KEDUA.

MATERI LES, MEMAHAMI BUKU BESAR DAN NERACA SALDO





CATT : ASISTENSI DI ADAKAN SETIAP MINGGU, KECUALI ADA 

PEMBERITAHUAN PEMBATALAN AKAN DI UMUMKAN LEBIH LANJUT

tHX


Friday, 14 September 2012

ETHICS AND CORRUPTION ACT (Etika dan Tindakan Korupsi)

Julian Cholse


Meninjau Korupsi dari Segi Etika Bisnis

A.    LATAR BELAKANG
Etika dalam kehidupan sosial
Akhir-akhir ini masalah korupsi sedang hangat-hangatnya dibicarakan publik, terutama dalam media massa baik lokal maupun nasional. Banyak para ahli mengemukakan pendapatnya tentang masalah korupsi ini. Pada dasarnya, ada yang pro ada pula yang kontra. Akan tetapi walau bagaimanapun korupsi ini merugikan negara dan dapat meusak sendi-sendi kebersamaan bangsa. karena dapat menjadi suatu  “benalu sosial” yang merusak struktur pemerintahan, dan menjadi penghambat utama terhadap jalannya pemerintahan dan pembangunan pada umumnya.
Dalam prakteknya, korupsi sangat sukar bahkan hampir tidak mungkin dapat diberantas yang disebabkan  sulitnya memberikan pembuktian-pembuktian yang eksak. Disamping itu sangat sulit mendeteksinya dengan dasar-dasar hukum yang pasti. Namun akses perbuatan korupsi merupakan bahaya latent yang harus diwaspadai baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat itu sendiri.
Korupsi tidak hanya dilakukan oleh perusahaan pemerintah tetapi juga dilakukan oleh perusahaan swasta, salah satunya adalah kasus tentang dugaan korupsi mengenai proyek pemulihan lahan bekas tambang minyak atau bioremediasi  dari tahun 2003-2011 di PT Chevron Pasific Indonesia (CPI), Riau, dengan nilai kerugian negara mencapai US$ 270 juta
Proyek bioremediasi merupakan bagian dari proyek kerja sama eksplorasi pertambangan antara PT Chevron dan BP Migas. Dalam proyek bioremediasi tersebut  PT Chevron menggandeng PT Green Planet dan PT Sumigita sebagai pelaksana. Prosesnya ada yang melalui tender dan penunjukkan langsung.
Sistem anggaran dalam proyek tersebut menggunakan cost recovery. Kedua perusahaan ini diminta melaksanakan proyek terlebih dahulu sementara pembayarannya diajukan atau diklaimkan ke BP Migas sebagai cost recovery PT Chevron selama rentang waktu 2003 sampai 2011.

Akan tetapi, saat melakukan kegiatan pengadaan proyek Bioremediasi,  PT Green Planet Indonesia dan PT Sumigita Jaya sebagai pihak ketiga, tidak memenuhi klasifikasi teknis dan sertifikasi dari pejabat berwenang sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan limbah. Kedua perusahaan tersebut hanya perusahaan atau kontraktor umum saja sehingga dalam pelaksanaannya, proyek tersebut adalah fiktif belaka (tidak dikerjakan). Namun di sisi lain  dana proyek  terus diklaimkan ke negara melalui BP Migas.
Setelah mendalami dan menyelidiki kasus ini, pada tanggal 16 Maret 2012, Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan tujuh orang sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi  proyek yang berada di Riau ini. Lima orang dari PT Chevron Pacific Indonesia sedangkan dua lainnya dari kontraktor. Lima tersangka dari Chevron adalah Alexiat Tirtawidjaja (AT), Widodo (WD), Kukuh (KK), Endah Rubiyanti (ER) dan Bachtiar Abdul Fatah (BAF). Sementara itu, dua tersangka dari perusahaan lain adalah Ricksy Prematuri (RP) selaku Direktur perusahaan kontraktor PT Green Planet Indonesia dan Herlan (HL) selaku Direktur PT Sumigita Jaya.
Namun, di sisi lain, pihak PT Chevron Pasific Indonesia menampik anggapan yang dilontarkan oleh  Kejagung tersebut. Mereka menegaskan bahwa proyek tersebut benar-benar dilakukan dan hanya secara kasat mata memang tidak terlihat karena memproses tanah bekas tambang berbeda dengan proyek umumnya.
Oleh karena itu, kami akan membahas mengenai  kasus dugaan  korupsi yang dilakukan oleh PT Chevron Pasific Indonesia dengan mengkaitkannya melalui etika bisnis yang ada di Indonesia.


B.     ANALISIS
Dilihat dari definisi korupsi, Kartono (1983) memberi batasan korupsi sebagi tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan pribadi,merugikan kepentingan umum dan negara. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi merupakan suatu tindak penyelewengan atau penggelapan uang negara atau perusahaan untuk kepentingan pribadi atau orang lain. Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsur-unsur sebagai berikut, yaitu perbuatan melawan hukum, penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana prasarana yang ada, memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi dan merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Selain itu, menurut Wijayanto, Ridwan Zachrie (2009) terdapat beberapa jenis tindak pidana korupsi, diantaranya: penggelapan dana, pemerasan,  pemberian atau penerimaan hadiah atau janji (penyuapan), penggelapan dalam jabatan, pemerasan dalam jabatan, ikut serta dalam pengadaan dan penerimaan gratifikasi (bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara) dan benturan kepentingan dalam pengadaan.
Korupsi yang telah merajalela dan tumbuh subur di banyak perusahaan didasari oleh adanya pelanggaran etika yang ada di berbagai tempat termasuk di dalam dunia bisnis.  Oleh karena itu, dapat dijelaskan terlebih dahulu mengenai etika.Menurut Bartens (2000), etika mempunyai arti yaitu kebiasaan, akhlak atau watak. Etika bisnis berkaitan dengan berbagai hal berikut :
  perilaku yang baik dan buruk atau benar dan salah yang terjadi dalam konteks bisnis (Carroll dan Buchholtz, 2006)
  Pengetahuan tentang tata cara ideal pengaturan dan pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku secara universal dan secara ekonomi/sosial, dan penerapan norma dan moralitas ini menunjang maksud dan tujuan kegiatan bisnis (Muslich,1998:4).
  Batasan-batasan sosial, ekonomi, dan hukum yang bersumber dari nilai-nilai moral masyarakat yang harus dipertanggungjawabkan oleh perusahaan dalam setiap aktivitasnya (Amirullah & Hardjanto,
Apabila dikaitkan antara teori-teori mengenai korupsi dan etika bisnis, dapat menunjukkan bahwa kasus tersebut merupakan suatu tindak korupsi yang dilakukan oleh PT Chevron Pasific Indonesia, PT Green Planet Indonesia dan PT Sumigita Jaya, dimana ketiganya memiliki kesempatan untuk menyalahgunakan kekuasaan (abuse of power) yang berakibat pada kerugian bagi kepentingan public dan negara  untuk memperoleh keuntungan pribadi dan korporasi masing-masing.
Korupsi yang telah dilakukan oleh ketiga perusahaan tersebut termasuk jenis tindak pidana korupsi penggelapan dana, karena tidak dilaksanakannya  proyek bioremediasi dengan semestinya serta dana proyek yang digunakan sebagai cost recovery tetap diklaim oleh ketiga perusahaan tersebut ke negara melalui pihak BP Migas.
Dalam kasus tersebut, korupsi yang dilakukan oleh perusahaan yang menurut Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dapat disebabkan adanya hal berikut : kurang adanya sikap keteladanan pimpinan, tidak adanya budaya organisasi yang benar, kelemahan sistem pengendalian manajemen, manajemen cenderung menutupi korupsi di dalam organisasi, dan nilai-nilai di lingkungan organisasi kondusif untuk terjadinya korupsi karena dugaan korupsi di tubuh Chevron ini sebenarnya hanya satu dari deretan dugaan penyelewengan yang ada. Seperti masalah Proyek Modifikasi Stasiun Pengumpul alias Gathering Station Modification(GSM) senilai lebih dari 23,8 juta dolar AS, tetapi total duit proyek modifikasi yang dilaporkan hampir 34 juta dolar AS, proyek listrik PT. Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN) anak perusahaan Chevron yang membikin negara rugi sebesar 210 juta dolar AS.
Korupsi dan etika bisnis menjadi dua istilah yang saling berhubungan. Etika Bisnis menjadi standar dan pedoman bagi seluruh karyawan termasuk manajemen dalam suatu organisasi untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari dengan dilandasi moral yang luhur, jujur, transparan dan sikap yang profesional. Perusahaan meyakini prinsip bisnis yang baik adalah bisnis yang beretika, yakni bisnis dengan kinerja unggul dan berkesinambungan yang dijalankan dengan mentaati kaidah-kaidah etika sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
Oleh karenanya, korupsi yang dilakukan oleh PT Chevron Pasific Indonesia, PT Green Planet Indonesia dan PT Sumigita Jaya merupakan perbuatan yang sangat mencoreng etika dalam berbisnis, karena dalam Etika bisnis tidak mengajarkan seseorang untuk melakukan tindak pidana korupsi yang sangat jelas merugikan semua pihak dimana dalam kasus ini sangat merugikan berbagai pihak yaitu  negara,  karena telah mengeluarkan uang sebesar US$ 270 juta  guna mendukung proyek tersebut, masyarakat, karena gagalnya pemulihan lahan bekas tambang minyak, bahkan  sang pelaku korupsi itu sendiri, karena hilangnya kepercayaan masyarakat dan pemerintah sehingga menyebabkan adanya gangguan terhadap penanaman modal untuk jangka waktu mendatang.
Oleh karena itu, ketiga perusahaan yang menjadi tersangka terkait kasus korupsi tersebut harus memiliki dan mengembangkan nilai-nilai perusahaan (corporate values) yang dapat menggambarkan sikap moral perusahaan dalam pelaksanaan usahanya dengan menerapkan etika bisnis secara konsisten sehingga dapat terwujud iklim usaha yang sehat, efisien, dan transparan.


C.     KESIMPULAN

Dengan adanya kasus dugaan tindakan korupsi yang dilakukan oleh PT Chevron Pasific Indonesia, PT Green Planet Indonesia dan PT Sumigita Jaya terhadap BP Migas menjadi sebuah tanda bahwa etika bisnis masih belum dilaksanakan dengan baik. Karena untuk membangun Indonesia bebas dari korupsi, diperlukan sebuah etika. Penanaman etika ini bertujuan agar tindakan korupsi tidak dijadikan warisan budaya bangsa dan organisasi. Pemikiran ini, merupakan  sebuah langkah yang tepat untuk memperbaiki negeri ini, dalam memerangi korupsi.  Jika penanaman etika ini terbentuk, maka akan terciptanya penegakan hukum dan kesejahteraan bagi rakyat. Korupsi yang terjadi selama ini, telah menghancuran sendi-sendi kehidupan, bukan hanya sebatas  perekonomian dan bisnis semata, tetapi mampu merubah budaya yang ada di masyarakat

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Julian Cholse